![]() |
| Api dan asap membubung dari pusat perawatan Ebola di Rwampara, di bagian timur Republik Demokratik Kongo. [Dirole Lotsima Dieudonne/AP Photo] |
JAKARTA (wartamerdeka.info) - Warga di sebuah kota yang menjadi pusat wabah Ebola di timur Republik Demokratik Kongo (DRC) telah membakar fasilitas perawatan setelah di cegah untuk mengambil jenazah seorang pria setempat, menandakan ketidakpercayaan dan kemarahan yang mendalam seputar respons terhadap virus tersebut.
Serangan itu terjadi pada hari Kamis di Rwampara, di provinsi Ituri, di mana petugas kesehatan telah berjuang untuk menahan penyakit tersebut di daerah dengan sedikit fasilitas medis dan di mana banyak orang mengungsi akibat konflik.
Saksi mata mengatakan, sekelompok pemuda menyerbu pusat tersebut setelah pihak berwenang menolak untuk melepaskan jenazah seorang temannya yang diyakini telah meninggal karena Ebola. Kelompok itu kemudian membakar sebagian fasilitas tersebut.
“Polisi turun tangan mencoba menenangkan situasi, tetapi sayangnya mereka tidak berhasil. Para pemuda itu akhirnya membakar pusat tersebut,” kata Alexis Burata, seorang mahasiswa setempat yang mengatakan dirinya berada di dekat lokasi kejadian saat itu, kepada Associated Press.
Seorang reporter AP, di lapangan, melihat orang-orang membobol gedung dan membakar barang-barang di dalamnya, serta yang tampak seperti jenazah setidaknya satu korban dugaan Ebola yang disimpan di sana. Para pekerja bantuan terlihat melarikan diri dari pusat tersebut dengan kendaraan.
Pihak berwenang mengatakan kejadian ini mencerminkan keseimbangan yang sulit antara langkah-langkah kesehatan masyarakat dan adat istiadat setempat, khususnya seputar kematian dan penguburan.
Karena jenazah korban Ebola sangat menular, pejabat Kongo dan Badan Kesehatan Internasional bersikeras agar penguburan dilakukan oleh tim khusus yang mengenakan alat pelindung diri. Praktik pemakaman tradisional, yang seringkali melibatkan pencucian dan menyentuh jenazah serta pertemuan besar para pelayat, dianggap berisiko tinggi untuk penularan.
“Keluarga, teman, dan kaum muda lainnya ingin membawa pulang jenazahnya untuk dimakamkan meskipun instruksi dari pihak berwenang selama wabah virus Ebola ini sudah jelas. Semua jenazah harus dimakamkan sesuai peraturan,” kata Wakil Komisaris Senior, Jean Claude Mukendi, kepala keamanan publik di provinsi Ituri.
Namun, tindakan tersebut sering dianggap kejam dan tidak manusiawi oleh keluarga yang tidak diberi kesempatan untuk melakukan upacara terakhir bagi orang yang mereka cintai, sehingga memicu kecurigaan bahwa petugas kesehatan tidak transparan tentang apa yang terjadi di dalam pusat perawatan.
Hama Amadou, koordinator lapangan untuk organisasi kemanusiaan ALIMA, yang memiliki tim yang bekerja di Rwampara, mengatakan bahwa keadaan kemudian kembali tenang dan para pekerja bantuan telah melanjutkan operasi.
Insiden ini menyoroti tantangan yang lebih luas yang dihadapi oleh otoritas Kongo dan lembaga internasional saat mereka mencoba untuk menahan virus langka dan mematikan di wilayah yang rawan konflik.
Semenetara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan wabah tersebut sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, memperingatkan bahwa kekerasan, pengungsian penduduk, dan ketidakpercayaan masyarakat menghambat upaya untuk menghentikan penyebaran penyakit tersebut. (Sumber: Al Jazeera)






