Krisis kelaparan di Somalia memburuk karena kekeringan menyebabkan lebih dari 500.000 orang mengungsi. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // Setelah gempa melanda Jepang utara, peringatan tsunami dikeluarkan lalu kemudian dicabut, namun masyarakat di berbagai wilayah harus tetap waspada terhadap potensi gempa mega. // Harga minyak mentah Brent melonjak naik lebih dari 7 persen karena Washington dan Teheran memberikan keterangan yang bertentangan mengenai negosiasi gencatan senjata. //

Jutaan orang di Sudan bertahan hidup dengan makan satu hari sekali terpaksa dengan daun dan pakan ternak

Jutaan orang di Sudan yang dilanda perang bertahan hidup hanya dengan satu kali makan sehari, dan banyak yang terpaksa makan daun dan pakan ternak untuk bertahan hidup di negara bagian Darfur Utara dan Kordofan Selatan.

Saddam Najwa, seorang anak pengungsi internal berusia 17 bulan yang kekurangan gizi, mengulurkan tangan untuk mengambil secangkir air di sebuah rumah sakit di Gidel, dekat Kauda, ​​Kordofan Selatan, Sudan [File: Thomas Mukoya/Reuters]

JAKARTA (wartamerdeka.info) - Jutaan orang di Sudan bertahan hidup hanya dengan satu kali makan sehari, karena krisis pangan negara itu semakin dalam dan mengancam akan menyebar, menurut sebuah laporan yang diterbitkan oleh sekelompok organisasi nonpemerintah (LSM).

Action Against Hunger, CARE International, International Rescue Committee, Mercy Corps, dan Norwegian Refugee Council melaporkan, perang Sudan antara tentara Sudan dan Pasukan Pendukung Cepat paramiliter, yang memasuki tahun ketiga, telah menyebabkan kelaparan yang meluas dan menggusur jutaan orang di tengah krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

“Hampir tiga tahun konflik, yang ditandai dengan kekerasan, pengungsian, dan taktik pengepungan, telah secara sistematis mengikis sistem pangan Sudan, ladang demi ladang, jalan demi jalan, pasar demi pasar, mengakibatkan kelaparan massal.

Laporan tersebut menyoroti bahwa jutaan keluarga hanya dapat mengakses satu kali makan sehari di dua negara bagian yang paling parah terkena dampak konflik, Darfur Utara dan Kordofan Selatan.

“Seringkali, mereka melewatkan makan selama berhari-hari dan menambahkan banyak orang terpaksa makan daun dan pakan ternak untuk bertahan hidup," kata laporan itu.

LSM tersebut mengatakan bahwa dapur umum yang didirikan untuk menyiapkan dan berbagi makanan secara kolektif kesulitan untuk mencukupi kebutuhan makanan yang langka karena sumber daya semakin menipis. Krisis ini diperparah oleh krisis ekonomi yang memburuk dan perubahan iklim. (Sumber: Al Jazeera)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama