I’tikaf atau Wi-Fi Pergulatan Sunyi di Masjid (25)

 

Oleh : Kamaruddin Hasan 
Ramadan selalu punya cara unik mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri. Salah satunya lewat i’tikaf. Tradisi yang secara sederhana bisa diterjemahkan sebagai “menyepi bersama Tuhan di masjid.”

Namun di abad Wi-Fi ini, definisi menyepi tampaknya perlu sedikit revisi. Sebab kadang yang menyepi bukan hanya hati, tapi juga sinyal.
Begitu masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, masjid mendadak berubah wajah. Karpet digelar lebih luas, lampu menyala lebih lama, termos kopi berjajar seperti pasukan cadangan energi. Orang datang membawa mushaf, sajadah, tas kecil, dan… tentu saja smartphone.
Karena di era sekarang, manusia jarang benar-benar sendirian. Bahkan ketika sedang i’tikaf.
Malam itu saya melihat pemandangan yang menarik. Di satu sudut masjid, seorang bapak duduk khusyuk membaca Al-Qur’an. Di sudut lain, seorang anak muda duduk tak kalah serius menatap layar ponselnya. Wajahnya sama-sama fokus. Bedanya, yang satu membaca ayat, yang satu membaca notifikasi.
Kadang saya tidak tahu yang mana sedang i’tikaf dan yang mana sedang “i’ti-chat”.
Begitulah. Masjid di malam Ramadan sering menjadi arena pergulatan sunyi yang unik: antara keheningan spiritual dan keramaian digital.
Di satu sisi kita ingin mendekat kepada Tuhan. Di sisi lain kita juga ingin tetap terhubung dengan dunia. Hasilnya? Kita duduk di masjid, tapi jempol kita sedang melakukan safari ke berbagai aplikasi.
Ada yang membuka Al-Qur’an digital. Niatnya bagus. Tapi lima menit kemudian muncul notifikasi grup keluarga: Jangan lupa sahur ya.
Lalu muncul pesan lainPromo diskon sahur. 
Belum lagi grup alumni yang tiba-tiba mendiskusikan politik nasional jam dua pagi.
Akhirnya yang tadinya mau membaca satu juz, malah membaca seratus chat.
Di sinilah pergulatan itu terjadi. Pergulatan antara i’tikaf dan Wi-Fi.
Padahal secara filosofis, i’tikaf adalah latihan untuk memutuskan sejenak kabel-kabel dunia yang terlalu ramai. Ia seperti tombol reset bagi jiwa. Dalam psikologi modern, mungkin ini bisa disebut sebagai detoks mental. 
Seharian kita sibuk mengejar dunia: rapat, target kerja, tugas keluarga, dan berbagai drama sosial. Maka sepuluh malam terakhir Ramadan memberi kita kesempatan langka: berhenti sebentar.
Berhenti dari hiruk pikuk dunia.
Berhenti dari kebisingan opini.
Berhenti dari kecanduan notifikasi.
I’tikaf sebenarnya adalah ruang hening bagi hati untuk kembali bernapas.
Sayangnya, kita sering membawa seluruh kebisingan itu masuk ke dalam masjid lewat satu benda kecil bernama smartphone.
Padahal kalau dipikir-pikir, sinyal yang paling kita butuhkan di masjid bukanlah Wi-Fi, tetapi Why Faith alasan mengapa kita beriman.
Masjid seharusnya menjadi tempat di mana manusia menyadari kembali dirinya. Bahwa hidup ini bukan sekadar urusan deadline, gaji, jabatan, atau jumlah follower.
Di dalam keheningan i’tikaf, manusia belajar satu hal sederhana: ia ternyata kecil sekali di hadapan Tuhan.
Ironisnya, justru di tempat yang seharusnya paling sunyi itu, kita kadang masih sibuk memamerkan diri di dunia maya.
Ada yang selfie dengan caption: “Lagi i’tikaf, doakan ya.”
Padahal kalau sudah selfie, biasanya i’tikafnya tinggal setengah. Sisanya sedang menunggu jumlah like. 
Fenomena ini bukan untuk ditertawakan saja, tapi juga untuk direnungkan. Teknologi memang memudahkan ibadah, tapi juga bisa mengganggu kekhusyukan jika tidak dikelola dengan bijak.
Masalahnya bukan pada Wi-Fi. Masalahnya pada hati yang belum selesai berdamai dengan sunyi.
Banyak orang takut dengan kesunyian. Karena ketika sunyi datang, manusia terpaksa berhadapan dengan dirinya sendiri. Dengan kesalahan, dengan penyesalan, dengan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kita sembunyikan di balik kesibukan.
Padahal justru di situlah inti i’tikaf.
Sunyi bukan untuk ditakuti. Sunyi adalah ruang dialog antara manusia dan Tuhannya.
Di dalam sunyi itu, doa terasa lebih jujur. Tangisan terasa lebih tulus. Dan harapan terasa lebih dekat.
Mungkin itulah sebabnya malam yang paling mulia dalam Ramadan Lailatul Qadar turun di malam yang sunyi. Bukan di malam yang penuh notifikasi.
Maka ketika kita duduk di masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadan, sebenarnya kita sedang dihadapkan pada pilihan sederhana:
Apakah kita ingin terhubung dengan jaringan internet, atau dengan jaringan langit?
Yang satu memberi sinyal.
Yang satu memberi makna.
Dan kadang, untuk menangkap sinyal dari langit, kita hanya perlu melakukan satu hal kecil yang sangat sulit di zaman modern “ mematikan sebentar ponsel kita”. 
Barangkali di situlah i’tikaf benar-benar dimulai.

Redaktur

No Comment

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama