Senja turun perlahan Langit yang semula temaram berubah semakin syahdu ketika rintik hujan mulai jatuh satu per satu membasahi halaman yang sejak sore dipenuhi para tamu undangan yang menghadiri acara syukuran kedua putra-putri Andi Ina Kartika Sari- Muh. Yulianto Badwi.
Udara terasa sejuk, sementara di dalam tenda, suasana hangat kebersamaan mulai terasa menjelang waktu berbuka puasa di Rumah Jabatan Bupati Barru, Selasa (17/3/2026).
Ribuan orang hadir sore itu. Selain pejabat jajaran Pemkab Barru, Hadir pula Tokoh masyarakat, relawan, sahabat perjuangan, para santri, anak-anak panti asuhan, hingga petugas kebersihan yang sehari-hari menjaga wajah kota. Mereka datang bukan hanya untuk berbuka bersama, tetapi juga untuk mempererat silaturahmi di bulan Ramadan.
Namun di tengah suasana yang khidmat itu, sebuah momen tak terduga menghadirkan haru yang menyentuh banyak hati.
Dua anak Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, untuk pertama kalinya berdiri di depan publik. Mereka tidak datang sebagai pejabat, tidak pula sebagai tokoh politik. Mereka hadir sebagai anak, yang ingin bercerita tentang sosok ibu yang selama ini dikenal masyarakat sebagai pemimpin, namun jarang dilihat dari sisi keluarga.
Adalah Salsabiella Hafsah Badwi, yang akrab disapa Salsa, anak pertama Bupati Barru yang baru saja menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran. Dengan suara tenang, ia memulai kisahnya dengan ungkapan terima kasih kepada semua orang yang selama ini berjalan bersama ibunya.
“Terima kasih banyak kepada semua yang sudah menemani Mama dari awal perjuangannya sampai hari ini. Tanpa dukungan semua tim, keluarga, dan masyarakat yang hadir di sini, perjalanan itu tidak akan sampai di titik ini,” ujarnya.
Rintik hujan di luar seakan menambah suasana haru ketika Salsa bercerita tentang bagaimana sang ibu sering merasa bersalah karena kesibukan di dunia politik membuat waktunya untuk keluarga terasa berkurang.
Namun bagi dirinya dan sang adik, perasaan itu tidak pernah benar-benar ada.
“Mama mungkin merasa waktunya kurang untuk saya dan Adik karena lebih banyak bersama masyarakat. Tapi sebenarnya kami tidak pernah merasakan itu. Kami tetap sering berkomunikasi setiap hari,” katanya.
Bagi Salsa dan adiknya, Barru bukan sekadar tempat ibunya memimpin. Barru adalah bagian dari cerita masa kecil mereka.
“Kami juga orang Barru. Dari kecil kami sering bermain di sini dan punya banyak teman di Barru. Jadi sebenarnya kami memang bagian dari Barru,” tuturnya.
Setelah Salsa, giliran Muhammad Alif Rahman Badwi berbagi cerita. Mahasiswa Akademi Kepolisian di Semarang itu memilih mengungkap sisi lain dari sosok ibunya yang jarang diketahui publik.
Di mata masyarakat, Andi Ina Kartika Sari adalah seorang pemimpin daerah. Tetapi di rumah, ia tetap seorang ibu yang menjalankan peran sederhana yang penuh kasih.
“Orang-orang yang hadir di sini harus tahu, Mama itu luar biasa. Di rumah Mama tetap menjadi ibu yang mengurus semuanya. Mama masih sering memasak untuk kami, bahkan masih menyuapi saya dan Kakak,” ungkap Alif.
Ia kemudian mengenang kebiasaan keluarga mereka sejak kecil yang selalu dijaga oleh kedua orang tuanya: makan bersama di meja makan.
Di meja sederhana itulah, cerita-cerita kecil tentang kehidupan mereka saling dibagikan.
“Papa selalu bilang, dalam sehari kita harus makan bersama di meja makan. Di situ kami saling bercerita tentang sekolah, dan Mama Papa juga bercerita tentang pekerjaan mereka,” kenangnya.
Dalam kesempatan itu, Alif juga membagikan percakapan pribadinya dengan sang ibu. Ia pernah bertanya mengapa ibunya memilih kembali ke Barru untuk mengabdi sebagai bupati, padahal sebelumnya memiliki posisi strategis di tingkat provinsi.
Jawaban sang ibu sangat sederhana, tetapi sarat makna.
“Mama bilang ingin ke Barru karena ini kampungnya Mama, kampung grandma. Mama ingin membuat Barru lebih maju dan masyarakatnya bisa merasakan perubahan,” cerita Alif.
Meski berasal dari keluarga yang banyak berkecimpung di dunia politik, Alif memilih jalannya sendiri untuk mengabdi melalui jalur kepolisian.
Namun baginya, tujuan itu tetap sama: melayani masyarakat.
“Saya ingin tetap dekat dengan masyarakat, tetapi dengan cara saya sendiri melalui jalur kepolisian,” katanya.
Di hadapan para tamu yang hadir, kedua anak Bupati Barru itu juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendukung kepemimpinan sang ibu demi kemajuan daerah.
“Kepemimpinan tidak akan berjalan lancar tanpa dukungan semua orang. Mari kita bersama-sama membantu agar Barru bisa semakin maju,” kata Alif.
Sementara Salsa menyampaikan pesan yang lebih personal. Ia mengingatkan ibunya—yang dikenal memiliki semangat kerja tinggi—untuk tetap menjaga kesehatan.
Beberapa waktu lalu, sang ibu bahkan sempat mengalami kelelahan karena terlalu fokus bekerja untuk masyarakat.
“Kami tahu Mama punya niat yang sangat baik untuk Barru. Tapi Mama juga harus ingat kalau Mama juga manusia yang butuh istirahat,” ujarnya lembut.
Di luar, rintik hujan masih turun pelan ketika azan magrib akhirnya berkumandang. Para tamu undangan mulai menikmati hidangan berbuka dalam suasana penuh kekeluargaan.
Hari itu, di tengah senja yang basah oleh hujan, Barru tidak hanya melihat seorang bupati yang memimpin daerahnya.
Barru juga melihat seorang ibu, melalui cerita tulus dari anak-anaknya.(syam md)
