INFO

Selamat Membaca Media Berkelas Dikhususkan Untuk Anda

About Us

wartamerdeka.info

Warta Merdeka, sebuah portal berita yang berdedikasi untuk menyajikan informasi terkini dan mendalam, menjadi sumber terpercaya bagi pembaca.

BERITA FOTO

 

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah, Raja Abdullah II ibn Al Hussein, di Istana Basman, Amman, pada Rabu (25/02/2026).

Diam

 

Oleh : W. Masykar
Orang pendiam sering dianggap aneh, misterius, bahkan dingin. Dan itu, termasuk saya. Diam - tidak menulis dalam waktu tertentu belakangan ini, dianggap aneh.
Banyak kawan yang tanya pada saya, kenapa belakangan jarang menulis, baik tulisan opini ataupun berita? Kenapa mengambil posisi "diam" pertanyaan itu hampir setiap saat saya terima - sebagian ada yang saya jawab, sisanya kerap hanya saya baca saja.

Absennya saya menulis - sesungguhnya hanya sementara waktu saja. Saya lebih memilih diam, yang bukan berarti tidak tahu atau tidak mengikuti perkembangan yang terjadi baik dalam skala regional maupun nasional. Saya sengaja "diam" untuk sesaat.
Dalam konteks budaya Jawa, diam kerap dipandang sebagai tanda kesopanan dan kehormatan, yakni Konsep "Tepo Seliro" (memahami perasaan orang lain) sehingga lebih bisa bijak dan tidak sembarangan, dan ini adalah bagian dari norma sosial di masyarakat kita. Dari sinilah diam juga bisa merupakan bentuk meditasi pribadi dan refleksi.

Saya mengambil posisi diam yang juga bisa saja dimaknai menghindari konflik yang dapat merugikan pihak pihak tertentu. Diam - oleh karena itu, bisa menjaga ketenangan dan menghindari reaksi emosional, dan kita tetap dapat mempertahankan hubungan baik dengan orang lain dan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis. 

Secara filosofis, diam bisa diartikan sebagai ruang untuk merenung, mengamati, dan memahami, baik diri sendiri maupun lingkungan di sekitar. Diam juga bisa memberi peluang untuk mendengarkan suara hati dan memahami nilai-nilai yang sebenarnya kita anut.
Bagi saya, diam adalah alat yang kuat untuk menemukan kembali diri kita di tengah dunia yang bising. Dalam keheningan, kita dapat merenungkan, mengamati, dan memahami kehidupan dengan cara yang lebih mendalam. Melalui praktik diam, kita tidak hanya menjaga kesehatan mental kita, tetapi juga membuka pintu bagi kreativitas dan refleksi diri.
Dalam masyarakat yang terus bergerak maju, penting bagi kita untuk memberi ruang dan peluang bagi diam, sebuah perjalanan menuju pemahaman dan kedamaian yang lebih dalam. Dengan menyadari dan mengapresiasi nilai dari saat hening ini, kita dapat menemukan keseimbangan dan makna yang lebih dalam pada hidup kita.Konsep "diam tapi tetap mengamati" adalah sebuah sikap filosofis yang mendalam, sering kali dikaitkan dengan kebijaksanaan, pengendalian diri, dan peningkatan pemahaman diri (mindfulness).

Dalam berbagai aliran filsafat, ini bukan sekadar tindakan pasif, melainkan sebuah strategi aktif untuk memahami hakikat situasi tanpa terpengaruh oleh emosi sesaat. 

Epictetus, Filsuf stoik (Stoikisme) atau Stoic silence - memberi pelajaran bagi kita menjaga lisan adalah bentuk pengendalian diri tertinggi. Diam digunakan untuk mengamati situasi secara objektif tanpa terdistraksi oleh pendapat orang lain atau emosi sendiri. "Diam adalah jawaban terbaik untuk kemarahan" dan merupakan cara untuk menghemat energi mental demi hal-hal yang berada di bawah kendali kita.

Dalam tradisi pemikiran Islam, diam sering kali dianggap lebih bijak daripada berbicara yang sia-sia atau menyakiti. Imam Syafi'i menekankan bahwa diam adalah seni yang mengalahkan perdebatan kusir, memberikan ruang untuk merenung dan memahami masalah lebih mendalam.Filsafat Timur dan psikologi kontemporer, "diam mengamati" sering digambarkan sebagai Detached Observer (Pengamat yang melepaskan diri). Sebuah teknik menyaksikan pikiran, emosi, dan keadaan dengan tanpa menghakimi sehingga memungkinkan melihat pola dan kebenaran yang tersembunyi.

Yang pada saatnya bisa saja kembali menjelma dalam sebuah produk pemikiran - yang dalam kaitan ini, saya akan kembali menulis yang tentunya lebih kritis dari yang selama ini. Semoga!(*)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama