JAKARTA (wartamerdeka.info) - Jutaan warga Palestina memperingati ulang tahun ke-78 Nakba, dalam bahasa Arab berarti “bencana”, sebuah istilah yang merujuk pada pengusiran massal dan pengungsian sekitar 750.000 warga Palestina dari rumah mereka selama perang tahun 1948 yang terkait dengan pembentukan Israel.
Peringatan pada Jumat ini adalah peringatan Nakba ketiga sejak perang genosida Israel di Gaza dimulai, dan terjadi ketika lebih dari dua juta orang di wilayah yang terkepung itu tetap mengungsi dan terbatas pada sebagian kecil wilayah mereka.
Lebih dari enam bulan setelah gencatan senjata pada Oktober tahun lalu, penduduk Gaza berdesakan di di jalur yang hanya selebar 40 km (25 mil) di sepanjang pantai Mediterania, terhimpit zona yang dikendalikan Israel mencakup sebagian besar wilayah lainnya.
Nakba merujuk pada pengusiran dan pemindahan sistematis warga Palestina antara tahun 1947 dan 1949, ketika kelompok paramiliter Zionis merebut kota-kota dan desa-desa di wilayah yang kemudian menjadi negara Israel.
Para sejarawan memperkirakan bahwa sekitar 750.000 warga Palestina, kira-kira sepertiga dari populasi saat itu, dipaksa meninggalkan rumah mereka dan lebih dari 400 desa dan lingkungan perkotaan dikosongkan atau dihancurkan untuk memberi jalan bagi imigran Yahudi baru.
Ratusan ribu dari mereka yang diusir dan keturunan mereka saat ini bermukim di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat yang diduduki, Gaza, dan di seluruh wilayah tersebut, termasuk Yordania, Lebanon, dan Suriah. Banyak yang masih menyimpan kunci, surat kepemilikan, dan dokumen rumah mereka di wilayah yang saat ini menjadi Israel, mewariskannya dari generasi ke generasi sebagai simbol pengusiran mereka dan harapan untuk kembali di masa depan.
Para pengungsi Palestina terus menuntut hak untuk kembali ke kota dan desa tempat mereka atau kerabat mereka dipaksa keluar.
Hak untuk kembali ini, yang diabadikan dalam Resolusi Majelis Umum PBB 194, tetap menjadi salah satu isu inti yang belum terselesaikan dalam negosiasi yang telah lama terhenti antara Israel dan Palestina.
Bagi banyak warga Palestina, perang yang sedang berlangsung di Gaza dan pengusiran kembali di seluruh wilayah tersebut menggarisbawahi keyakinan mereka bahwa Nakba bukanlah peristiwa sejarah tunggal, melainkan proses perampasan hak yang berkelanjutan.
Saat mereka memperingati ulang tahun ke-78, para aktivis dan penyintas mengatakan bahwa peringatan mereka adalah tindakan mengenang sekaligus penegasan kembali tuntutan mereka akan keadilan, kepulangan, dan penentuan nasib sendiri. (Sumber: Al Jazeera)





