// Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengkritik komentar Trump tentang Paus Leo XIV // Atletico Madrid meraih kemenangan 2-0 atas Barcelona, setelah Cubarsi (Barcelona) diusir dari lapangan Camp Nou. // Perselisihan minyak Libya mencerminkan krisis Hormuz, memicu kekhawatiran energi Eropa // Perusahaan satelit AS Planet Labs mengumumkan pemblokiran siaran gambar perang di Iran, atas permintaan pemerintah AS. // Kapal yang Terkait dengan Jepang Melewati Selat Hormuz //

Berita Foto

Pembicaraan Israel-Lebanon akan dimulai pukul 11 ​​pagi di Washington, DC


Duta Besar Lebanon Nada Hamadeh dan Duta Besar Israel Yechiel Leiter dijadwalkan bertemu di Washington, DC, pukul 11 ​​pagi waktu setempat (15:00 GMT) untuk memulai pembicaraan langsung yang jarang terjadi, menurut jadwal yang diterbitkan oleh Departemen Luar Negeri AS.

Lanjut...

Antara Mushaf dan WhatsApp (11)

Oleh: Kamaruddin Hasan

Pagi itu saya melihat pemandangan yang religius sekaligus ironis. Seorang bapak duduk di teras masjid, memegang dua benda paling berpengaruh abad ini: mushaf dan handphone. Mushafnya terbuka. WhatsApp-nya juga. Bedanya, yang dibaca serius justru notifikasi grup keluarga.

“Lagi baca Qur’an, Pak?” tanya saya.
“Iya…” jawabnya mantap.
“Surah apa?”
“Surah… Grup Alumni 92.”

Kami tertawa. Tapi di balik tawa itu ada cermin kecil tentang diri kita. Kita hidup di antara dua layar: layar mushaf yang menenangkan, dan layar WhatsApp yang sering menggelisahkan.

Kalau mushaf jatuh, kita refleks mengangkat dan menciumnya. Tapi kalau notifikasi berbunyi saat shalat, hati kita yang jatuh ingin segera melihat siapa yang mengirim pesan. Dulu orang membuka mushaf dengan wudhu. Sekarang orang membuka WhatsApp dengan refleks tanpa jeda.

Saya pernah bertanya kepada mahasiswa, “Kalau baterai HP tinggal 2 persen, apa yang kalian lakukan?”
“Cari charger, Pak!” jawab mereka kompak.
“Kalau iman tinggal 2 persen?”
Mereka diam. Mungkin sedang mencari sinyal.

Padahal mushaf adalah charger iman. WhatsApp, kalau tak bijak, bisa menjadi aplikasi paling boros daya rohani.

Saya tidak sedang menghakimi teknologi. Justru sebagai pendidik dan aktivis, saya tahu betul manfaat WhatsApp: koordinasi cepat, undangan dakwah, distribusi gagasan, bahkan ruang silaturahmi lintas kota dan negara. Masalahnya bukan pada aplikasinya, melainkan pada prioritasnya.

Mushaf adalah petunjuk hidup.
WhatsApp sering sekadar petunjuk lokasi.

Di mushaf, kita diajari menjaga lisan. Di WhatsApp, kita kerap lupa bahwa jempol pun bisa berdosa. Betapa mudahnya kita meneruskan pesan tanpa verifikasi, berkomentar tanpa empati, berdebat tanpa adab. Ayat tentang tabayyun sering kalah cepat dibanding tombol “forward”.

Bayangkan jika kita memperlakukan mushaf seperti memperlakukan WhatsApp. Dibuka setiap ada waktu luang. Diperiksa sebelum tidur. Dibaca ulang ketika ada bagian yang belum dipahami. Bahkan merasa ada yang hilang jika sehari saja tidak menyentuhnya.

Sebaliknya, kita sering memperlakukan mushaf seperti memperlakukan pesan yang “nanti saja dibalas”. Disimpan di rak paling atas, menunggu momen khusus, atau menunggu Ramadhan agar terasa sakral.

Kenyataannya, kita memang generasi yang hidup di antara wahyu dan wacana. Di antara firman Tuhan dan kiriman manusia. Keduanya hadir di telapak tangan kita. Yang satu memberi arah, yang lain memberi arus. Jika tidak hati-hati, arus bisa menyeret kita menjauh dari arah.

Anak-anak hari ini mungkin lebih hafal nada notifikasi daripada irama tartil. Namun harapan tetap ada. Di layar yang sama, orang bisa mengaji, menghafal, dan berdakwah. Teknologi adalah pisau: bisa memotong buah, bisa pula melukai tangan sendiri.

Maka pertanyaannya bukan memilih antara mushaf atau WhatsApp. Pertanyaannya adalah: siapa yang memimpin siapa? Apakah mushaf menjadi kompas yang mengarahkan penggunaan WhatsApp, atau justru WhatsApp yang menentukan kapan kita sempat membuka mushaf?

Seorang sahabat pernah bertanya, “Bagaimana agar hati lebih dekat dengan Qur’an?”

Saya menjawab sederhana, “Jangan jauhkan dari tangan. Seperti Anda tidak pernah jauh dari ponsel.”

Barangkali ukuran kedekatan kita dengan wahyu sesederhana itu: seberapa sering ia disentuh, dibaca, direnungkan, dan diamalkan. Jika notifikasi lebih cepat kita respon daripada panggilan azan, mungkin ada yang perlu ditata ulang.

Hidup ini memang di antara dua centang: centang biru di WhatsApp dan centang amal dalam catatan Tuhan. Yang satu terlihat segera, yang lain menunggu hari pembalasan. Jangan sampai kita lebih gelisah ketika pesan belum dibalas, daripada ketika ayat belum diamalkan.

Di antara mushaf dan WhatsApp, semoga kita tetap memilih cahaya. Karena layar bisa redup ketika baterai habis. Tetapi cahaya wahyu tak pernah kehilangan daya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama