Bertaubat atau Cuti dari Dosa (27)

 
Oleh: Kamaruddin Hasan
 
Ramadan sering membuat kita terlihat seperti manusia baru. Masjid lebih ramai, doa lebih panjang, Al-Qur’an lebih sering dibuka. Bahkan sebagian orang yang biasanya sulit bangun pagi, tiba-tiba bisa bangun sahur tanpa drama. Alarm berbunyi satu kali, langsung bangkit. Luar biasa.
Ramadan memang seperti “mode spiritual” yang diaktifkan selama sebulan. Nafsu sedikit di rem, ego sedikit dilunakkan, dan hati sedikit diberi kesempatan bernapas dari kebisingan dunia.
Namun menjelang akhir Ramadan, ada satu pertanyaan yang pelan-pelan muncul dalam hati: apakah kita benar-benar sedang bertaubat, atau hanya sedang beristirahat dari dosa?. 
Pertanyaan ini mungkin terdengar sedikit nakal, tetapi justru di situlah letak kejujurannya.
Sebab tidak semua orang yang terlihat saleh selama Ramadan benar-benar sedang berubah. Ada juga yang hanya sedang menyesuaikan diri dengan suasana.
Ramadan seperti musim hujan bagi kesalehan. Banyak orang tiba-tiba menjadi religius. Masjid penuh. Ceramah ramai. Sedekah meningkat. Media sosial dipenuhi kutipan ayat dan hadis.
Tetapi setelah Ramadan selesai, sebagian kesalehan itu ikut pulang bersama bedug terakhir tarawih.
Masjid kembali lengang.
Al-Qur’an kembali rapi di rak.
Dan sebagian dosa kembali aktif bekerja seperti biasa.
Di titik inilah Ramadan sebenarnya sedang menguji kita.
Apakah puasa benar-benar berhasil mendidik jiwa kita, atau hanya membuat kita menunda kebiasaan lama selama tiga puluh hari?
Karena pada dasarnya, puasa bukan sekadar latihan menahan lapar. Ia adalah latihan menahan diri.
Menahan lidah agar tidak melukai orang lain.
Menahan emosi agar tidak mudah meledak.
Menahan tangan agar tidak mengambil yang bukan haknya.
Menahan hati agar tidak sombong dan merendahkan orang lain.
Jika semua itu hanya berhenti ketika Ramadan berakhir, maka mungkin yang terjadi bukan taubat . Mungkin kita hanya sedang “cuti dari dosa” 
Seperti pekerja yang mengambil libur tahunan, dosa-dosa kita seolah berhenti sementara, lalu siap kembali bekerja setelah kalender berubah menjadi Syawal.
Padahal taubat yang sejati tidak bekerja seperti itu.
Taubat adalah keputusan besar dalam hidup seseorang. Ia bukan sekadar jeda dari keburukan, tetapi keberanian untuk meninggalkannya.
Taubat bukan hanya berhenti melakukan kesalahan, tetapi juga memutuskan untuk tidak kembali ke tempat yang sama.
Dalam tradisi spiritual Islam, para ulama menyebutnya taubat nasuha tobat yang sungguh-sungguh. Taubat  yang tidak hanya diucapkan oleh lisan, tetapi juga diputuskan oleh hati.
Taubat seperti ini biasanya tidak gaduh. Ia tidak selalu terlihat di media sosial. Ia sering terjadi dalam kesunyian hati seseorang.
Ketika seseorang memutuskan untuk berhenti menyakiti orang lain.
Ketika seseorang memutuskan untuk memaafkan.
Ketika seseorang memutuskan untuk memperbaiki dirinya pelan-pelan.
Ramadan sebenarnya memberi kita kesempatan besar untuk itu.
Ia seperti bengkel jiwa tempat manusia memperbaiki bagian-bagian hidupnya yang rusak. Di bulan ini kita diajak melihat kembali diri kita sendiri: apa yang perlu diperbaiki, apa yang harus ditinggalkan, dan apa yang harus dipertahankan.
Masalahnya, tidak semua orang datang ke bengkel itu dengan niat memperbaiki diri. Ada juga yang hanya datang untuk parkir sebentar.
Akibatnya, ketika Ramadan pergi, hidup mereka kembali berjalan seperti sebelumnya.
Tidak ada perubahan berarti.
Padahal tujuan puasa sebenarnya sangat jelas. Al-Qur’an menyebutkan bahwa puasa diperintahkan agar kamu bertakwa.
Artinya, puasa seharusnya melahirkan manusia yang lebih sadar kepada Tuhan. Lebih jujur. Lebih sabar. Lebih peduli kepada sesama.
Jika setelah Ramadan kita masih mudah memfitnah, masih ringan menyakiti orang lain, masih sulit berbagi, maka mungkin kita perlu bertanya ulang kepada diri kita sendiri: apa yang sebenarnya kita lakukan selama Ramadan?
Apakah kita sedang bertobat?
Ataukah hanya sedang beristirahat sejenak dari kebiasaan lama?
Tiga hari terakhir Ramadan adalah waktu yang sangat jujur untuk merenung. Waktu ketika manusia seharusnya menengok kembali perjalanan spiritualnya selama sebulan.
Apakah hati kita benar-benar berubah?
Apakah kebiasaan baik mulai tumbuh?
Apakah ego kita mulai mengecil?
Jika jawabannya belum, maka kabar baiknya: Ramadan belum benar-benar selesai. Masih ada waktu untuk memperbaiki niat, memperdalam doa, dan menata kembali hati.
Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak hanya melihat seberapa rajin kita beribadah selama Ramadan.
Tuhan melihat seberapa jauh Ramadan berhasil mengubah kita.
Dan perubahan itu tidak diukur dari seberapa indah doa kita, tetapi dari seberapa nyata kehidupan kita setelah doa itu dipanjatkan.

Redaktur

No Comment

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama