Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Tolak Seruan Jihad Melalui Azan Di Masjid, Ketum DMI Jusuf Kalla: Itu Keliru

Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla 

JAKARTA (wartamerdeka.info) - Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla menolak seruan jihad yang dilakukan sekelompok orang melalui azan di masjid. Menurut JK, sapaannya, azan jihad adalah sebuah kekeliruan yang harus diluruskan.

"Azan 'hayya alal jihad' itu keliru, harus diluruskan. DMI menyatakan secara resmi menolak hal-hal seperti itu. Masjid jangan dijadikan tempat untuk kegiatan yang menganjurkan pertentangan," ujar JK dalam webinar dengan pengurus DMI yang dikutip melalui keterangan tertulis, Selasa (1/12).

Pernyataan ini menyusul video viral di media sosial yang merekam sekelompok orang di masjid melafalkan azan dengan tambahan kata jihad. Video tersebut dinilai menimbulkan keresahan karena masjid jadi tempat ajakan berjihad.

Wakil Presiden ke-10 dan 12 itu menjelaskan, jihad selama ini kerap disalahartikan dengan membunuh, mengebom, atau saling mematikan.

Ia menyinggung kasus pembantaian di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, belakangan ini yang dinilai sebagai bentuk pelanggaran luar biasa dan harus dihukum oleh negara.

Sementara menurutnya, jihad tak selamanya bermakna negatif. JK menuturkan, menuntut ilmu atau berdakwah juga bisa diartikan berjihad.

"Sehingga kalau mau berjihad, dapat dilakukan dalam menuntut ilmu atau berdakwah," ucapnya.

Di sisi lain, JK juga mengingatkan agar para pengurus DMI tetap mempertahankan kedisiplinan dalam menghadapi penyebaran virus covid-19 menyusul kegiatan salat yang mulai banyak dilakukan di masjid.

JK juga meminta pengurus tetap menjaga netralitas masjid dalam Pilkada serentak yang akan berlangsung 9 Desember mendatang.

Ia menegaskan bahwa sejak awal masjid tidak bisa menjadi tempat kampanye.

"Meskipun pilihan umat berbeda, namun tetap satu sebagai jemaah dalam satu masjid. Kita harus menjaga masjid, tidak boleh membawa masalah perbedaan pilihan ke masjid," ujar JK. (A)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama