Oleh: Al Jazeera Staff, AP dan Reuters
JAKARTA - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan telah melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan yang digunakan oleh pasukan AS yang diklaim digunakan untuk menyerang menara komunikasi Iran.
Sementara Kuwait, tuan rumah pasukan AS, mengatakan sistem pertahanannya mencegat rudal dan drone di tengah bunyi sirene di seluruh negeri.
“Menyusul agresi tentara AS terhadap menara komunikasi di Pulau Sirik di Provinsi Hormozgan satu jam yang lalu, pesawat tempur Angkatan Udara IRGC menargetkan pangkalan udara tempat agresi itu berasal, dan target yang diprediksi telah dihancurkan,” kata IRGC dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita semi-resmi Fars pada Senin.
Kantor Berita Negara KUNA melaporkan, pertahanan udara di Kuwait, tempat pangkalan AS berada, mencegat rudal dan drone saat sirene berbunyi di seluruh negeri.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Kuwait mengutuk serangan Iran di wilayahnya.
“Kementerian menegaskan bahwa kelanjutan dan pengulangan agresi ini merusak upaya yang bertujuan untuk meredakan ketegangan dan mengancam keamanan dan stabilitas di kawasan tersebut,” demikian pernyataan Kemenlu Kuwait.
Serangan-serangan tersebut terjadi setelah Amerika Serikat mengatakan telah melakukan serangan terhadap Iran, akhir pekan ini, sebagai tanggapan atas tindakan agresif Iran yang mencakup penembakan jatuh pesawat tak berawak MQ-1 AS yang beroperasi di atas perairan internasional.
“Pesawat tempur AS dengan cepat merespons dan melenyapkan pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, dan dua pesawat tak berawak serang satu arah yang menimbulkan ancaman nyata bagi kapal-kapal yang melintasi perairan regional,” kata Komando Pusat (CENTCOM) dalam sebuah unggahan di X, lalu menambahkan mereka akan terus melindungi aset dan kepentingan AS selama gencatan senjata yang sedang berlangsung. CENTCOM mengatakan tidak ada pasukan AS yang terluka dalam serangan tersebut.
Terdapat sinyal yang beragam mengenai apakah kedua pihak hampir mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata yang rapuh tersebut.
Kedua pihak dilaporkan telah meninjau potensi nota kesepahaman (MoU) yang akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari lagi dan memulai negosiasi untuk mengakhiri perang secara permanen.
Menurut laporan media AS, MoU tersebut akan menyatakan pengiriman melalui Selat Hormuz tidak dibatasi, artinya tidak akan ada bea, tidak ada gangguan, dan Iran akan memiliki waktu 30 hari untuk menghilangkan semua ranjau laut.
MoU tersebut juga dilaporkan akan mencakup komitmen dari Iran untuk tidak berupaya membangun senjata nuklir.
Selama periode 60 hari setelah dimulainya perjanjian baru, isu pertama yang akan dibahas dalam perundingan perdamaian adalah program pengayaan uranium Iran, dan bagaimana cara membuang persediaan uranium yang sangat diperkaya tersebut.
Sementara surat kabar New York Times melaporkan, Trump sejak itu telah memperketat persyaratan kerangka kerja potensial, sementara media Axios menulis presiden meminta beberapa amandemen terhadap perjanjian pendahuluan yang dicapai para utusannya dengan Iran.
Media pemerintah Iran melaporkan pada hari Sabtu bahwa usulan MoU dengan AS mencakup kesepakatan untuk melepaskan aset beku senilai $12 miliar.
Laporan tersebut mengutip draf memorandum tidak resmi, dan berita serupa yang disiarkan oleh televisi pemerintah awal pekan ini ditolak oleh Gedung Putih sebagai rekayasa.
“Negosiasi telah dimulai di tengah kecurigaan dan ketidakpercayaan yang serius, dan pertukaran pesan berlangsung dalam suasana ini,” kata Baghaei.
“Pihak lain terus-menerus mengubah pandangannya dan mengajukan tuntutan baru atau kontradiktif, wajar jika situasi ini akan memperpanjang negosiasi,” katanya, lalu menambahkan Teheran memandang tindakan Israel di kawasan itu, termasuk di Lebanon, sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari AS.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengatakan kepada kantor berita IRNA Iran pada Minggu bahwa dialog dan pertukaran pesan sedang berlangsung dengan AS.
“Tidak mungkin menilai sampai kesimpulan yang jelas tercapai,” kata Araghchi di tengah spekulasi baru-baru ini tentang negosiasi tersebut. “Semua yang dikatakan sekarang hanyalah spekulasi dan tidak boleh dianggap serius sampai ada kepastian.” katanya.
Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah pernyataan di platform Truth Social miliknya pada Minggu malam, Teheran benar-benar ingin membuat kesepakatan dan bahwa kesepakatan apa pun yang tercapai akan menjadi kesepakatan yang baik bagi AS dan mereka yang bersama kita.
Ia mengecam para kritikus domestik karena secara negatif mengkritik penanganannya terhadap perang tetapi tidak menyebutkan serangan AS terhadap Iran.
“Duduk saja dan santai, semuanya akan berjalan baik pada akhirnya. Selalu begitu,” katanya. (sumber: Al Jazeera)
