Langsung ke konten utama

Gerakan Moral Kakistocracy


Oleh: Zeng Wei Jian

Brani-braninya mereka nge-klaim "Gerakan Moral" alias "Ger-Mo". Panen cibiran. Shock. Lantas ngelez jadi Gerakan Politik Moral. Esensinya sama. Tetep aja; Narcissistic...!!

Setiap narcissistic terselip sadistic. Professional hazard. Demonizing orang lain. Mereka adalah "Pseudo-Moralist". 

Lord Buddha ngga perna menyatakan dirinya baik. Jesus Christ menyebut diri "Son of man". But the whole world agrees; They are Great personalities. 

Pengasong istilah "Moral" degrade and undermine sistem moralitas. Mereka produksi iklim moral intolerance dan kick-start a "moral arms race". 

Di article ‘The Problem with Moralism’, Alfred Archer menyebut terminologi "miscalibration" yaitu The moralist uses their ‘almost correct’ morality to apply excessive and unwarranted moral criticism to others.

"Miskalibrasi diri" does all the damage. Ngerasa diri bermoral & pemerintah amoral. 

Psychologist Albert Bandura menduga kriminal menjustifikasi aksinya dengan moralitas subjective. Merasa ber-moral adalah mekanisme memutus korelasi antara dirinya dengan immoral behavior yang dilakukan dan konsekuensinya.

Nyantai ngumpulin orang di saat Pandemic Covid-19. Sebodo amat dengan Protokol Kesehatan yang diterapin pemerintah. Semua perilaku bejat ini dijustifikasi sebagai "Gerakan Moral". 

Pseudo Moralis ngga tau diri. Roy Baumeister mengatakan, "The face of evil is no one’s face". 

Klaim "Ger-Mo" dan "Politik Moral" dimanipulasi sebagai "pia fraus" atau "holy lie". Bullshiting seputar "Perjuangan" dan "Menyelamatkan Bangsa". Ngga ada yang dilakukan. Kecuali nyebar hoax, ngoceh & fitnah presiden. 

Mereka ngga bersuara saat Surya Gondrong rilis racial-hatespeech. Diem seribu bahasa sewaktu pembangunan gereja ditolak. Tapi nyatakan diri sebagai pluralist.

Ayelet Gneezy menyebut perilaku semacam ini dengan frase "minimal-costless prosocial acts". Ngga ngapa-ngapain tapi ngaku paling moralist & penyelamat bangsa. 

Tipe Gerombolan lebih buruk dari "Kaum Moral Licensing". Mereka bahkan ngga punya lisensi moral. Koruptor sarung tangan kok berani klaim diri sebagai Moralist. Benar-benar sakit jiwa. 

Standard Moral-nya masuk kategori Nietzsche's morality of the slaves. 

Nietzsche mengatakan perasaan being violated, weak, oppressed, suffering, unfree, insecure and weary merupakan sumber natural moralization para budak. 

Proses "moralisasi" itu menghasilkan common feeling of resentment dan syirik-dengki terhadap pemerintah. 

Revolusi moralitas the slaves ngga lebih dari "A big No to all that does not resemble them". Semua yang di luar grup-nya & ngga serve their interest disebut amoral. 

Seandainya Slave's morality-cum-subterranean revengeful mania dan penyuka paha perempuan ini dibiarkan berkuasa maka mereka akan menciptakan "kakistocracy" yaitu sistem pemerintahan yang dioperasikan by the worst, least qualified, and most unscrupulous citizens. 

American poet James Russell Lowell menyebut "Kakistocracy is for the benefit of knaves at the cost of fools".

Sebuah sistem yang menguntungkan para penipu di atas pengorbanan para pendukungnya yang go-block. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Dasar antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak

Oleh : YM. Sjahrir Tamsi  Dalam dunia pendidikan, sertifikasi memiliki peran penting sebagai pengakuan resmi atas kompetensi seseorang dalam bidang tertentu. Namun, sering kali terdapat kebingungan untuk membedakan antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak.  Ketiga jenis sertifikasi ini memiliki fokus, tujuan, dan proses yang berbeda. Artikel ini membahas perbedaan mendasar di antara ketiganya berdasarkan peraturan perundang-undangan berlaku di Indonesia. 1. Sertifikasi Profesi Defenisi : Sertifikasi Profesi adalah pengakuan "Kompetensi Kerja" seseorang di bidang tertentu berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Sertifikasi ini dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Ketiga (LSP-P3) yang independen dan terlisensi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi Republik Indonesia (BNSP RI). Tujuan : Memberikan pengakuan kompetensi profesional di berbagai sektor pekerjaan atau profesi. Menjamin tenaga kerja yang ...

MS Bulganon H. Amir: YASKUM akan Dirikan Sekolah dan Pesantren Gratis

Ir Teuku Muhammad Syamsoe Bulganon Hasbullah Amir, pendiri YASKUM . Oleh: M. Aris Kuncoro JAKARTA (wartamerdeka.info) -  Ada khabar gembira dari Yayasan Kharisma Usada Mustika (YASKUM). Lembaga yang bergerak di bidang sosial ini kini tengah bersiap-siap hendak menyelenggarakan pesantren gratis dan sekolah umum gratis, bagi warga masyarakat tidak mampu. Untuk program sekolah umum gratis ini rencananya akan dibuka dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Andi Ina: Pastikan Golkar Rumah Bagi Kader

Makassar (wartamerdeka.info) - Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari yang juga Bendahara Partai Golkar Provinsi Sulawesi Selatan menghadiri acara buka puasa dan tarwih berjamaah bersama AMPG Sulsel di Four Point Sheraton, Selasa (18/3/2025).  Selain Andi Ina, hadir Walikota Makassar, Munafri Arifuddin, Bupati Selayar, Nasir Ali, Bupati Luwu, Patahuddin, Bupati Soppeng, Suardi Haseng, Wakil Bupati Jeneponto, Islam Iskandar, dan Wakil Bupati Wajo, Baso Rahmanuddin.  Hadir pula anggota DPRD dari Fraksi Golkar Barru diantaranya, Drs. H. Syamsuddin Muhiddin, M. Si yang juga Ketua DPRD. Rusdi Cara, Herman Jaya dan Hacing.  Andi Ina mengatakan, momentum ini bukan sekadar berbagi hidangan berbuka, tetapi juga ajang memperkuat soliditas dan komitmen dalam membangun Golkar yang semakin kuat.  Tentu, katanya, pihaknya sebagai kader selalu siap mendukung setiap inisiatif yang mempererat barisan, memastikan bahwa semangat kekeluargaan dan kepedulian sosial tetap menjadi fondasi utam...