Langsung ke konten utama

Populer

Tuhan Menyuruh Kita Lapar

MBG (Makanan Buka berGizi) (9)

Tuhan di Ujung Rindu (8)

Bupati Barru Lantik 153 Pejabat, Langkah Strategis Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik

Antara Takjil dan Takdir (7)

Tahun Baru, Janji Lama yang Diperbaharui


Oleh : Kamaruddin Hasan 

Setiap pergantian tahun, kita seperti datang ke loket harapan yang sama. Nomornya diganti, antreannya diperbarui, tetapi janji yang kita setorkan nyaris tak berubah. Kita menyebutnya resolusi, padahal sering kali itu hanyalah janji lama yang dicetak ulang dengan tinta tahun terbaru.

Kalender berganti, jam berdetak ke angka baru, dan manusia serempak merasa lebih muda beberapa jam. Kembang api menyala bukan sekadar untuk merayakan waktu, melainkan untuk menegaskan bahwa kita masih punya harapan meski sebagian harapan itu adalah pengulangan dari yang pernah gagal kita tunaikan.

Refleksi akhir tahun kerap diperlakukan seperti formalitas: sejenak merenung, lalu berlalu. Padahal refleksi sejati justru tidak ramah. Ia memaksa kita menoleh ke belakang tanpa menyalahkan keadaan, tanpa berlindung di balik alasan “belum waktunya” atau “keadaan belum mendukung”. Refleksi yang jujur selalu menyodorkan pertanyaan sederhana namun menusuk: apa yang benar-benar kita perbaiki, dan apa yang hanya kita ganti narasinya?

Janji lama yang diperbarui sering kali lebih rajin dipromosikan ketimbang diperjuangkan. Kita piawai menyusun target, tetapi gagap merawat proses. Kita berharap hidup berubah, sementara kebiasaan kita bertahan dengan keras kepala. Tahun baru akhirnya menjadi panggung optimisme, bukan ruang kedisiplinan.

Padahal tahun baru tidak pernah menjanjikan perubahan. Ia hanya menyediakan kesempatan. Selebihnya, manusia sendirilah yang menentukan apakah kesempatan itu diisi dengan keberanian, atau sekadar dengan harapan yang ditunda-tunda. Tahun baru hanyalah halaman kosong; ia tidak menulis apa pun jika kita enggan memegang pena.

Ekspektasi terhadap tahun baru sering kali berlebihan. Kita menuntut waktu berlaku adil, padahal kitalah yang sering tidak adil pada diri sendiri. Kita ingin hasil besar dari komitmen kecil. Kita menunggu momentum, sambil lupa bahwa momentum justru lahir dari konsistensi yang tampak sepele tetapi dilakukan terus-menerus.

Mungkin yang perlu diperbarui bukan daftar janji, melainkan kesungguhan menepatinya. Bukan impian yang harus dipermewah, tetapi kebiasaan yang harus diperbaiki. Bukan target yang ditinggikan, melainkan disiplin yang selama ini kita remehkan.

Pada akhirnya, pergantian tahun bukan tentang seberapa banyak harapan yang kita ucapkan, melainkan seberapa berani kita menepati janji lama dengan cara yang baru. Jika tidak, tahun akan terus berganti, sementara kita hanya berpindah angka—bukan makna.

Dan di sanalah letak ironi paling jujur dari setiap tahun baru: waktu selalu bergerak maju, sementara manusia masih sibuk menegosiasikan janji-janji yang sejak lama tahu cara menghindarinya.

SELAMAT TAHUN BARU 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Dasar antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak

Oleh : YM. Sjahrir Tamsi  Dalam dunia pendidikan, sertifikasi memiliki peran penting sebagai pengakuan resmi atas kompetensi seseorang dalam bidang tertentu. Namun, sering kali terdapat kebingungan untuk membedakan antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak.  Ketiga jenis sertifikasi ini memiliki fokus, tujuan, dan proses yang berbeda. Artikel ini membahas perbedaan mendasar di antara ketiganya berdasarkan peraturan perundang-undangan berlaku di Indonesia. 1. Sertifikasi Profesi Defenisi : Sertifikasi Profesi adalah pengakuan "Kompetensi Kerja" seseorang di bidang tertentu berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Sertifikasi ini dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Ketiga (LSP-P3) yang independen dan terlisensi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi Republik Indonesia (BNSP RI). Tujuan : Memberikan pengakuan kompetensi profesional di berbagai sektor pekerjaan atau profesi. Menjamin tenaga kerja yang ...

MS Bulganon H. Amir: YASKUM akan Dirikan Sekolah dan Pesantren Gratis

Ir Teuku Muhammad Syamsoe Bulganon Hasbullah Amir, pendiri YASKUM . Oleh: M. Aris Kuncoro JAKARTA (wartamerdeka.info) -  Ada khabar gembira dari Yayasan Kharisma Usada Mustika (YASKUM). Lembaga yang bergerak di bidang sosial ini kini tengah bersiap-siap hendak menyelenggarakan pesantren gratis dan sekolah umum gratis, bagi warga masyarakat tidak mampu. Untuk program sekolah umum gratis ini rencananya akan dibuka dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Andi Ina: Pastikan Golkar Rumah Bagi Kader

Makassar (wartamerdeka.info) - Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari yang juga Bendahara Partai Golkar Provinsi Sulawesi Selatan menghadiri acara buka puasa dan tarwih berjamaah bersama AMPG Sulsel di Four Point Sheraton, Selasa (18/3/2025).  Selain Andi Ina, hadir Walikota Makassar, Munafri Arifuddin, Bupati Selayar, Nasir Ali, Bupati Luwu, Patahuddin, Bupati Soppeng, Suardi Haseng, Wakil Bupati Jeneponto, Islam Iskandar, dan Wakil Bupati Wajo, Baso Rahmanuddin.  Hadir pula anggota DPRD dari Fraksi Golkar Barru diantaranya, Drs. H. Syamsuddin Muhiddin, M. Si yang juga Ketua DPRD. Rusdi Cara, Herman Jaya dan Hacing.  Andi Ina mengatakan, momentum ini bukan sekadar berbagi hidangan berbuka, tetapi juga ajang memperkuat soliditas dan komitmen dalam membangun Golkar yang semakin kuat.  Tentu, katanya, pihaknya sebagai kader selalu siap mendukung setiap inisiatif yang mempererat barisan, memastikan bahwa semangat kekeluargaan dan kepedulian sosial tetap menjadi fondasi utam...