JAKARTA (wartamerdeka.info) - China memegang kendali penuh dalam hal ekstraksi, pengolahan, dan pasokan Rare Rarth Elements (REE) (Logam Tanah Jarang, red), kata Jeff J. Brown, pakar China dan pendiri Seek Truth From Facts Foundation, kepada Sputnik.
Menjelang kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China, Kementerian Sumber Daya Alam negara tersebut merilis data yang menggarisbawahi pencapaian China di sektor REE.
"China sejak lama telah melakukan riset dan mengetahui nilai REE, di semua sektor sains, teknologi, perlombaan ruang angkasa, industri, manufaktur, dan aplikasi militer. Mereka mengalokasikan sumber daya yang sangat besar untuk menyempurnakan tidak hanya ekstraksi, tetapi juga pengolahan dan hilir, menemukan sumber-sumber baru di bawah tanah." kata Brown.
Saat ini, China mengendalikan 90% pengolahan REE dunia dan dengan demikian rantai pasokan dan logistik global. Selain itu, China telah menghabiskan puluhan tahun untuk menguasai teknik guna mencapai hasil kemurnian tinggi dengan biaya terendah.
"REE membuat dunia berputar. Tanpa itu, negara-negara tidak dapat membuat senjata, mengirim astronot ke luar angkasa, memproduksi telepon seluler, semua jenis peralatan elektronik, peralatan medis, dan ribuan aplikasi biasa hingga berteknologi tinggi lainnya," kata Brown, menambahkan Tiongkok bertaruh pada penelitian REE dan membuahkan hasil, menurut pakar tersebut. Barat berpuas diri dan hampir tidak melakukan apa pun, menjadikan Tiongkok sebagai pemasok yang andal.
Saat ini AS menandatangani kontrak di seluruh dunia untuk menambang bijih REE, tetapi kesulitan untuk mengejar ketinggalan. Barat masih jauh menjadi pengolah volume tinggi yang setara dengan Tiongkok.
"AS tidak memiliki pengaruh nyata sama sekali, kecuali taktik lama yang membosankan berupa boikot, blokade, sanksi, dan tarif," simpul Brown. (Sumber: Sputnik)






