![]() |
| Oleh: Kamaruddin Hasan |
Ramadan selalu datang seperti seseorang yang lama tak kita jumpai, tetapi namanya masih kita sebut dalam diam. Ia tidak pernah benar-benar asing. Ia hanya terasa jauh karena kita yang terlalu sibuk. Lalu ketika hilal itu ditetapkan, dada mendadak bergetar seolah ada kabar bahwa Tuhan sedang berdiri di ujung rindu, menunggu kita melangkah.
Kita sering membayangkan Tuhan ada di langit yang tinggi, di ruang-ruang sunyi para sufi, atau di kitab-kitab tebal yang penuh catatan kaki. Padahal Ramadan mengajarkan sesuatu yang lebih sederhana: Tuhan itu dekat, sangat dekat, hanya saja hati kita yang sering berdebu. Ramadan datang membawa sapu membersihkan, menyapu, menata ulang ruang batin yang lama tak dibereskan.
Di bulan ini, rindu menjadi lebih jujur. Lapar membuat kita rendah hati. Dahaga membuat kita sadar bahwa hidup ini ternyata rapuh. Kita ini makhluk yang sering merasa kuat hanya karena perut kenyang. Begitu azan Subuh berkumandang dan pintu makan tertutup, barulah kita sadar: ternyata kita bergantung pada seteguk air.
Lucunya, siang hari kita tampak seperti pahlawan kesabaran. Menahan emosi, menahan komentar pedas, menahan diri dari membalas chat yang menyebalkan. Tetapi menjelang magrib, kita berubah menjadi makhluk paling sensitif sedunia. Takjil terlihat seperti pameran seni kontemporer. Semua ingin dicicipi. Semua terasa menggoda. Kita tersenyum sendiri: beginilah manusia, antara spiritualitas dan gorengan.
Namun justru dalam tarik-menarik itu, rindu menemukan maknanya.
Ramadan bukan sekadar soal pahala berlipat ganda. Ia adalah latihan mencintai Tuhan dengan cara yang konkret. Kita bangun lebih awal bukan karena alarm, tetapi karena ingin menyambut-Nya. Kita menahan lapar bukan karena diet, tetapi karena ingin membuktikan bahwa cinta itu butuh pengorbanan meski hanya menunda makan.
“Tuhan di ujung rindu” bukan metafora yang jauh. Ia adalah pengalaman yang sangat personal. Ketika doa terasa lebih dalam. Ketika sujud lebih lama dari biasanya. Ketika air mata jatuh tanpa alasan yang jelas. Kita tidak sedang bersedih. Kita sedang pulang.
Ramadan selalu menggetarkan karena ia membongkar jarak. Selama sebelas bulan kita mungkin sibuk mengejar dunia jabatan, reputasi, angka-angka prestasi. Kita berlari cepat, tetapi sering lupa arah. Ramadan menghentikan langkah itu. Ia berkata pelan, “Ke mana sebenarnya engkau ingin sampai?”
Dan dalam heningnya malam, kita sadar: yang kita cari bukan sekadar sukses, melainkan tenang. Bukan sekadar dikenal, melainkan diterima. Bukan sekadar dipuji manusia, melainkan diridai Tuhan.
Ramadan mengubah rutinitas menjadi ritual. Mengubah lapar menjadi bahasa cinta. Mengubah waktu menjadi ruang perjumpaan. Ia menempatkan Tuhan bukan di puncak perdebatan teologis, melainkan di ujung rindu yang paling sederhana rindu untuk dimaafkan, rindu untuk dipeluk oleh kasih sayang-Nya.
Itulah sebabnya ketika Ramadan hampir usai, dada terasa sesak. Kita seperti akan ditinggal seseorang yang baru saja membuat kita merasa dicintai kembali. Kita khawatir: apakah setelah ini rindu itu tetap hidup? Atau kita kembali tenggelam dalam kebisingan?
“Tuhan di ujung rindu” adalah pengingat bahwa yang paling kita butuhkan bukan sekadar bulan suci, tetapi hati yang selalu ingin kembali. Ramadan hanya membuka pintu. Kitalah yang harus melangkah.
Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak pernah menjauh.
Kitalah yang kadang berhenti merindu.
