Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

 


 


Ayo Bangkit Walau Masih Ada COVID-19


Oleh: Dr E Handayani Tyas 
(Dosen FKIP & Magister Administrasi Pendidikan Pascasarjana UKI Jakarta)

Ayo kita bangkit walau pandemi covid-19 masih menghimpit. Baik bekerja dari rumah secara on line, bekerja di kantor secara off line, maupun belajar dari rumah (learning from home) tetaplah bahagia

Masih berapa lama lagi aku harus menunggu pergimu hai covid-19? Haruskah aku diam terpaku tidak berdaya? Atau aku bangkit dan segera menyusun strategi hidup (strategy of life) dengan berpikir kreatif dan inovatif.  Sedang waktu berputar terus tak mungkin bisa di rem/dihentikan. Itulah roda kehidupan yang harus kita jalani dan harus kita isi dengan hal-hal baik dan berguna bagi diri sendiri dan juga bagi sesama.

Tak kurang-kurang usaha pemerintah untuk mengayomi rakyatnya, selalu mengingatkan untuk membiasakan hidup dengan 5 M, yaitu (1) Mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir; (2) Memakai masker; (3) Menjaga jarak; (4) Menjauhi kerumunan dan (5) Membatasi mobilitas). Menerapkan PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) bahkan sampai dalam skala mikro, pemberian vaksinasi kepada seluruh rakyatnya, memberi kemudahan-kemudahan dalam berbagai urusan, seperti antara lain dengan membangkitkan UMKM, dan masih banyak lagi.

Diyakini bahwa jika kesehatan pulih, maka ekonomi bangkit dan kehidupan bisa kembali normal seperti dulu lagi. Kegairahan kerja akan menepis kondisi krisis dan bayang-bayang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) yang mengerikan itu. Oleh karena itu, sengaja penulis memberi judul sebagaimana tertera di atas dan berangkat dari teori yang dikemukakan oleh Stephen R. Covey dengan Seven Habit nya yang ditulis dalam bukunya yang sangat terkenal, yakni: The Seven Habit of Highly Effective People (Tujuh Kebiasaan Manusia Yang Paling Mangkus).

Walaupun teori tersebut sudah digaungkan sejak lama namun, penulis merasa tetap cocok untuk diterapkan sampai kini dan seterusnya. Adapun tujuh kebiasaan yang dimaksud beliau itu adalah: (1) Pro-aktif; (2) Berorientasi pada tujuan; (3) Skala prioritas; (4) Berpikir menang-menang; (5) Memahami dulu – baru dipahami; (6) Sinergi; (7) Mengasah mental gergaji. Butir-butir tersebut dapat diuraikan/dijelaskan masing-masingnya sebagai berikut:

Pro-aktif; tindakan pro-aktif seseorang sangat dibutuhkan, manusia tidak boleh hidup pasif, selalu berusaha dan bahkan tidak cukup dengan usaha yang biasa-biasa saja, melainkan ia harus memiliki paradigma ‘walaupun’ dan bukan ‘jika’.

Berorientasi pada tujuan; tanpa tujuan yang jelas manusia pasti akan mengalami kesulitan dalam merealisasikan tujuan hidupnya/cita-citanya. Jadi kalau tujuan itu tidak ‘solid’ maka bersiaplah untuk menuai ke ‘sulit’an.

Skala prioritas; tentu saja kita harus bekerja dengan urut-urutan dan menentukan mana yang harus terlebih dulu dikerjakan baru kemudian dilanjutkan pada urutan  seterusnya sampai tuntas.

Berpikir menang-menang; dalam menjalin kerjasama maka pergunakanlah semboyan I OK and You OK, maksudnya jangan mau menang sendiri dan  merugikan yang lain, karena sudah tentu tidak akan ada yang mau.

Memahami dulu, baru dipahami; itulah yang terbaik karena jika orang maunya dipahami terus dan tidak mau memahami, dapat dipastikan orang tersebut akan kehilangan teman, sedang manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial, ia tidak mungkin dapat hidup sendirian (interdependensi).

Sinergi; sinergi dapat dipahami sebagai menyatukan kekuatan satu sama lain sehingga menjadi suatu kekuatan baru, berbagi kompetensi, bekerjasama yang saling menguntungkan (simbiosis mutualistis).

Mengasah mental gergaji; yang dimaksudkan di sini adalah siap untuk belajar terus sepanjang hayat, karena dengan belajar manusia akan menjadi lebih pintar dan bijak (lifelong learning).

Apabila seorang telah berhasil sampai butir ke tiga, maka ia sudah mengalami ‘kemenangan pribadi’ (privat victory), dan selanjutnya jika seseorang telah mencapai butir empat, lima dan enam maka ia sudah mengalami ‘kemenangan umum’ (public victory). Namun, selanjutnya manusia harus tetap belajar karena ilmu pengetahuan itu akan senantiasa berkembang terus.

Dunia pendidikan yang terdampak pandemi dan krisis digitalisasi tidak harus menyerah (never give up), tidak mudah memang tetapi bisa diawali dengan bertindak pro aktif (be pro active) suatu tindakan yang lebih dari sekedar aktif, saling mendukung dan saling percaya. Antara pendidik dan peserta didik, baik itu guru/dosen maupun siswa/mahasiswa teruslah untuk saling membangkitkan semangat, perjuangan untuk meraih cita-cita belum selesai.

Stephen R Covey pun telah menambahkan dan merumuskannya dengan kebiasaan (habit) yang ke delapan, dalam bukunya “Melampaui efektivitas dan menggapai keagungan” (“Beyond effectiveness and greatness achievement”) yaitu, dengan 4 P nya yang sangat terkenal: (1) Panutan; (2) Perintis jalan; (3) Penyelaras; (4) Pemberdaya. Maknanya, sebagai pemimpin/pendidik kita harus dapat dianut/diteladani oleh para peserta didik; sebagai perintis jalan, hendaknya setiap insan pendidik mampu berkreasi dan berinovasi dalam mengampu (membuat dan menyajikan) pembelajaran dengan menarik dan menyenangkan (joyfull learning); sebagai penyelaras hendaknya setiap pendidik mampu bersinergi dengan peserta didik, orangtua peserta didik dan masyarakat lingkungan, berintegritas (dalam setiap kata dan tindakan); sedangkan sebagai pemberdaya hendaknya setiap pendidik mampu memberdayakan peserta didiknya (memberi daya/kekuatan/memotivasi) dengan sabar dan tekun.

Oleh karena itu, ayo kita bangkit walau pandemi covid-19 masih menghimpit. Baik bekerja dari rumah secara on line maupun bekerja di kantor secara off line, maupun belajar dari rumah (learning from home) tetaplah bahagia dengan menerapkan prinsip-prinsip tujuh kebiasaan manusia yang paling mangkus sebgaimana telah dibahas di atas. Mari kita ciptakan iklim kerja dan atau iklim belajar yang kondusif yang memberi kebahagiaan yang mampu mengombinasikan kerja sama secara efektif (mangkus) dengan kemampuan berkordinasi dan berkolaborasi serta lakukan komunikasi yang sebaik mungkin niscaya Indonesia maju dan sejahtera semua rakyatnya. 

Posting Komentar untuk "Ayo Bangkit Walau Masih Ada COVID-19"