Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Pembicaraan Damai Dramatis, Terkait Ancaman Trump dan Serangan Israel di Lebanon

Wakil Presiden AS JD Vance (kiri) bereaksi di samping utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff (kedua dari kanan), dan Jared Kushner (kanan), sambil menunggu untuk bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di Buergenstock Resort di Obbuergen, dekat Lucerne, Swiss, Minggu, 21 Juni 2026 (Nathan Howard/Pool via AP)

JAKARTA - Pembicaraan antara AS dan Iran sedang berlangsung di Swiss, kedua negara berupaya mengakhiri perang mereka secara permanen, meskipun muncul keretakan terkait ancaman Presiden Donald Trump dan penolakan Israel untuk menghentikan permusuhan di Lebanon.

Teheran dan Washington menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari untuk negosiasi awal pekan ini. Namun, kesepakatan tersebut menghadapi ketegangan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan pada hari Sabtu bahwa mereka akan menutup Selat Hormuz lagi sebagai tanggapan atas serangan Israel di Lebanon, dan Trump mengancam akan melakukan serangan baru terhadap Iran.

“Ini adalah drama menegangkan dalam salah satu latihan diplomatik paling penting di dunia,” kata Osama Bin Javaid dari Al Jazeera, yang melaporkan dari resor pegunungan Swiss Burgenstock tempat pembicaraan dimulai pada hari Minggu.

Diskusi dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan Kepala Negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, dengan kehadiran mediator dari Qatar dan Pakistan.

“Hambatan terbesar dalam proses ini tetaplah Israel, karena isu Lebanon adalah sesuatu yang sangat penting bagi Iran,” kata Bin Javaid.

Tidak lama setelah pembicaraan dimulai, Trump, yang tidak hadir dalam pembicaraan tersebut, menulis di Truth Social bahwa “Iran harus segera menghentikan PROKSI mereka yang di bayar mahal di Lebanon agar tidak menimbulkan masalah”, merujuk pada Hizbullah.

“Jika mereka tidak melakukannya, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, hanya saja lebih keras,” katanya.

Ghalibaf menanggapi di X bahwa pihaknya tidak mengandalkan ancaman Amerika. “Tidakkah mereka berpikir bahwa jika ancaman mereka berpengaruh, mereka tidak akan sampai pada titik keputusasaan seperti sekarang ini?” tulis Ghalibaf. 

Sebelumnya, Vance menunjukkan optimisme ketika berbicara kepada wartawan bersama Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani.

“Pembukaan Selat Hormuz, penghentian program nuklir Iran semua hal ini telah tercapai. Pertanyaan yang ada di hadapan kita sekarang adalah seberapa banyak lagi yang dapat kita capai bersama,” kata Vance.

“Bisakah kita memulai lembaran baru? Bisakah kita mengubah hubungan di Timur Tengah?” ujar Vance

Sharif mengatakan, dirinya berharap diskusi akan berakhir dengan dokumen yang luar biasa di tangan para pihak yang akan mempromosikan perdamaian, kemajuan, dan kemakmuran di seluruh dunia.

Delegasi Iran tidak berbicara selama pidato pembukaan, juga tidak muncul dalam foto atau rekaman bersama Vance, yang menunjukkan betapa tegangnya situasi, seperti yang dilaporkan oleh James Bays dari Al Jazeera di Burgenstock.

Kantor Berita Fars Iran melaporkan, pertemuan segi empat putaran pertama selama 80 menit antara Iran, AS, Qatar, dan Pakistan berakhir untuk konsultasi internal.

Sementara itu, anggota delegasi Iran, Hussein Gurbanzadeh, kepada televisi pemerintah mengatakan, negosiasi awal mencakup aset yang dibekukan dan pencabutan sanksi terkait sektor energi Iran, dengan draf proposal final yang sudah siap.

Ketegangan atas Lebanon
Pembicaraan berlangsung di tengah permusuhan yang terus berlanjut di Lebanon yang telah membebani kesepakatan tersebut.

Israel terus melancarkan serangan terhadap Lebanon tanpa henti, menewaskan puluhan orang dalam beberapa hari terakhir. IRGC Iran mengutip serangan yang sedang berlangsung ketika mereka menyatakan Selat Hormuz ditutup.

Mohammad Mokhber, penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menuduh AS gagal menerapkan klausul pertama dari kesepakatan sementara 14 poin dengan Iran, yang menetapkan gencatan senjata di semua lini, termasuk Lebanon.

Ia mengatakan bahwa jika kesepakatan itu tidak diterapkan, aliran energi melalui wilayah tersebut akan tetap terhenti.

Militer AS mengatakan kapal-kapal komersial terus beroperasi di jalur air tersebut, dengan 55 kapal dagang melintasi selat pada hari Sabtu yang sarat dengan lebih dari 17 juta barel minyak.

Seorang penasihat dan asisten pemimpin tertinggi kepada kantor berita Fars mengatakan, meskipun Trump mengatakan tidak akan ada biaya tol yang dikenakan untuk melewati selat tersebut selama atau setelah gencatan senjata 60 hari, Teheran akan berupaya mengubah beberapa aturan yang mengatur Selat Hormuz dalam kerangka mekanisme hukum dan internasional.

Laporan Patty Culhane dari Al Jazeera di Washington, DC, terlepas dari meningkatnya ketegangan di tengah perbedaan pandangan antara AS dan Israel, tujuan AS dan Iran sejalan terkait Lebanon.

“Israel berada dalam posisi di mana mereka harus memutuskan apakah mereka ingin membuat marah pihak AS atau ingin menghentikan permusuhan?” ujar Patty Culhane.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Minggu bahwa Israel akan terus menduduki Lebanon Selatan.

“Kami telah mendirikan zona keamanan di Lebanon, dan akan mempertahankannya selama diperlukan untuk melindungi rakyat kami,” katanya kepada wartawan di Yerusalem, menyusul kunjungan sebelumnya oleh Kepala Staf Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir ke Lebanon selatan.

“Kami terus berjuang. Pasukan perlu dipersiapkan dengan kesiapan tinggi untuk memperbarui aktivitas tempur,” kata Zamir.

Sementara itu, kelompok Hizbullah yang bersekutu dengan Iran mengklaim serangan terhadap pasukan Israel. Setidaknya enam tentara Israel telah tewas, dan 20 lainnya terluka, selama beberapa hari terakhir dalam serangan Hizbullah.

Kelompok itu juga mengutuk pembicaraan mendatang antara Lebanon dan AS di Washington, dengan mengatakan Beirut akan dipaksa untuk menyita kedaulatan Lebanon.

Serangan Israel terhadap Lebanon telah menewaskan 4.106 orang dan melukai 12.153 lainnya sejak 2 Maret, sebut Kementerian Kesehatan Lebanon dalam data terbarunya pada hari Minggu.

Sumber: Al Jazeera

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama