Setiap tanggal 20 Mei, bangsa ini kembali memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) Spanduk dipasang, pidato dibacakan, lalu status media sosial ramai dengan kalimat heroik: “Bangkit Indonesiaku!” Setelah itu, sebagian kembali rebahan sambil menggulir layar tanpa arah selama tiga jam.
Barangkali inilah bentuk kebangkitan paling kontemporer: bangun tidur, buka ponsel, lalu tidur lagi sambil memeluk notifikasi.
Tema Hari Kebangkitan Nasional 2026, “Jaga Tunas Bangsa demi Kedaulatan Negara,” sebenarnya terdengar sangat serius. Tetapi justru karena terlalu serius, kita kadang lupa melihat kenyataan dengan jujur bahwa tunas bangsa hari ini sedang tumbuh di tengah hutan algoritma.
Anak-anak sekarang belum lancar menghafal sila Pancasila, tetapi sudah hafal nama influencer luar negeri. Belum tentu tahu siapa tokoh Budi Utomo, tetapi sangat tahu kapan idolanya live streaming. Mereka bisa kehilangan charger lebih panik daripada kehilangan buku pelajaran.
Dan yang lebih menarik, dulu anak kecil kalau ditanya cita-cita ingin jadi dokter, guru, atau tentara. Sekarang banyak yang menjawab ingin jadi “konten kreator.” Bukan karena salah, tetapi karena zaman memang sedang berubah. Masalahnya, jangan sampai yang berkembang hanya kontennya, sementara karakternya tertinggal.
Kita hidup di era yang aneh. Informasi tersedia tanpa batas, tetapi perhatian manusia justru makin pendek. Orang bisa menonton video satu menit tentang teori konspirasi lalu merasa lebih pintar daripada profesor yang meneliti puluhan tahun. Yang viral dianggap benar, yang mendalam dianggap membosankan.
Padahal bangsa besar tidak dibangun dari scrolling, tetapi dari kesadaran.
Di sinilah tema “Jaga Tunas Bangsa demi Kedaulatan Negara” menjadi sangat penting. Sebab ancaman terhadap negara hari ini bukan cuma soal batas wilayah atau kekuatan senjata. Ancaman terbesar justru bisa datang ketika generasinya kehilangan arah, malas berpikir, mudah diadu domba, dan lebih percaya potongan video TikTok daripada membaca penjelasan utuh.
Bayangkan kalau generasi muda kita kuat secara teknologi tetapi lemah secara moral. Pintar membuat konten tetapi tidak mampu membedakan kebenaran dan sensasi. Rajin bermain gim perang tetapi malas berjuang dalam kehidupan nyata. Negara mungkin tetap berdiri, tetapi perlahan kehilangan kualitas manusianya.
Itulah sebabnya menjaga tunas bangsa tidak cukup hanya memberi mereka sekolah dan kuota internet. Mereka juga perlu diajarkan etika, daya kritis, empati sosial, dan kemampuan berpikir jernih. Sebab pendidikan bukan sekadar urusan nilai rapor, tetapi urusan bagaimana membentuk manusia yang tidak mudah tersesat di tengah kebisingan zaman.
Sayangnya, kadang orang dewasa juga memberi contoh yang membingungkan. Anak diminta tidak bermain ponsel saat makan, tetapi ayah-ibunya sibuk memotret makanan sebelum dimakan. Anak diminta rajin membaca, sementara orang tuanya lebih rajin membaca komentar netizen daripada membaca buku.
Lalu kita heran kenapa generasi muda lebih dekat dengan Wi-Fi daripada dengan keluarga.
Karena itu, menjaga tunas bangsa sesungguhnya dimulai dari hal-hal kecil: cara orang tua berbicara di rumah, cara guru memperlakukan murid, cara pemimpin memberi teladan, hingga cara masyarakat menjaga ruang publik agar tidak dipenuhi kebencian dan kegaduhan.
Sebab anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari tontonan kehidupan sehari-hari.
Kebangkitan nasional di era sekarang tidak cukup hanya mengenang sejarah perjuangan masa lalu. Kita perlu kebangkitan baru: kebangkitan akal sehat. Bangkit dari budaya instan. Bangkit dari kemalasan berpikir. Bangkit dari kebiasaan merasa paling benar hanya karena punya akun media sosial dan paket data unlimited.
Kalau dulu penjajahan datang dengan kapal perang, sekarang ia datang lewat layar kecil di genggaman. Ia masuk perlahan melalui ketergantungan, konsumerisme, hoaks, dan budaya viral yang membuat manusia sibuk mencari perhatian tetapi lupa mencari makna.
Maka menjaga tunas bangsa hari ini berarti menjaga kemampuan mereka untuk tetap menjadi manusia — manusia yang bisa berpikir, merasa, membaca, berdialog, dan mencintai bangsanya dengan akal sehat.
Sebab kalau generasi muda hanya tumbuh menjadi konsumen hiburan tanpa kedalaman karakter, kita mungkin akan punya negara yang modern, tetapi kehilangan peradaban.
Dan itu jauh lebih berbahaya daripada sekadar baterai ponsel tinggal satu persen.





