![]() |
| AP Photo / Anjum Naveed |
Sumber: Sputnik
JAKARTA - Iran dan Amerika Serikat sedang membahas kompensasi atas kerusakan yang dialami Iran akibat aksi militer selama dialog mereka, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, pada Senin.
"Salah satu topik memorandum adalah mempersiapkan kondisi yang diperlukan untuk kompensasi atas kerusakan perang. Ada berbagai pilihan untuk masalah ini, salah satunya adalah mengalokasikan sejumlah dana. Jika kita mencapai memorandum kesepahaman tentang isu-isu umum dalam 14 poin, maka dalam jangka waktu 30 atau 60 hari kita harus membahas detailnya," kata Baghaei dalam sebuah pengarahan.
Diplomat tersebut menegaskan kembali bahwa Iran fokus pada pengakhiran perang dalam dialognya dengan AS, dan bahwa isu-isu mengenai program nuklir Iran tidak sedang dibahas. Baghaei sebelumnya menekankan bahwa jika memorandum kesepahaman tentang pengakhiran konflik tercapai, Iran dan AS kemudian akan mulai membahas isu-isu nuklir.
Sementara itu, Pemerintahan AS yakin bahwa kejelasan mengenai kesepakatan dengan Iran mungkin akan datang pada akhir pekan depan, demikian dilaporkan portal berita Axios pada hari Minggu, mengutip seorang pejabat senior Gedung Putih.
The New York Times melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah mengajukan syarat yang lebih keras untuk kemungkinan kesepakatan mengakhiri konflik dengan Iran dan telah menyampaikan proposal baru kepada Teheran. Axios kemudian melaporkan bahwa Iran akan memberikan tanggapan mereka dalam waktu sekitar tiga hari.
"Akan ada kesepakatan. Seberapa cepatnya, kita akan lihat. Kami bersedia menunggu agar presiden mendapatkan apa yang dia minta. Bisa seminggu. Bisa kurang. Bisa lebih. Pada pergantian pekan, kami berharap akan ada sesuatu," kata pejabat itu kepada Axios.
Seperti diketahui, pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Pembicaraan selanjutnya di Islamabad dan berakhir tanpa hasil, dan Amerika Serikat memulai blokade pelabuhan Iran. Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang penghentian permusuhan memberi Iran waktu untuk mengajukan proposal perdamaian.
