Tujuh anggota OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia, akan meningkatkan produksi sebesar 188.000 barel per hari. // Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Lapar Bukan Sekedar Urusan Perut (2)

Oleh: Kamaruddin Hasan

Ramadhan selalu datang dengan cara yang unik: ia tidak mengetuk pintu, ia mematikan lampu. Dunia yang biasanya bising oleh ambisi, notifikasi, transaksi, dan kompetisi tiba-tiba dipaksa meredup. Dalam redup itulah, puasa mulai berbicara.

Bahasanya sederhana: lapar.
Namun jangan remehkan lapar. Ia bukan sekadar urusan perut. Ia adalah guru yang mengajar tanpa suara. Ketika tenggorokan kering dan jam terasa berjalan lebih lambat, manusia dipertemukan dengan dirinya sendiri. Hasrat ingin segera, ingin cepat, ingin puas mendadak harus menunggu. Dan di situlah peradaban diuji: pada kemampuan menunda.

Kita hidup di zaman serba-instan. Semua ingin cepat tersaji: makanan, hiburan, pengakuan, bahkan kebenaran. Tetapi puasa justru berkata sebaliknya: tahan. Tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan. Tidak semua yang diinginkan mesti dipenuhi. Ada kehormatan dalam pengendalian diri.

Lapar adalah latihan sunyi melawan kerakusan. Ia membongkar kesombongan orang yang merasa selalu cukup. Sebab ketika perut kosong, kita sadar: manusia ternyata rapuh. Dari kesadaran akan kerapuhan itu lahir empati. Kita tak lagi melihat kemiskinan sebagai angka statistik, tetapi sebagai rasa yang pernah kita cicipi meski hanya sampai azan magrib.

Puasa adalah revolusi tanpa teriakan. Ia tidak turun ke jalan, tetapi turun ke dalam jiwa. Ia tidak menyalahkan orang lain, tetapi menertibkan diri sendiri. Dari disiplin batin inilah etika sosial bertumbuh. Peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang cerdas; ia runtuh karena kelebihan orang yang tak mampu menahan diri.

Saat azan magrib berkumandang dan seteguk air terasa begitu agung, kita belajar satu hal sederhana: nikmat bukan soal banyaknya, melainkan kesadaran. Puasa mengembalikan makna pada yang biasa. Ia memuliakan yang sederhana.

Sebab sesungguhnya, di balik perut yang kosong, puasa sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar: manusia yang mampu menahan diri. Dan dari manusia semacam itulah, peradaban yang bermartabat dilahirkan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama