Minyak mentah Brent turun ke harga terendah sejak awal Maret sebelum penandatanganan kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri perang AS-Israel di Iran.
![]() |
| Kapal tanker dan kapal kargo terlihat di Teluk Oman pada 16 Juni 2026 (AP) |
JAKARTA - Harga minyak terus turun, seiring meningkatnya harapan akan kembalinya stabilitas di pasar energi global sebelum penandatanganan perjanjian kerangka kerja untuk mengakhiri perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun hampir 1 persen pada hari Rabu, memperpanjang penurunan sekitar 5 persen pada masing-masing dua hari sebelumnya.
Patokan internasional berada di $78,24 per barel, harga terendah sejak 3 Maret, tiga hari setelah dimulainya perang.
Setelah naik lebih dari 50 persen selama konflik, harga minyak mentah pada Rabu sore di Asia hanya sekitar 7 persen lebih tinggi daripada sebelum AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
“Prognosis jangka pendek tampaknya optimis dan mengasumsikan tidak ada kemunduran signifikan,” kata Tamas Varga, analis di PVM Oil Associates di London, dalam sebuah komentar.
Menurut Varga, selama empat sesi perdagangan terakhir, Brent, misalnya, telah turun sebesar $17 per barel, sebuah indikasi kepercayaan yang jelas bahwa yang terburuk telah berlalu, setidaknya sejauh menyangkut gangguan pasokan,” kata Varga.
Vandana Hari, pendiri penyedia analisis pasar minyak yang berbasis di Singapura, Vanda Insights, mengatakan bahwa meskipun pengumuman nota kesepahaman (MoU) AS dan Iran telah membawa kelegaan bagi pasar, bagian tersulit, yaitu menepati janji dan komitmen dalam perjanjiannya.
“Penurunan harga minyak mentah sepenuhnya didorong oleh sentimen,” kata Hari kepada Al Jazeera.
Menurutnya, pasar mengantisipasi prospek pembukaan kembali Selat Hormuz dan kemungkinan memperhitungkan skenario terbaik untuk normalisasi arus, yang berarti potensi hambatan dari segi logistik hingga ketegangan geopolitik yang kembali muncul tidak diperhitungkan secara memadai.
Meskipun banyak detail dari MoU yang akan ditandatangani pada hari Jumat masih belum jelas, Iran diperkirakan akan mengakhiri penutupan hampir total Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, di antara konsesi lainnya.
Pembukaan kembali selat sepenuhnya akan menjadi langkah penting untuk memulihkan kepercayaan pada rantai pasokan energi, setelah hampir empat bulan kekacauan akibat perang.
Lalu lintas maritim di selat, yang mengalir antara Iran dan Oman, telah berkurang drastis karena ancaman rudal, drone, dan ranjau Iran, yang mengakibatkan berkurangnya pasokan minyak global sekitar 14 juta barel setiap hari.
Bahkan jika perang berakhir, aliran energi global diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih seperti sebelum perang.
Diperkirakan lebih dari 500 kapal menunggu untuk keluar dari Teluk melalui selat tersebut. Sementara proses untuk memastikan saluran tersebut bebas dari ranjau laut kemungkinan akan memakan waktu minimal beberapa minggu.
Stephen Cotton, Sekretaris Jenderal Federasi Pekerja Transportasi Internasional, mengatakan upacara penandatanganan yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, akan menjadi paling banter permulaan dari proses normalisasi.
“Tumpukan kapal yang terdampar dan kebutuhan akan pergantian awak dan istirahat berarti kembalinya pola pelayaran normal secara realistis masih membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan,” kata Cotton dalam sebuah pernyataannya pada hari Senin.
Sumber: Al Jazeera.
