"Kami yakin kondisi sektor manufaktur yang ekspansif dapat dipertahankan, bahkan meningkat, karena perusahaan industri sudah kembali memacu produktivitas. Hal ini juga diperkuat dengan kondisi kesehatan masyarakat yang makin kondusif," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin (1/11/2021).

Menperin menyampaikan performa gemilang sektor industri manufaktur ini merupakan hasil sinergi antara pemerintah dengan seluruh pemangku kepentingan terkait upaya pemulihan ekonomi.

"Artinya, kebijakan yang ditempuh dalam pengembangan industri di masa pandemi ini sudah berada di jalur yang benar, misalnya pemberian insentif fiskal dan nonfiskal yang dapat meningkatkan permintaan dan mengembalikan utilisasi," kata Menperin melalui keterangan tertulis.

Melonjaknya PMI, kata dia, adalah salah satu wujud optimisme yang tinggi dari para pelaku industri manufaktur dalam menilai prospek ekonomi Indonesia ke depan.

"Kepercayaan diri dan daya adaptasi industri di masa pandemi terlihat dari bangkitnya kembali PMI manufaktur Indonesia ke level ekspansif sejak November 2020 dan terus menguat hingga Oktober 2021," ujar Menperin.

Menperin menegaskan di tengah berbagai tantangan global, kinerja industri manufaktur Indonesia di masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dari tahun ke tahun, yang terlihat dari kontribusinya terhadap PDB yang selalu naik dengan nilai investasi sektor yang selalu bertambah.

Selain itu, lanjut dia, kontribusi ekspor pun selalu dominan dalam struktur ekspor nasional, demikian pula dengan kontribusi pajak, tenaga kerja dan resiliensi yang tinggi terhadap gejolak lingkungan termasuk krisis. "Ini sekaligus menepis pandangan bahwa tengah terjadi deindustrialisasi di Indonesia," ujar Menperin.

Capaian PMI manufaktur Indonesia pada Oktober tahun ini melampaui PMI sejumlah negara manufaktur dunia di antaranya India (55,9), Vietnam (52,1), Jepang (53,2), Rusia (51,6), China (50,6), dan Korea Selatan (50,2).

Sementara itu Jingyi Pan selaku Economics Associate Director IHS Markit mengatakan PMI industri manufaktur di Indonesia mencapai catatan pertumbuhan paling cepat, seiring dengan perbaikan kondisi akibat pelonggaran lebih lanjut pada kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

"Kenaikan permintaan dan output juga menunjukkan kepercayaan sektor manufaktur yang lebih baik, sebagaimana terlihat pada Future Export Index, aktivitas pembelian dan perekrutan perusahaan. Itu semua merupakan tanda-tanda positif kemajuan sektor manufaktur di Indonesia," ujarnya.

Berdasarkan hasil surevi IHS Markit, pada Oktober tingkat ketenagakerjaan naik dan aktivitas pembelian ekspansif pada laju paling tajam dalam rekor, yang mengarah pada kenaikan tingkat inventaris input.

Sementara itu, sentimen bisnis secara keseluruhan membaik pada Oktober, naik ke level di atas rata-rata. Responden survei secara umum berharap bahwa kondisi bisnis akan terus membaik, sejalan dengan dampak COVID-19 terhadap sektor manufaktur yang terus berkurang. (An)