JAKARTA (wartamerdeka) - Harapan memudar di Kolombia saat tim pencari menggali reruntuhan untuk menemukan korban selamat pascagempa dahsyat berkekuatan magnitudo 7,4, sementara harapan untuk menemukan korban selamat kian menipis.
Pihak berwenang menyatakan setidaknya 265 orang tewas dan lebih dari 3.500 orang terluka, sementara hampir 500 orang masih belum ditemukan akibat gempa terkuat yang melanda Kolombia pada abad ini.
Di Kota Pereira, tim penyelamat memusatkan perhatian pada sebuah toko roti yang runtuh. Mereka menduga seorang pedagang kaki lima bernama Pablo Loaiza mungkin masih terjebak di dalam reruntuhan.
Tim khusus yang menggunakan sensor getaran dan anjing pelacak telah melaporkan adanya tanda-tanda samar yang mengindikasikan kemungkinan masih ada orang yang hidup di bawah reruntuhan beton.
Di luar lokasi, kerabat terus berjaga dengan penuh kecemasan. "Rasanya jantung saya mau copot," ujar keponakannya, Sara Loaiza yang berusia 16 tahun.
Petugas penyelamat di Cali dan Pereira menggali tumpukan puing yang tidak stabil menggunakan derek dan peralatan manual, serta kerap meminta suasana hening agar mereka dapat mendengarkan suara-suara dari bawah reruntuhan.
Sementara itu, Presiden Abelardo de la Espriella telah menetapkan status darurat ekonomi dan masa berkabung nasional selama tiga hari, sementara ribuan warga tidur di luar ruangan dalam tenda-tenda darurat dan para sukarelawan menggalang bantuan berupa makanan, air, serta donor darah bagi masyarakat yang paling terdampak.
Sumber: Al Jazeera
