Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting


 

Nasdem Kalah Telak Di Pilkada Merauke 2020, Gara-gara Mencopot Frederikus Gebze

Penetapan paslon Romanus Mbaraka-H Riduwan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Merauke terpilih dalam Pilkada 2020/Ist

MERAUKE (wartamerdeka.info)  - Empat KPU di Papua yaitu KPU Merauke, KPU Keerom, KPU Yahukimo, dan KPU Supiori telah menetapkan hasil pilkada serentak 2020. Karena di empat kabupaten tersebut tidak ada sengketa pilkada yang disampaikan di Mahkamah Konstitusi (MK).

Yang menarik untuk dicermati adalah Pilkada Merauke. Karena wilayah ini bisa disebut sebagai salah satu barometer politik di Provinsi Papua.

Dari proses penghitungan suara tingkat kabupaten untuk 20 distrik, 179 kampung dan 11 kelurahan, pasangan nomor urut 3, Romanus Mbaraka-H. Riduwan menang telak dengan perolehan  64.637 suara.

Sedangkan pasangan nomor urut 1, Hendrikus Mahuze-Eddy Santoso (yang diusung Nasdem dan PKS) mendapatkan 29.858 suara. Pasangan nomor urut dua, Heribertus Silubun-Bambang Sudji (yang diusung PDI-P, PPP dan Hanura) mendapat 11.599 suara.

Dalam Pilkada Merauke 2020, jumlah suara sah sebanyak 106.094 surat dan suara tidak sah sebanyak 1.446 surat.  Suara sah dan suara tidak sah sebanyak 107.540 surat.

Romanus Mbaraka-H. Riduwan  yang diusung  Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrat akhirnya ditetapkan KPU Kabupaten Merauke sebagai pasangan terpilih Bupati dan Wakil Bupati Merauke pada pilkada serentak 2020.

Pengamat politik, yang sering mengamati Pilkada di sejumlah daerah, Romo Aris Kuncoro, mengemukakan, terpilihnya Romanus Mbaraka-H. Riduwan adalah pilihan rakyat yang harus dihormati.

"Memang ada sedikit gejolak di Merauke, misalnya ada yang mempertanyakan gelar Drs-nya Romanus. Tapi itu persoalan lain, yang harus dibuktikan secara hukum. Yang pasti pasangan Romanus Mbaraka-H. Riduwan harus dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Merauke karena telah ditetapkan secara resmi oleh KPU Kabupaten Merauke," ujar Romo Aris Kuncoro, hari ini.

Menurut Romo Aris, sejak awal, sebelum pelaksanaan Pilkada, memang sudah penuh  gejolak di Merauke. 

Terutama sejak Frederikus Gebze yang merupakan Bupati petahana dan seksligus juga Ketua DPD Nasdem Merauke dicopot sebagai Ketua Nasdem Merauke menjelang gelaran Pilkada Merauke 2020.

Pemecatan Frederikus Gebze diputuskan oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Nasdem. Mereka menerbitkan Surat Keputusan 49/KTTPS/Nasdem/2020 tentang Pengesahan Susunan Pengurus DPD Nasdem Merauke periode 2020-2024.

Dalam struktur kepengurusan baru itu, posisi Frederikus Gebze digantikan oleh Jefri Tjahyadi Putra. Dia didampingi Sugiyanto sebagai sekretaris, dan Jefri Rengkung, Johan Paulus serta Benjamin Latumahina sebagai wakil ketua.

SK (Surat Keputusan tentang) Kepengurusan DPD Partai Nasdem Merauke ini ditandatangani Ketua Umum Surya Paloh dan Sekretaris Jenderal Johny G Plate. 

Pemecatan Gebze itu memicu amarah pendukung Gebze yang jumlahnya cukup banyak. Bahkan tokoh-tokoh suku Marind yang merupakan suku terbesar di Merauke juga menyesalkan pemecatan tersebut.

Mereka menilai telah terjadi penzaliman terhadap Frederikus Gebze. 

Nasdem dinilai telah melecehkan Gebze yang telah membesarkan Partai Nasdem di Merauke. Di bawah kepemimpinan Gebze,  saat Pemilu 2019 lalu Partai Nasdem berhasil memenangkan suara terbanyak di Merauke sehingga meraih 5 kursi di DPRD Mersuke.

"Tapi prestasi Gebze ini tidak diindahkan Nasdem, sehingga wajar kalau para pendukung Gebze marah," ujar Romo Aris yang juga dikenal sebagai wartawan senior.

Tak hanya mencopot sebagai ketua, Nasdem juga mencoret nama Frederikus Gebze dari daftar calon bupati pada gelaran Pilkada 2020.

Nasdem pun akhirnya mengusung pasangan Hendrikus Mahuze-Eddy Santoso bersama dengan PKS.

Dan ternyata, keputusan Nasdem benar-benar blunder.

Partai besutan Surya Paloh ini 'menuai badai'. Kalah total dalam Pilkada Merauke dan sejumlah daerah lain di Papua, seperti Kabupaten Boven Digul, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Supiori.

Romo Aris menilai, kemenangan Romanus tak lepas dari gejolak di Partai Nasdem. Para pendukung Gebzse dipastikan banyak yang memilih Romanus, sehingga mampu memenangkan Pilkada secara telak, jauh mengungguli pesaing-pesaingnya.

Ini ironis. Dan memalukan. Sebab saat Pemilu 2019, Nasdem unggul di daerah-daerah tersebut terutama di Merauke. Tapi kalah telak di Pilkada.

"Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa keputusan Nasdem mencopot Gebze sebagai Ketua DPD Nasdem Merauke dan mencoretnya sebagai calon Bupati Merauke adalah kesalahan fatal," tandasnya.

Menurut Romo Aris, fenomena di Merauke bisa menjadi pelajaran pahit yang berharga bagi Nasdem. 

Partai ini harus berani mengevaluasi diri. Jika tidak bakal makin terpuruk pada Pemilu 2024.

Juga harus berani mengevaluasi oknum-oknum tertentu di internalnya yang bermain politik kotor, sehingga gagal total dalam Pilkada Merauke dan sejumlah daerah lain di Papua. (*)


Posting Komentar untuk "Nasdem Kalah Telak Di Pilkada Merauke 2020, Gara-gara Mencopot Frederikus Gebze"