INFO

Selamat Membaca Media Berkelas Dikhususkan Untuk Anda

About Us

wartamerdeka.info

Warta Merdeka, sebuah portal berita yang berdedikasi untuk menyajikan informasi terkini dan mendalam, menjadi sumber terpercaya bagi pembaca.

BERITA FOTO

 

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah, Raja Abdullah II ibn Al Hussein, di Istana Basman, Amman, pada Rabu (25/02/2026).

Evolusi Toponim Brondong dalam Sumber Eropa Abad XVI–XVII

Oleh: Fathur Rahman, M.Pd*
"Adaptasi Fonetik dan Makna Serapan dalam Catatan Para Pengelana Eropa Tentang Brondong"

Editor : W. Masykar
A. Pendahuluan
Nama tempat dalam catatan perjalanan sering mengalami perubahan bentuk ketika ditulis oleh pengelana asing. Hal ini disebabkan oleh perbedaan sistem bunyi, ortografi, dan kebiasaan linguistik antara bahasa lokal dan bahasa penulisnya. Dalam sejarah pesisir utara Jawa Timur, salah satu contoh menarik adalah toponim "Brondong", sebuah wilayah pelabuhan tua yang terletak di pesisir antara Tuban, Gresik, dan Sedayu.

Dalam berbagai sumber Eropa abad ke-16 hingga ke-17, nama ini muncul dengan beberapa variasi ejaan seperti "Brodao", "Brodam", "Brandam", dan "Brandon". Variasi ini tidak menunjukkan tempat yang berbeda, melainkan merupakan adaptasi fonetik para pengelana Portugis dan Spanyol terhadap bunyi lokal yang mereka dengar dari masyarakat pesisir Jawa.

Namun selain sekadar transliterasi fonetik, bentuk-bentuk tersebut juga menarik karena secara kebetulan memiliki kemiripan dengan kata-kata dalam bahasa Eropa yang mengandung makna tertentu, seperti "brand" yang berarti api atau pedang. Oleh karena itu, kajian toponimi Brondong juga membuka kemungkinan adanya "asosiasi makna dalam bahasa para pengelana" yang mencatatnya.

Pernah diselenggarakan kegiatan sarasehan bertajuk "Tahlil Kemerdekaan & Ngaji Sejarah" bertempat di Masjid Sentono Kelurahan Brondong
B. Brondong dalam Catatan Iberia Awal
Salah satu bentuk awal yang diduga merujuk pada Brondong adalah "Brodao", yang muncul dalam sumber Iberia sekitar tahun "1580". Dalam tradisi kartografi Portugis abad ke-16, nama tempat di Asia Tenggara sering ditulis berdasarkan pelafalan yang didengar langsung dari penduduk setempat.

Ejaan "Brodao" kemungkinan merupakan usaha menuliskan bunyi "Brondong" menggunakan sistem ortografi Portugis. Dalam bahasa Portugis klasik, akhiran "-ão" sering digunakan untuk merepresentasikan bunyi nasal yang tidak terdapat dalam bahasa Latin klasik.

Fenomena transliterasi fonetik ini sangat umum dalam kartografi Portugis awal. Sebagaimana dicatat oleh sejarawan kartografi:

“Early Portuguese cartographers frequently wrote Asian place names phonetically, attempting to reproduce the sounds they heard from local informants.”

Jerry Brotton, Trading Territories: Mapping the Early Modern World (1997).
C. Bentuk Brodam Pada Peta Akhir Abad XVI
Pada peta yang berasal dari tradisi Portugis sekitar "1599", nama tersebut muncul dalam bentuk "Brodam". Perubahan dari "Brodao" menjadi *Brodam* kemungkinan merupakan hasil penyesuaian ejaan oleh kartografer lain yang menyalin peta sebelumnya.

Perubahan akhiran "-ão" menjadi "-am" sering terjadi ketika nama Portugis disalin oleh kartografer Eropa lain yang tidak terbiasa dengan ortografi Portugis.

Sejarawan kartografi Armando Cortesão mencatat bahwa:

“Place names in Portuguese charts were often altered by later copyists, who adapted the spelling to their own linguistic conventions.” - Armando Cortesão, "History of Portuguese Cartography" (1969).

Dengan demikian, bentuk "Brodam" dapat dipahami sebagai variasi ejaan yang masih merujuk pada bunyi asli "Brondong".
Nisan Kuno Tipologi Pasai kisaran abad 15 - 16 berbahan batu Andesit, berada di Masjid Sentono - Kelurahan Brondong-Lamongan 
D. Brandam dalam Tradisi Historiografi Portugis
Bentuk lain yang muncul pada awal abad ke-17 adalah "Brandam", yang berkaitan dengan tradisi historiografi Portugis seperti karya "João de Barros". Dalam karya monumentalnya *Décadas da Ásia", Barros mencatat berbagai pelabuhan di Asia berdasarkan laporan para pelaut Portugis.

Bentuk "Brandam" sangat menarik karena dalam bahasa Eropa kata "brand' memiliki makna tertentu. Dalam bahasa Norse Kuno dan bahasa Jermanik, kata "brandr" berarti api, pedang, atau sesuatu yang menyala*.

Dalam kajian etimologi bahasa Inggris, kata ini dijelaskan sebagai berikut:
“Old Norse brandr meant ‘fire, sword, or burning piece of wood’ and became the root of several later European words such as ‘brand’ and ‘firebrand’.”  - "Oxford English Dictionary", entry “brand”.

Kemiripan antara "Brandam" dan kata "brand" mungkin hanya kebetulan fonetik, tetapi bagi penulis Eropa kata tersebut secara implisit membawa konotasi "api, kekuatan, atau senjata".

E. Brandon dalam Peta Eropa Abad XVII
Dalam beberapa peta Eropa abad ke-17, bentuk lain yang muncul adalah "Brandon". Bentuk ini kemungkinan merupakan hasil latinisasi atau penyesuaian ejaan oleh kartografer Belanda atau Italia yang menyalin peta Portugis sebelumnya.

Dalam bahasa Inggris Kuno, kata "Brandon" sendiri memiliki makna geografis. Nama ini berasal dari gabungan kata:
- "brōm" (semak berduri atau gorse)
- "dūn" (bukit)
Sehingga secara harfiah berarti:
- "bukit yang ditumbuhi semak belukar.”
Penjelasan ini tercatat dalam kajian etimologi nama tempat Inggris:
“The place name Brandon derives from Old English "brōm" (broom shrub) and "dūn" (hill), meaning ‘a hill covered with broom shrubs.’”
"Oxford Dictionary of English Place-Names".
Walaupun arti ini tidak berasal dari bahasa Jawa, kemiripan bunyi tersebut menunjukkan bagaimana kartografer Eropa sering menyesuaikan nama tempat Asia dengan struktur kata yang familiar bagi mereka.
F. Makna Brondong dalam Adaptasi Bahasa Pengelana
Jika seluruh bentuk ejaan tersebut dianalisis bersama, maka nama "Brondong" dalam sumber Eropa tidak hanya mengalami perubahan fonetik, tetapi juga memperoleh "asosiasi makna baru dalam bahasa para pengelana".
Beberapa makna yang muncul dari adaptasi tersebut antara lain:
1. Makna Api atau Obor
 Dari kata "brand" dalam bahasa Jermanik dan Norse Kuno yang berarti api atau kayu yang menyala.
2. Makna Pedang atau Kekuatan
 Kata "brandr" juga digunakan dalam literatur Norse untuk menyebut pedang atau senjata.
3. Makna Geografis Bukit Bersemak
 Dari kata "Brandon" dalam bahasa Inggris Kuno yang berarti bukit yang ditumbuhi semak.
4. "Makna Kepemimpinan (asosiasi dengan Brendan)"

Dalam tradisi Celtic, nama "Brendan" berasal dari akar kata yang berkaitan dengan pemimpin atau kepala suku.

Dengan demikian, dalam perspektif linguistik Eropa, kata yang mirip dengan "Brondong" dapat membawa konotasi simbolik seperti:
- api atau cahaya
- kekuatan atau senjata
- tempat yang menonjol dalam lanskap
- figur kepemimpinan
G. Brondong dalam Konteks Pesisir Sedayu
Secara geografis, Brondong terletak di pesisir utara Jawa Timur, dekat sebelah timur wilayah "Sedayu Lawas", yang pada abad ke-16 merupakan bagian dari jaringan pelabuhan penting di pesisir Jawa.
Dalam catatan awal tentang pesisir Jawa, "Tomé Pires" mencatat bahwa kawasan pesisir utara Jawa dipenuhi pelabuhan kecil yang memiliki penguasa lokal masing-masing.
Ia menulis:
“Along the north coast of Java there are many ports and trading places, each ruled by its own lord.” - Tomé Pires, "Suma Oriental) (1512-1515).
Dalam konteks ini, Brondong kemungkinan merupakan salah satu pelabuhan kecil yang berperan dalam jaringan perdagangan regional antara Tuban, Gresik, dan Sedayu.
H. Kesimpulan
Variasi ejaan "Brodao, Brodam, Brandam, dan Brandon" dalam sumber Eropa abad ke-16 hingga ke-17 merupakan hasil adaptasi fonetik terhadap nama lokal "Brondong" di pesisir utara Jawa.
Selain mencerminkan proses transliterasi bunyi lokal ke dalam bahasa Eropa, bentuk-bentuk tersebut juga menunjukkan kemungkinan "asosiasi makna dalam bahasa para pengelana", seperti:
- "brand" (api atau obor)
- "brandr" (pedang atau kekuatan)
- "Brandon" (bukit bersemak)

Kajian ini menunjukkan bahwa analisis toponimi tidak hanya penting untuk memahami perubahan ejaan nama tempat, tetapi juga membuka wawasan tentang bagaimana para pengelana Eropa memahami dan menafsirkan dunia Asia melalui kerangka bahasa dan budaya mereka sendiri. *(Cah Sedayu Asli Pegiat Sejarah Lokal, Praktisi Pendidikan SMAN 1 Lamongan dan SMAN 1 Paciran)

I. Daftar Pustaka
1) Barros, João de. "Décadas da Ásia". Lisbon: Regia Officina Typographica, 1552–1615.
2) Brotton, Jerry. "Trading Territories: Mapping the Early Modern World". London: Reaktion Books, 1997.
3) Cortesão, Armando. "History of Portuguese Cartography". Coimbra: Junta de Investigações do Ultramar, 1969.
4) Oxford English Dictionary. Entry “Brand.”
5) Pires, Tomé. "The Suma Oriental of Tomé Pires". London: Hakluyt Society, 1944.
Suárez, Thomas. "Early Mapping of Southeast Asia". Singapore: Periplus Editions, 1999.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama