Tujuh anggota OPEC+, termasuk Arab Saudi dan Rusia, akan meningkatkan produksi sebesar 188.000 barel per hari. // Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

El Nino Makin Terasa, Pemkab Barru Perkuat Kesiapsiagaan dan Evaluasi Status Bencana


BARRU (wartamerdeka.info) - Pemerintah Kabupaten Barru memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi dampak fenomena El Nino yang mulai semakin dirasakan masyarakat. Kondisi tersebut ditandai dengan meningkatnya titik kebakaran, berkurangnya ketersediaan air bersih, serta ancaman terhadap sektor pertanian.

Sekretaris Daerah Kabupaten Barru, Andi Syarifuddin, S.IP., M.Si., membuka Rapat Koordinasi (Rakor) lintas sektor dalam rangka penanganan dan antisipasi bencana di Kabupaten Barru. Rakor berlangsung di Ruang Data Kantor Bupati Barru, Senin (24/8/2026).

Rakor tersebut menjadi forum penting untuk menyatukan langkah Pemerintah Kabupaten Barru bersama TNI, Polri, BPBD, PLN, OPD terkait, pemerintah kecamatan, serta stakeholder lainnya dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem dan dampak El Nino.


Dalam paparannya, Andi Syarifuddin mengatakan, kondisi yang terjadi saat ini membutuhkan langkah bersama, bukan penanganan secara sektoral. Fenomena El Nino yang sebelumnya diperkirakan berlangsung sejak Juni hingga Oktober 2026 telah memberikan dampak nyata di sejumlah wilayah. 

“Rapat lintas sektor yang kita laksanakan hari ini berangkat dari kondisi yang kita hadapi saat ini. Fenomena El Nino sejak awal telah diperkirakan akan terjadi mulai Juni dan kemungkinan berlangsung cukup lama hingga Oktober,” jelasnya.

Pemkab Barru sebelumnya telah melakukan berbagai langkah antisipasi, termasuk menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana akibat kondisi cuaca tersebut.


Pemerintah daerah juga telah menetapkan status siaga darurat bencana periode 21 Juli hingga 30 September 2026. Namun, seiring perkembangan kondisi di lapangan, diperlukan evaluasi bersama untuk menentukan langkah penanganan berikutnya, termasuk kemungkinan peningkatan status menjadi darurat bencana.

“Kita melihat eskalasi yang ada. Setiap hari ada saja titik kebakaran, kemudian titik-titik yang membutuhkan pelayanan air bersih juga semakin bertambah. Karena itu, kita perlu duduk bersama untuk menentukan apa yang harus kita lakukan,” ujarnya.

Andi Syarifuddin juga menyoroti laporan mengenai munculnya sejumlah titik panas (hotspot) yang terpantau melalui sistem pemantauan satelit. Bahkan, dalam satu malam pernah dilaporkan terdapat sekitar 40 titik api di wilayah Kabupaten Barru.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa titik panas yang terpantau satelit tidak serta-merta seluruhnya merupakan kebakaran hutan dan lahan. Sebagian dapat berasal dari aktivitas masyarakat, termasuk pembakaran lahan untuk pembersihan.

“Ini menjadi perhatian kita semua karena kondisi lahan yang sangat kering membuat api mudah membesar dan sulit dikendalikan. Kebiasaan membakar lahan untuk membersihkan area juga memiliki risiko yang sangat besar dalam kondisi seperti sekarang,” katanya.

Dalam kondisi lahan yang kering, api yang semula kecil dapat dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran.

Selain ancaman kebakaran, El Nino juga mulai berdampak terhadap ketersediaan sumber air masyarakat. 

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Barru Umar Sinampe, dalam pemaparannya menyampaikan, berdasarkan informasi BMKG, curah hujan di Kabupaten Barru sepanjang Agustus hingga 24 Agustus 2026 berada pada kisaran 0–20 milimeter per bulan dan diperkirakan masih rendah pada September.

Kondisi tersebut mulai memengaruhi ketersediaan air masyarakat maupun sektor pertanian, terutama di wilayah bagian barat dan selatan Kabupaten Barru.

Berkurangnya debit sumber air menyebabkan sejumlah jaringan pelayanan air tidak dapat berfungsi secara normal. Karena itu, pelayanan dan distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah.

“Pencegahan dan kesiapsiagaan harus dilakukan bersama. Kita tidak hanya menunggu dampak terjadi,” tegasnya.

Sekda Barru memberikan apresiasi kepada jajaran TNI dan Polri yang selama ini aktif membantu masyarakat dalam menangani berbagai kejadian kebakaran.

Keterlibatan aparat bersama masyarakat dinilai sangat penting, terutama dalam menangani kebakaran yang terjadi di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Andi Syarifuddin juga menyampaikan apresiasi kepada PLN ULP Barru atas dukungannya dalam penanganan kondisi darurat, termasuk penyediaan peralatan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu pengadaan maupun distribusi air di wilayah terdampak.

Ia berharap dukungan peralatan tersebut dapat terus ditingkatkan sehingga kemampuan pemerintah daerah bersama seluruh stakeholder dalam merespons kondisi darurat semakin optimal.

Rakor juga membahas kemungkinan peningkatan status penanganan bencana dari siaga darurat menjadi darurat bencana.

Andi Syarifuddin menegaskan, keputusan tersebut tidak akan dilakukan secara tergesa-gesa, tetapi berdasarkan data kondisi lapangan, hasil pembahasan, serta rekomendasi dari seluruh stakeholder terkait.

“Apakah status ini segera kita tingkatkan dari siaga bencana menjadi darurat bencana, tentu kesimpulannya akan kita ambil berdasarkan diskusi dan masukan dari kita semua,” jelasnya.

Ia meminta seluruh pihak memberikan data dan rekomendasi secara objektif agar pemerintah daerah dapat mengambil keputusan yang tepat dan terukur.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita memastikan masyarakat tetap mendapatkan perlindungan dan pelayanan dasar di tengah kondisi seperti ini,” ujarnya.

Melalui Rakor tersebut, Pemkab Barru menegaskan komitmennya memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi dampak El Nino, dengan fokus utama pada pencegahan kebakaran, pemenuhan kebutuhan air bersih, perlindungan masyarakat, serta kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan memburuknya kondisi bencana

Rakor tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, jajaran TNI dan Polri, PLN ULP Barru, BPBD Kabupaten Barru, pimpinan OPD terkait, perwakilan para camat se-Kabupaten Barru, serta stakeholder lainnya.(syam)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama