![]() |
| Para komuter melewati papan reklame raksasa pemimpin tertinggi Iran yang terbunuh, Ali Khamenei, di Lapangan Valiasr di Teheran pada 19 April 2026. Atta Kenare/AFP/Getty Images |
JAKARTA (wartamerdeka.info) - Amerika Serikat harus mengakhiri blokade pelabuhan Iran sebelum pembicaraan dapat dilanjutkan, dan kepemimpinan di Iran saat ini lebih kohesif (bersatu, red) daripada yang digambarkan Trump dalam unggahannya di medsos menyatakan pemimpin Iran telah terpecah belah sejak blokade Selat Hurmuz.
"Saya pikir itu adalah salah tafsir serius terhadap kepemimpinan Iran. Kepemimpinan cukup kohesif, dan kita telah melihat ini dalam pelaksanaan perang dan negosiasi," kata Mehrat Kamrava, seorang profesor pemerintahan di Universitas Georgetown Qatar, kepada Becky Anderson dari CNN.
Tata kelola pemerintahan di Iran menjadi jauh lebih rumit sejak Amerika Serikat dan Israel menyingkirkan sebagian besar pemimpin militer dan politik tertinggi rezim, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Sekelompok pejabat yang dulunya bersaing dari berbagai spektrum politik Republik Islam kini menentukan masa depan negara di bawah ancaman perang eksistensial, dan di tengah ketidakhadiran pengambil keputusan utama, Mojtaba Khamenei, yang menggantikan mendiang ayahnya sebagai pemimpin tertinggi yang baru.
Para pejabat ini juga dipaksa untuk menyeimbangkan visi mereka tentang masa depan Iran dengan tekanan domestik dari kelompok-kelompok garis keras yang menolak untuk menyatakan kekalahan dan tekanan eksternal dari dorongan Trump menyatakan kemenangan.
Menurut ahli, terlepas dari perbedaan politik mereka, kelompok pejabat ini tampaknya bertekad secara terbuka menunjukkan kohesi, meskipun mereka berbeda pendapat tentang bagaimana menavigasi perang dan melakukan diplomasi dengan AS, menurut para ahli.
“Berbagai faksi kepemimpinan Iran sekarang lebih selaras daripada sebelum perang. Karena lingkaran ini jauh lebih kecil, lebih bersatu dalam strategi yang mereka gunakan untuk perang dibanding sebelumnya di bawah Ali Khamenei," kata Trita Parsi, Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, kepada CNN.
Seperti yang disampaikan Trump sebelumnya, dirinya menggambarkan pemerintah Iran sangat terpecah belah, ketika ia memperpanjang gencatan senjata untuk memberi waktu mengajukan proposal yang “terpadu”. Kegagalan Iran hadir di Pakistan untuk putaran kedua pembicaraan dengan Wakil Presiden JD Vance menunjukkan betapa terpecah belahnya kepemimpinan di Iran. (sumber: CNN)






