
Perselisihan mengenai Selat Hormuz memperbarui permusuhan antara AS dan Iran (Media sosial via Reuters)
JAKARTA - Militer AS telah menyerang Iran beberapa jam sebelum blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran diberlakukan kembali, karena Washington dan Teheran sama-sama mengklaim mengendalikan Selat Hormuz.
Komando Pusat AS, komando regional militer yang dikenal sebagai CENTCOM, mengatakan serangan terbarunya dimulai pukul 16.45 ET (20.45 GMT) pada hari Senin bertujuan untuk mengurangi kemampuan Iran menyerang warga sipil dan kapal dagang yang tidak bersalah di selat tersebut.
CENTCOM kemudian mengumumkan berakhirnya serangan tersebut dan mengatakan bahwa serangan terbaru terhadap Iran berlangsung selama lima jam. Ditambahkan, pasukan AS telah berhasil menyerang target militer di seluruh Iran termasuk Bushehr, Chah Bahar, Jask, Konarak, Abu Musa, dan Bandar Abbas.
Televisi pemerintah Iran dan kantor berita semi-resmi melaporkan, adanya ledakan sepanjang malam di sepanjang pantai selatan negara itu, termasuk kota pelabuhan Bandar Abbas, dan di pulau Kish dan Qeshm, serta kota Jam di provinsi Bushehr.
Sementara kantor berita Fars, mengutip kantor gubernur regional, melaporkan sebuah proyektil yang menghantam Bandar Abbas bagian barat tidak menyebabkan korban jiwa, lapor kantor berita Fars.
Begitu pula kantor berita Tasnim Iran melaporkan, pasukan Iran telah menyerang beberapa kapal yang melanggar di selat tersebut, dan sebuah drone buatan AS telah ditembak jatuh di dekat Bandar Abbas.
Uni Emirat Arab mengatakan, dua kapal tanker minyaknya telah dihantam oleh rudal jelajah Iran di perairan Oman di Selat Hormuz. UEA menambahkan bahwa seorang awak kapal berkebangsaan India tewas di salah satu kapal tanker tersebut, dan delapan orang lainnya terluka.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan bahwa mereka juga telah melancarkan pembalasan yang lebih luas terhadap sekutu dan kepentingan AS di seluruh Teluk.
Tentara Iran pada hari Senin telah melakukan serangan drone terhadap target militer AS di Kuwait. Dalam pernyataan yang diposting penyiar negara IRIB, tentara telah meluncurkan drone ke sistem rudal Patriot AS, tangki bahan bakar, menara pengawas, gudang amunisi, dan sistem komunikasi.
IRGC juga mengatakan telah menargetkan beberapa gudang penyimpanan senjata, pusat komunikasi satelit, dan sebuah bangunan yang menampung pasukan AS di Pangkalan al-Juffair di Bahrain.
Sebelumnya pada hari Senin, Iran kembali menyerang target di Bahrain, Yordania, dan Kuwait.
Presiden AS Donald Trump secara resmi memberitahu Kongres pada 10 Juli bahwa pertempuran dengan Iran telah dimulai kembali pada 7 Juli, dengan menggunakan wewenangnya untuk mempertahankan pasukan AS dalam pertempuran selama 60 hari lagi tanpa persetujuan anggota parlemen.
Anggota senior Partai Demokrat, Chuck Schumer, mengkritik keputusan untuk memulai kembali permusuhan. “Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat sama-sama memilih untuk menarik pasukan kita dari zona bahaya dan mengakhiri perang ini sekarang. Trump harus mematuhinya,” katanya dalam sebuah unggahan di X.
Blokade AS terhadap Iran, yang dikonfirmasi oleh Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC) yang dipimpin Angkatan Laut AS, dijadwalkan akan dimulai pada pada hari Selasa pukul 20:00 GMT.
Hal ini menandai runtuhnya gencatan senjata yang dicapai pada bulan Juni berdasarkan nota kesepahaman AS-Iran, karena kedua pihak saat ini memperebutkan jalur air yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia sebelum AS dan Israel memulai perang mereka terhadap Iran pada bulan Februari lalu.
Blokade AS mencakup pelabuhan dan terminal Iran di sepanjang garis pantai selatan, menurut JMIC.
Kapal yang menuju selain ke Iran akan diizinkan melewati selat tersebut, dan pengiriman bantuan kemanusiaan akan diizinkan setelah pemeriksaan, kata JMIC, tetapi kapal yang dicurigai membantu Iran menghindari blokade melalui transfer antar kapal akan menghadapi pemeriksaan, dan kapal yang gagal mematuhi aturan berisiko dinonaktifkan atau dihancurkan.
Perang pernyataan mengenai siapa yang mengendalikan Selat Hormuz berlanjut pada hari Senin, Trump kembali bersikeras bahwa selat tersebut terbuka dan mengumumkan bea masuk 20 persen untuk kargo yang dikirim melalui selat tersebut sebagai imbalan atas perlindungan AS.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menolak klaim presiden AS tersebut dengan mengatakan bahwa Teheran selalu menjadi penjaga selat dan akan tetap selamanya.
Pada konferensi pers hari Senin, Trump mengatakan kemampuan ofensif Iran sedang dibongkar, tetapi ia masih berpikir kesepakatan mungkin terjadi meskipun pertempuran terbuka kembali terjadi.
Mike Hanna dari Al Jazeera melaporkan dari Gedung Putih, mengatakan bahwa pertempuran tersebut tidak serta merta menutup kemungkinan untuk kembali ke perundingan.
“Gencatan senjata telah berakhir, tetapi negosiasi masih berlangsung,” katanya, dengan menambahkan bahwa Washington ingin tetap menjaga konsep negosiasi meskipun tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung, karena pemerintah tetap bersemangat untuk mengamankan kesepakatan.
Trump juga mengulangi tuntutannya agar negara-negara Teluk membantu menanggung biaya perlindungan pelayaran, dengan mengatakan bahwa Washington melindungi bagian dunia yang sangat kaya dan mengharapkan imbalan untuk itu.
Eskalasi saat ini terjadi setelah serangan balasan selama beberapa minggu yang secara bertahap mengikis gencatan senjata di bulan Juni, karena Iran dan AS berselisih tentang siapa yang berwenang mengendalikan lalu lintas melalui selat tersebut.
Dikabarkan, harga minyak naik lebih dari 9 persen pada hari Senin, minyak mentah Brent naik menjadi sekitar $81 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak pertengahan Juni.
Kpler, perusahaan pelacak kapal, mengatakan penyeberangan melalui selat tersebut turun sekitar 52 persen antara 10 Juli dan 12 Juli dibandingkan dengan minggu sebelumnya.