Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

 


Opini Hartono Tanuwidjaja, SH, MSi, MH, CBL: Virus Miskin Lebih Berbahaya Dari Corona


JAKARTA (wartamerdeka.info) - Pembicaraan tentang virus Corona masih viral di jajaran Kabinet Indonesia Maju dan di tengah masyarakat.

Media cetak, televisi, radio, hingga online dan medsos masih ramai memberitakan tentang corona dari berbagai aspek. Tapi semua itu untuk mengantisipasi perkembangan corona di NKRI.

Namun advokat senior Hartono Tanuwidjaja, SH, MSi, MH, CBL, beropini, "Virus Miskin Jauh Lebih Berbahaya Ketimbang Virus Corona."

Hal ini dikatakan Hartono Tanuwidjaja saat berbincang santai dengan wartawan di ruang kerjanya di Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2020).

Pemerintah RI baru menyiapkan protokol corona. Protokol artinya pedoman penanganan penyakit corona (covid'19). Kita ini jadi tanda tanya bagaimana pemerintah menghadapi serangan virus. Kita belum bicara tentang serangan cyber atau serangan militer.

Serangan virus corona, protokolnya harus disiapkan. Artinya apa? Negara belum siap musuh sudah masuk. Kita baru sibuk berbenah, 'cari bedil dulu.'

Jadi, rupanya ada Rakor di Istana pada Rabu (4/3/2020) membahas hal hal; Mengenai protokol corona akan disiapkan; Pembentukan Satgas untuk menelusuri kasus corona baru. Yang menjadi masalah, protokol corona itu ternyata 4 (empat) jenis. Ada protokol kesehatan, komunikasi, pendidikan dan pencegahan lintas batas negara.

Pertanyaan spontan, kenapa protokol intelijen dan Militer tidak diikutkan. Karena ada indikasi/ suara suara yang ditegaskan negara Iran baru ini bahwa itu senjata kimia. Apakah itu sumbernya dari Amerika Serikat, China atau mereka berdua tidak dipastikan.

Apa yang dibahas di Istana dalam rapat koordinasi itu ini berbanding terbalik dengan fakta fakta yang terjadi di masyarakat. Fakta pertama awal Januari 2020 isu corona di Wuhan-China. Warga negara Indonesia sebanyak 249 orang dievakuasi tapi belum ada suara virus sudah masuk ke Indonesia.

Tiba tiba akhir Februari presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan sudah masuk. Ada 2 (dua) penderita suspec corona yang katanya sudah dibawa ke rumah sakit paru paru Sudandi Saroso. Ternyata itupun engga pasti. Itu satu, gara gara statemen presiden, muncul statemen Gubernur, Menteri, Bupati, Walikota. Beda semua ini informasinya. Bahkan ada anggota DPD Ahira Idris dilapor karena bilang 135 orang suspec corona, disini disitu. Dia dilapor Muanaz Alay.

Ini kan membingungkan kita. Belum lagi bingungnya masyarakat dengan kelangkaan masker yang ternyata ada penimbunnya.

Polisi bergerak cepat seperti kemarin  kejadian di Polres Jakarta Utara masker sitaan itu dijual polisi. Masker sekian ball dipajang dan dijual polisi Rp 4000 (isi10 masker). Orang orang ngantri sampai mengular hingga keluar halaman kantor Polres Jakarta Utara.

Ini kan katanya diskresi. Masker disita lalu dijual dulu. Nanti uangnya di kumpul. Itu artinya kan berjalan sendiri. Kewenangan Kepolisian berjalan sendiri. Yang lebih mencengangkan adalah setelah muncul headline di sebuah media cetak yang memberitakan Protokol Corona yang sedang disiapkan itu muncul steatmen Jokowi di media Online pada 5 Maret 2020, Jokowi mengimbau masyarakat tidak perlu takut secara berlebihan terhadap virus corona. Sebab 94% penderita corona bisa sembuh, katanya.

Engga tahu kita apakah Jokowi seorang dokter atau menerima informasi dari Menteri Kesehatan berkeahlian dokter kita engga tahu. Tapi Ini kan namanya ada kebablasan juga. "Dia yang memicu dia juga yang bilang sembuh."

Di harian Merdeka.com pada hari yang sama saya mengutip Jokowi mengatakan, sebetulnya musuh terbesar kita saat ini bukan virus itu sendiri tapi rasa cemas, rasa panik, rasa ketakutan dan berita berita hoax dan rumor.

Jadi sekarang yang mana yang benar? Peran kita sebagai pemerhati sosial dalam hal ini saya akan berusaha untuk mengungkap ini. Bahwa sebetulnya kalau kita mau ambil berita bombastis atau membuat viral itu, kita harus membuat tulisan bahwa "Virus Miskin Jauh Lebih Berbahaya Daripada Virus Corona."

Alasannya, virus corona itu adalah virus menyerang daya rahan tubuh. Masa hidupnya virus itu hanya sekian jam. Kalau seseorang itu badannya sehat (imunitasnya baik/tinggi) dia tidak akan terserang virus corona.

Tapi kita sekarang bicara virus miskin ini. Akibat virus miskin ini ada orang bertahun tahun bahkan ada yang puluhan tahun miskin. Kata Amerika, kita disebut negara maju. Tapi masih punya 9% (24 juta jiwa penduduk) miskin. Belum lagi satu garis di atas miskin.

Terkena virus miskin tapi engga membangun immunitas untuk diri orang yang disebut miskin  yang hari harinya begitu saja jalan kaki ya jalan kaki saja, naik motor ya naik motor saja engga ada perubahan selama berpuluh puluh tahun dan keturunannya begitu saja. Nah...., masyarakat kita tidak sadar ini. Virus miskin lebih berbahaya karena kemiskinan itu menjadikan kita bodoh. Bangsa yang bodoh. Orang sudah memikirkan Four One 4.1,  4.2, 4.3 kita masih 4.0 (four jiro). Orang sudah mikir Bulan, ke Mars, kita masih disini.

Di Singapura, pemerintahnya bagi bagi masker gratis di kita malah dijual. Polisi mengatakan tidak boleh  menimbun masker. Di Makassar orang menimbun masker ditangkap. Dua Mahasiswi Tarumanegara jual masker dengan online ditangkap. Tapi Walikota Surabaya Tri Risma yang mengaku sudah menimbunnya sejak tahun lalu malah tidak ditangkap. Jadi ini hukumnya masih bias kan!!

Belum lagi statemen David Tobing (pengamat hukum konsumen). Dia bilang engga tepat dipidana itu menimbun masker. Sebab orang mau jual beras pasti stok beras. Penjual pulsa pasti stok pulsa. Jual kambing pasti stok kambing. Namanya orang mencari untung, menimbun ya wajar.

Ini namanya kriteria barang penting dan barang tidak penting itu. Keadaan masyarakat inilah kita beri pencerahan.

Virus Corona itu engga penting. Yang lebih penting itu kalau Anda kena virus miskin. Masa bertahun tahun Anda naik angkot, naik sepeda atau naik sepeda motor terus? Itu diberantas, masa kita tenang tenang saja atau slaw saja engga punya duit.

Kita perlu membangkitkan rasa optimis masyarakat. Kalau namanya penyakit itu pasti dari manusia dari makanan manusia dan dari alam dimana manusia tinggal.

Tapi sekarang ada statmen orang MUI menyatakan karena virus babi tentara Allah turun, katanya. Ini bikin kacau karena awalnya kita menerima informasi  kalau virus corona itu berasal dari Kelelawar. Dan orang China sering makan sup Kelelawar. Padahal tiap hari orang Manado makan "Paniaki" (kelalawar) engga ada kena corona. Ada yang bilang sekarang karena babi. Orang Batak tiap hari makan babi tapi engga ada kena virus  corona itu. Orang Manado pun makan babi engga ada kena. Malah orang Depok yang engga makan  babi yang kena corona.

Inilah kita ini negeri yang kebanyakan omong. Karena kebanyakan omong dan statmen ahirnya kacau. NKRI (Negara Kacau Rakyat Indonesia). Pejabatnya pun kacau juga.

Muncul lagi statement Menteri Keuangan Sri Mulyani di harian terkemuka, Jumat lalu. Dia mengatakan, 'Corona lebih ngeri dari krisis 2008.' Menteri kok nakutin padahal  sekarang ini ekonomi anjlok secara umum. Dan akibat krisis ekonomi ini semua dipajakin. Sampai online pun turut dipajak.

"Satu lagi statement Sri Mulyani berbeda dengan presiden. Jadi rakyat semakin bingung. Ini mau dibawa kemana. Orang sakit corona atau tidak sakit ada engga jaminan kesehatan buat masyarakat?," pungkasnya. (dm)

Posting Komentar untuk "Opini Hartono Tanuwidjaja, SH, MSi, MH, CBL: Virus Miskin Lebih Berbahaya Dari Corona"