Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Soal Lumpur Yang Ganggu Perahu Nelayan, PT. DOK Dan PPN Brondong Saling Tuding



LAMONGAN (wartamerdeka.com) - Soal areal laut tempat tambat perahu nelayan penuh lumpur, kotor dan berbahu (seperti yang ditulis wartamerdeka.com belum lama ini),  membuat kantor UPT Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong-Lamongan, Jatim dan PT. DOK Perkapalan Surabaya, yang melakukan kegiatan reklamasi laut saling melempar tanggungjawab. Mereka mengklaim volume lumpur yang mengakibatkan laut, bukan saja kotor dan berbau, tapi juga sangat menggangu aktifitas nelayan di pantura kota Soto itu, bukan pengaruh dari kegiatan reklamasi yang dikerjakannya. Padahal, pantauan dilapangan masalah tersebut tak bisa dilepaskan dari adanya kegiatan tersebut.
 “Yang melakukan reklamasi itu PT DOK Perkapalan Surabaya di sebelah pelabuhan kami yang ada di perkampungan Jompong (Brondong), kalau di kami ada pemeliharaan kolam pelabuhan oleh kapal kami sendiri dengan perbandingan 60:70,” kata Dedy Sutisna, kepala UPT PPN Brondong-Lamongan.
Kepala PPN boleh mengklaim kalau saat ini pihaknya tidak melakukan kegiatan reklamasi laut, namun endapan lumpur yang membuat nelayan geram adalah dampak dari reklamasi yang dilakukan oleh PPN beberapa waktu kemarin. Selain itu, langsung atau tidak kegiatan reklamasi PT, DOK saat ini juga dianggap berpotensi adanya dampak terhadap aktifitas nelayan.

“Oh, ya kalau DOK kan nggak produk lumpur. Karena pinggir urugkan diplenseng batuan seberat 250 kg per biji batu(keliling),” papar Michael, penanggungjawab PT.DOK di Brondong. Ucapan tersebut dibuktikan dengan minimnya perhatian (kontribusi) PT. DOK terhadap nelayan, meski sedang melakukan aktifitas reklamasi saat ini. “Sejauh ini kontribusi PT. DOK terhadap nelayan belum ada, Mas!,” ujar salah seorang nelayan Brondong.
Hal senada diucapkan Wagiman, nelayan lainnya, pihaknya menyayangkan PT. DOK yang dianggap tak memberi perhatian terhadap nelayan, padahal langsung atau tidak saat ini kegiatannya cukup mengganggu aktifitas nelayan,” papar dia.
Sayangnya, Michael, penanggungjawab kegiatan rekalamasi laut PT. DOK, hingga berita ini ditulis belum memberi komentarnya meski sudah dihubungi. (Mas)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama