Last Minute Ramadan (30)


Oleh : Kamaruddin Hasan 

Ada yang aneh dengan jam terakhir Ramadan. Waktunya sama 60 menit, 3.600 detik tapi rasanya kayak lagi nonton episode terakhir serial favorit: deg-degan, sentimental, tapi juga agak denial. “Masa sih sudah mau selesai?” padahal kemarin baru ribut soal sahur pakai mi instan atau nasi goreng.

Di jam-jam terakhir ini, suasana berubah jadi campuran antara khusyuk dan kebutuhan logistik yang belum klar. Di satu sisi, hati mendadak lembut. Doa jadi lebih panjang dari biasanya, bahkan sampai minta hal-hal yang kemarin lupa diminta: rezeki, kesehatan, jodoh (yang ini biasanya disebut tiga kali, jaga-jaga siapa tahu yang dua belum tercatat rapi). Di sisi lain, pikiran juga sibuk menghitung: besok pakai baju apa, kue di meja cukup nggak, dan siapa yang bakal datang paling pagi bawa toples kosong.

Lucunya, kita jadi super reflektif di menit-menit akhir. Tiba-tiba ingat semua target Ramadan yang ambisius di awal: khatam sekian kali, salat malam full, sedekah rutin, bangun sahur tanpa drama. Lalu kita menatap realita dengan senyum tipis: “Ya… yang penting usaha.” Ada rasa bersalah, tapi juga ada rasa bangga kecil karena, jujur saja, bertahan sebulan itu bukan hal sepele. Apalagi kalau godaannya bukan cuma lapar dan haus, tapi juga notifikasi diskon tengah malam.

Jam terakhir Ramadan juga punya aura “last call”. Semua terasa seperti kesempatan terakhir: terakhir tarawih, terakhir sahur, terakhir buka puasa dengan menu yang kadang lebih niat dari hari biasa. Bahkan air putih pun terasa lebih spesial, seolah dia tahu perannya akan segera digantikan oleh sirup warna-warni dan minuman bersoda yang selama ini cuma jadi penonton.

Yang paling khas, tentu saja adalah momen sunyi sebelum takbir berkumandang. Ada jeda kecil yang terasa panjang. Di situ, banyak orang diam, menunduk, atau sekadar menatap kosong sambil mengunyah kenangan sebulan terakhir. Kita sadar, Ramadan bukan cuma tentang menahan lapar, tapi juga tentang menahan ego, memperbaiki diri, dan ini penting belajar sabar menghadapi grup chat keluarga yang tiba-tiba aktif.

Lalu takbir pun datang. Menggema, merambat, dan… ya, bikin merinding. Di titik itu, ada perasaan lega sekaligus haru. Lega karena “misi” selesai, haru karena harus berpisah. Seperti teman yang cuma datang setahun sekali, Ramadan selalu pergi terlalu cepat, meninggalkan janji yang sama: “Tahun depan kita ketemu lagi, ya.”

Dan kita? Kita kembali ke rutinitas, dengan niat baru yang (semoga) nggak cuma bertahan sampai minggu depan. Karena pada akhirnya, kesan terakhir di jam terakhir Ramadan bukan cuma soal perpisahan, tapi juga soal harapan. Harapan bahwa versi diri kita yang sedikit lebih sabar, sedikit lebih baik, dan sedikit lebih ringan hatinya bisa bertahan lebih lama dari sekadar 30 hari.

Tapi ya, kalaupun nanti goyah lagi, setidaknya kita tahu: Ramadan akan datang lagi. Dan kita akan kembali jadi manusia yang tiba-tiba rajin minimal, untuk sebulan penuh.

Selamat tinggal, Ramadan. Terima kasih sudah mampir dan bikin hidup terasa lebih… teratur (dan dompet lebih sering terbuka untuk takjil).

Redaktur

No Comment

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama