Panglima Timur, Jalan Sunyi Menuju Profesionalisme

Catatan Ulang Tahun ke-42
AKBP Ananda Fauzi Harahap
Oleh: Syam M. Djafar


Minggu, 4 Januari, tidak sekadar penanda usia bagi Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Ananda Fauzi Harahap, S.IK., MH. Hari lahir itu menjadi jeda sunyi dalam perjalanan panjang seorang perwira bukan untuk berhenti, melainkan untuk menoleh sejenak  mensyukuri tapak-tapak pengabdian yang telah dilalui, lalu melangkah kembali dengan keyakinan yang sama: profesionalisme.

Lahir di Medan, 4 Januari 1984, Ananda Fauzi Harahap tumbuh sebagai perwira yang ditempa oleh lintas daerah dan lintas tanggung jawab. Ia memulai pengabdiannya di tanah kelahiran wilayah timur Sumatra. Di Aceh, ia mengasah naluri kepemimpinan dan ketajaman intelijen menjalani tugas sebagai Kapolsek Bambel Polres Aceh Tenggara, kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai Kasat Intelkam di sejumlah wilayah: Polres Bener Meriah, Aceh Besar, Aceh Timur, Langsa, hingga Aceh Selatan.

Dari tanah Serambi Mekkah, pengabdiannya berlanjut ke Sulawesi Selatan. Di wilayah ini, namanya kian dikenal. Ia dipercaya menjadi Kasat Intelkam Polres Gowa, lalu menjalani tugas kewilayahan sebagai Kapolsek Ujung Pandang dan Kapolsek Panakkukang, dua wilayah urban dengan dinamika sosial yang menuntut ketegasan sekaligus kepekaan. 

Jalan pengabdiannya kemudian bermuara sebagai Kasat Intelkam Polrestabes Makassar, posisi strategis yang menguji ketenangan berpikir dan kematangan mengambil keputusan.


Namun Ananda tak hanya berdiri di garis depan pengamanan. Ia juga memilih jalan sunyi lain yaitu mendidik. Sebagai Tenaga Pendidik (Gadik) Madya di Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Batua Polda Sulsel, ia hadir sebagai guru polisi yang dekat dengan murid-muridnya. Bagi Ananda, membentuk karakter jauh lebih penting daripada sekadar mentransfer kewenangan. Ia menanam nilai sebelum menuntut kinerja.

Julukan “Panglima Timur” lahir dari perjalanan itu. “Panglima” adalah singkatan Perwira Angkatan 2005—angkatan Akademi Kepolisian tempat ia ditempa serta jejaknya sebagai Panglima Perang di Resimen Taruna. Sementara “Timur” adalah ingatan asal-usulnya dari Aceh Timur. Sebuah nama panggilan yang menyimpan sejarah, disiplin, dan kesetiaan pada akar.

Di balik seragam dan pangkat, Ananda adalah manusia yang utuh. Ia menggemari musik, hobi bernyanyi, dan mengidolakan Ada Band. Di rumah, ia adalah suami dari seorang dokter ahli, dr. Rina Elvia Lubis, M. Biomed (AMM) dan ayah bagi tiga orang anak, ruang sunyi tempat ia menata ulang energi sebelum kembali mengabdi pada negara.

Prinsip hidupnya sederhana, namun tak pernah ditawar:

“Penegakan hukum itu nomor satu. Sekali maju, tetap maju. Profesionalitas harus selalu dikedepankan.”

Prinsip itulah yang mengantarnya meraih berbagai penghargaan, termasuk piagam sebagai polisi berkinerja baik dari Kapolda Sulawesi Selatan saat itu, Irjen Pol Merdisyam, serta apresiasi dari Pemerintah Kota Makassar.

Komitmennya pada pengembangan diri pun tak pernah berhenti. Ia lulus Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Polri, sebuah capaian yang menuntut disiplin dan ketahanan mental serta menempuh pendidikan Doktor Ilmu Hukum di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Perpaduan pendidikan kedinasan dan akademik itu membentuknya sebagai perwira yang tegas dalam hukum, matang dalam pertimbangan.

Sebelum dipercaya menjabat Kapolres Barru menggantikan AKBP Dodik Susianto, S.I.K., Ananda Fauzi Harahap mengemban tugas sebagai Kasat Intelkam Polres Metro Jakarta Selatan. Dari ibu kota, ia kembali ke Sulawesi Selatan, membawa pengalaman lintas wilayah dan lintas kultur. 

Di usia ke-42, jalan pengabdian itu masih terbentang panjang. Ananda bukan hanya perwira dengan karier yang terjaga, tetapi figur Polri yang memasyarakat, dekat dengan tokoh publik, organisasi kemasyarakatan, dan berbagai elemen sipil, tanpa kehilangan marwah institusi.

Ulang tahun ini tentu bukan tentang lilin dan perayaan. Ia adalah penanda bahwa integritas, profesionalisme, dan ketulusan dalam bertugas masih relevan dan selalu menemukan jalannya.


Selamat ulang tahun Panglima Timur.

Negeri menunggu langkah-langkah pengabdian berikutnya.

Salamakki tapada salama.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama