BREAKING NEWS

Terkait Kasus Denny Indrayana, OC Kaligis: Kapolda Metro Jaya Patut Dihukum Bayar Gugatan

OC Kaligis bersama asisten dan staf seusai bersidang JAKARTA (wartamerdeka.info) - Setelah mencermati eksepsi para Tergugat, Prof. Dr. ...

Membaca Political Marketing, Dedi Noerdiawan?

Dr Dedi Noerdiawan, salah seorang kandidat Bupati Lamongan pada Pilkada 2020

Oleh : W. Masykar

Tahu dan kenal nama Dedi Noerdiawan bukan dari hasil perkenalan, jabat tangan atau dikenalkan dan berlanjut ngobrol sambil menikmati pekat hitamnya kopi di sebuah Kedai Kopi, tapi mendengar dan membaca, kemudian mengenal nama Dedi Noerdiawan dari pemberitaan media dan dari perbincangan banyak orang.

Lebih dari itu, tidak pernah, apalagi ketemu sama sekali belum pernah. Lebih mengerti lagi, bahwa dia adalah dosen, masih mudah, cerdas dan disiplin, dan salah satu dari sejumlah tokoh yang akan mengikuti bursa pilkada kota Nasi Boranan ini, atau lebih gampangnya, dia adalah putra bupati Fadeli.

Menjelang pilkada Lamongan, ada sejumlah nama yang kemudian terus bermunculan, selain Yuhronur Efendi, Kartika Hidayati, Sa'im, Kaji Sholahuddin, Husnul Aqib, Biin Abdus Salam dan lainnya. Yang relatif agak pernah ketemu ya, Yuhronur Efendi dan Husnul Aqib.

Tulisan ini, bukan berbincang soal pernah bertemu atau tidak, kenal dekat dan akrab atau tidak, tapi lebih pada dorongan insting saja, karena agak mengagetkan adalah belakangan ini, nama Dedi Noerdiawan, salah seorang dari sejumlah nama yang diproyeksikan bakal maju kandidat bupati Lamongan, kembali tenggelam. Padahal sebelumnya, cukup meramaikan media massa.

Kemana dia? Jadi berangkatkah dia pada bursa perebutan kursi 01 Lamongan?
Atau timbul tenggelam ini, memang bagian dari strategi politik. Suatu strategi management politik yang terprogram secara rapi dan teratur,  bagian dari strategi marketing politik, Political marketing? Suatu langkah memasarkan dalam mengemas pencitraan, publik figur dan kepribadian (Personality) seseorang (kandidat) yang akan  berkompetisi dalam konteks Pemilu atau pilkada kepada masyarakat luas yang akan memilihnya.

Dalam hal ini tujuannya, membantu partai politik yang akan mengusungnya kelak untuk lebih baik dalam mengenalkan kepada  masyarakat yang diwakili atau menjadi target dan kemudian mengembangkan isu politik yang sesuai dengan aspirasi mereka.

Pendekatan kampanye politik, dengan cara pendekatan pemasaran politik tersebut setidaknya sebagai upaya, membangun preferensi pemilih dalam menentukan suaranya sekaligus merangkul simpati pihak kelompok atau lembaga, atau the third influencer of person seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, lembaga sosial keagamaan dan lainnya.

Menurut Kotler and Neil (1999:3), bahwa konsep political marketing, atau pengertian Political Marketing adalah: “Suatu kegiatan pemasaran untuk menyukseskan kandidat atau partai politik dengan segala aktivitas politiknya melalui kampanye program pembangunan perekonomian atau kepedulian sosial, tema, isu, gagasan, ideologi, dan pesan, bertujuan program politik yang ditawarkan memiliki daya tarik, sekaligus mampu mempengaruhi setiap warga negara dan lembaga secara efektif.”

Dalam tulisannya bertajuk “The Impact of Local Political Applications on Voter Choices", Ferdi Akbiyik dan Ahmed Husrev Eroglu memaparkan bagaimana berbagai faktor dapat mempengaruhi dukungan warga.

Mereka menggunakan konsep political marketing.  Konsep ini bertujuan untuk memengaruhi pemilih dengan menggunakan beberapa produk marketing yakni kredibilitas kandidat, program kerja kandidat serta partai politik.

Populer saja tak cukup untuk memperoleh suara atau menang. Program kampanye yang mengikuti isu terkini adalah komponen kedua yang harus diperhatikan kandidat. Program yang dijanjikan saat kampanye merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi preferensi pemilih dalam periode pemilihan.
Partai politik pengusung dan calon  tidak hanya memperhatikan program mereka sendiri.

Mereka harus menganalisis program dari pihak lawan, menemukan titik lemahnya, melakukan langkah menyerang. Program kampanye pun harus menjawab permasalahan yang tengah dihadapi.

Bisa jadi, langkah tersebut sedang dibangun oleh Dedi Noerdiawan beserta timsesnya. Dia tidak gegabah dalam langkah, namun terus mengkalkulasi setiap perkembangan politik didaerahnya.
John F, Kennedy dalam pilpres AS tahun 1960. Dia menggunakan isu ekonomi yang lesu dan revolusi komunis di Kuba saat melawan wakil presiden Richard Nixon dari Partai Republik.

Dua isu itu menjadi kritik warga di era kepemimpinan Nixon. Bagi Kennedy, Amerika sudah berada di belakang Uni Soviet sehingga diperlukan serangkaian program demi kemajuan negara termasuk menekan pengangguran dan mengangkat akselerasi laju ekonomi termasuk menghalangi penempatan nuklir di Kuba yang dapat memicu perang.

Kennedy hanyalah seorang senator yang tidak terkenal dari Massachusetts, masih muda. Dalam pilpres itu, Nixon yang dijagokan akan menang, hingga debat calon presiden yang disiarkan di TV mengubah segalanya. Meskipun Nixon menunjukkan penguasaan isu, tapi Kennedy, dengan sikapnya yang santai dan percaya diri mampu memaparkan berbagai program dengan baik termasuk menjawab pertanyaan lawan.

Media massa Amerika menyebut, tanpa debat televisi pertama di negara itu, Kennedy tidak akan pernah menjadi presiden. Karena dengan adanya debat semua program dan strategi Kennedy dapat disampaikan dengan jelas dan diketahui oleh warga Amerika. Kennedy berhasil menang dengan selisih suara yang lumayan tinggi.

Apakah model pendekatan seperti ini, yang setidaknya terus digodok oleh Dedi Noerdiawan beserta timsesnya, karena dia tahu dan yakin, modal financial semata tidaklah cukup membangun kepercayaan publik pemilih, belum cukup mendongkrak tingkat elektabilitas sang kandidat, jika tanpa program jelas, terarah dan terukur. Karena itu, peran partai politik juga tak dapat disepelekan. Dalam political marketing, kandidat, program dan partai politik adalah tiga produk penting guna memperoleh suara warga.

Pada akhirnya, popularitas seorang kandidat tak serta merta dapat memuluskan jalannya dalam memenangi pilkada. Ada faktor political marketing yang kuat. Faktor ini akan mempromosikan habis-habisan faktor yang paling menjual dari satu kandidat, sambil meneropong dan mengambil keuntungan dari hal yang dianggap sebagai kekurangan dari lawan, apakah langkah ini yang sedang dibangun oleh Dedi Noerdiawan? Atau justru bermodal dibalik popularitas bapaknya?, Kita tunggu langkah berikutnya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Membaca Political Marketing, Dedi Noerdiawan?"

Posting Komentar