Antara Takjil dan Takdir (7)

Oleh: Kamaruddin Hasan

Setiap Ramadan, ada dua hal yang paling sering disebut orang Indonesia: *takjil* dan *takdir* yang  satu dicari-cari menjelang magrib, yang satu lagi sering disalah-salahkan setelah magrib.

Takjil itu sederhana: kolak, es buah, pisang goreng, jalangkote’ atau kurma tiga biji biar terasa sunnahnya. Tapi anehnya, menjelang azan, manusia bisa berubah menjadi makhluk paling visioner di muka bumi. Mata tajam menatap meja, pikiran fokus pada sirup merah yang berkilau seperti masa depan cerah. Kita merasa yakin: inilah kebahagiaan hakiki.

Padahal, lima menit kemudian, baru setengah gelas es buah diteguk, perut sudah mengirim notifikasi darurat. “Cukup Kak” Tapi tangan kadung terlanjur berjanji pada bakwan dan risol. Di titik inilah takjil berubah menjadi ujian iman.

Lucunya, ketika kekenyangan menyerang dan tarawih terasa seperti maraton tingkat kabupaten, kita berkata pelan, “Sudah takdir.” Seolah-olah kolak itu turun dari langit tanpa kita beli.

Di sinilah drama Ramadan dimulai: antara takjil dan takdir, antara pilihan dan alasan.

Padahal, kalau kita mau jujur, takjil adalah pilihan, takdir adalah ketetapan. Takjil kita beli sendiri, takdir kita jalani dengan rendah hati. Masalahnya, kita sering menukar keduanya. Yang harusnya dipilih dengan sadar, dijalani tanpa kontrol. Yang harusnya diterima dengan ikhlas, malah diprotes seperti harga cabai naik sebelum Lebaran.

Ramadan sebenarnya melatih kita membedakan dua hal itu. Seharian kita berpuasa menahan lapar, dahaga, dan keinginan balas komentar WhatsApp keluarga besar. Kita belajar bahwa tidak semua yang kita mau harus segera diwujudkan. Ada waktu yang ditunggu, ada azan yang dinanti. Ada jeda antara keinginan dan pemenuhan.

Bukankah hidup juga begitu?
Kita sering ingin semua serba cepat: rezeki cepat, jabatan cepat, kurus cepat (ini biasanya paling cepat niatnya, paling lama realisasinya). Tapi takdir tidak bekerja seperti ojek online yang bisa dilacak titiknya. Ia misterius, sunyi, tapi pasti.

Ramadan mengajari satu hal penting: kendali diri. Kalau pada segelas es saja kita tak mampu menahan diri sampai azan, bagaimana kita mau bersabar menanti takdir?

Di meja makan, kita sering terlalu ambisius. Semua terlihat lezat, semua ingin dicoba. Hasilnya? Perut penuh, hati lesu, tarawih tergesa-gesa. Di panggung kehidupan pun begitu. Semua ingin diraih sekaligus. Semua ingin dimiliki. Akhirnya bukan bahagia yang datang, tapi lelah yang berkepanjangan.

Maka mungkin, Ramadan datang untuk menyederhanakan. Mengajarkan bahwa yang sedikit tapi cukup lebih menenangkan daripada yang banyak tapi berlebihan. Bahwa dua kurma dan air putih bisa terasa lebih nikmat daripada prasmanan hotel bintang lima karena di situ ada jeda, ada syukur, ada kesadaran.

Takjil mengingatkan kita pada kenikmatan sesaat. Takdir mengingatkan kita pada perjalanan panjang. Takjil itu manis di lidah, takdir itu manis bila diterima dengan lapang dada.

Dan barangkali, yang paling indah dari Ramadan adalah ketika kita berhenti menyalahkan takdir atas pilihan-pilihan kita sendiri. Ketika kita berhenti berkata, “Sudah nasib begini, ” padahal yang terjadi adalah “Sudah saya pilih begitu.”

Antara takjil dan takdir, ada ruang bernama ikhtiar. Kita boleh memilih kolak atau kurma. Kita boleh memilih marah atau memaafkan. Kita boleh memilih berlebihan atau secukupnya. Tetapi setelah memilih, jangan lupa bertanggung jawab.

Jadi, menjelang magrib nanti, saat mata berbinar melihat aneka warna di meja, cobalah tersenyum. Ambil secukupnya. Biarkan perut bahagia tanpa harus memaksa. Lalu setelah azan berkumandang, teguklah air dengan perlahan.

Karena sesungguhnya, yang paling kita latih bukan hanya menahan lapar melainkan menahan diri.

Dan siapa tahu, dengan mampu mengendalikan takjil, kita sedang belajar menerima takdir.

Redaktur

No Comment

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama