![]() |
| Rayi Sukma, Ketua DPW IPJI Provinsi Banten, saat memberi keterangan kepada para jurnalis di Kota Serang, Banten. (Foto:Hendra) |
SERANG (wartamerdeka.info) - Era teknologi internet tak dapat di bendung memasuki kehidupan masyarakat sehari-hari yang berpotensi melemahkan daya pikir di kalangan anak-anak sekolah.
"Saya apresiasi adanya surat edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten yang melarang adanya kegiatan menggunakan handphone di sekolah," kata Rayi Sukma, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI) Provinsi Banten, di kantor Sekretariat DPW IPJI Banten, Kota Serang, Selasa (3/2/2025).
Menurut Rayi, proses belajar mengajar itu selama waktu sekolah harus terkonsentasi, tidak ada gangguan berfikir yang lain di luar materi pelajaran baik murid maupun guru.
"Pihak guru, lebih baik banyak lakukan diskusi di ruang guru bersama guru lainnya. Jangan enak-enakan buka medsos," tandas Rayi Sukma.
Menurut Rayi, dirinya tidak memungkiri adanya konten ilmu pengetahuan di internet, sehubungan dengan pelajaran di sekolah, tetapi itu bisa dilakukan setelah selesai tugas mengajar.
![]() |
| Sumber: educationshop.id |
Ada kekhawatiran, lanjut Rayi Sukma, para murid jadi malas untuk mengingat pelajaran yang disampaikan guru-gurunya. Selain itu, budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia memengaruhi pola pikir anak-anak murid.
Rayi Sukma sangat mendukung surat edaran dilarang gunakan handphone di area sekolah. "Kami siap menjelaskan resiko fatal bagi mereka yang menggunakan hp saat konsentrasi belajar," kata Rayi.
Rayi menjelaskan, pihaknya mengapresiasi surat edaran Disdikbud karena punya tanggung jawab moril sebagai penulis dan jurnalis yang sedang berupaya agar masyarakat lekat dengan budaya menulis dan terlindungi dari berita menyesatkan.
"Jangan di satu sisi kami menangkal hoax atau berita sesat dan gemar menulis dikalangan pelajar tetapi di sisi lain malah para pendidik membiarkan murid gunakan hp dan gurunya juga harus mencontohkan tidak gunakan hp di lingkungan sekolah," tegas Rayi Sukma.
Rayi menjelaskan, pihak IPJI selama ini selalu membantu para murid untuk membuat kreasi penulisan agar merangsang murid fokus pada pelajaran.
"Kami sudah melatih murid sekolah menengah atas di Banten. Tak kurang dari 600 murid yang mengikuti pendidikan dan latihan di 17 sekolah SMA dan SMK," jelas Rayi.
Walaupun terpaksa menggunakan handphone, tetapi itu bagian dari pelajaran di sekolah, bukan individu yang tidak jelas penggunaannya.
Tidak itu saja, Rayi Sukma juga mengimbau kalangan wali murid agar melarang anaknya membawa handphone ke sekolah.
"Sayang anak sangat dianjurkan, tetapi bila membiarkan anak untuk tidak konsentrasi belajar sama saja bohong," ujar Rayi, yang berharap jangan ada lagi kesalahan selalu ditujukan pada para guru. (Hendra)

