Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

 


 


Program 100 Hari, Bupati Pak Yes Antara Gebrakan dan Safari Pencitraan

Oleh : W. Masykar

BAK bunyi iklan, kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda. Seratus hari pertama kerja dan kinerja kepala daerah (bupati, red) yang baru terpilih pada pilkada serentak 2020 kemarin terus digeber seakan kejar tayang untuk terpenuhinya harapan rakyat, seratus hari pertama kerja dan kinerja Bupati akan menentukan ribuan hari kedepannya. Program 100 hari kerja bupati Lamongan, Pak Yes misalnya, bukan saja berpacu dengan waktu untuk mewujudkan hasil yang diharapkan sehingga harus keliling hampir setiap hari, bahkan malam pun masih banyak agenda yang harus dilakukan, tapi sekaligus juga bagaimana membuat para pendukung (dan masyarakat Lamongan) merasa lega dengan kiprah kinerja 100 hari pertamanya.

Seratus hari pertama adalah waktu yang ideal karena approval ratings di masyarakat sedang tinggi-tingginya (sehingga terpilih). Tidak memiliki konflik dengan banyak pihak dan para staf akan mendukung semua program yang dicanangkan dengan harapan posisi strategis dengan membantu pemimpin baru.(Badri Munir Sukoco, Jawa Pos, 4 Maret 2021). Approval rating inilah, yang menjadi pemicu utama untuk membuat atau mewujudkan serangkaian program prioritas bisa diwujudkan. Publik, baik yang kemarin menjadi bagianya atau yang berseberangan pada kurun 100 hari pertama terus memberi dukungan dan apresiasi atas pencapaian kinerja pada kurun ini, apalagi waktu 100 hari pertama masih dalam perjalanan, publik menunggu realisasi dari janji janji kampanye yang digembar gemborkan kemarin.

Sebagai contoh, bidang infrastruktur adalah satu dari 5 program yang difokuskan dalam 100 hari kerja bupati Yuhronur Efendi.

Selain Jamula (Jalan Mulus Lamongan), Pak Yes, panggilan bupati Lamongan juga mengupayakan penanganan banjir,  salah satunya lewat rehabilitasi Bengawan Jero. Inipun masih sedang ditunggu tunggu publik Lamongan.

Kenyataan demikian, membuat bupati Yuhronur Efendi dan Wakil bupati Abdul Rouf lantas terus tekan pedal gas untuk merealisasikan visi misinya. Paling tidak, harus ada perubahan yang bisa dirasakan oleh rakyat pada momen program 100 hari pertama ini. Setidaknya kalau ini bisa terwujud, maka bunyi iklan Kesan pertama begitu menggoda, dan selanjutnya terserah anda. Akan tumbuh rasa optimisme dikalangan rakyat (masyarakat) bahwa bupati terpilih ini  tidaklah sia sia saat memberi dukungan kemarin.

Pilkada sebagai instrumen demokrasi  untuk menjaring kepala daerah, hasilnya harus dihormati seluruh institusi politik. Pada titik inilah, kepala daerah (bupati) yang terpilih harus mampu menunjukan gebrakannya pada 100 hari pertama ini, sebaliknya yang pada saat kemarin menjadi rivalnya haruslah berbesar hati memberi saran kritik yang konstruktif seraya tetap bersama sama memberi pengawasan demi kemajuan dan kemaslahatan masyarakat.

Pertanyaannya kemudian adalah sudah adakah gebrakan siginifikan yang dilakukan oleh bupati terpilih dalam perjalanan 100 hari pertama ini? Meski agak susah memberi jawaban matematis, namun setidaknya apa yang dilakukan oleh bupati Yes dan wakilnya hingga tulisan ini tayang gebrakan siginikan belum begitu nampak selain dengungan slogan "Ayo Beli Produk Lamongan", oleh karena itu, wajar jika kadang masih menjadi perbincangan dalam 100 hari pertama ini, Bupati Yes tengah melakukan gebrakan, atau cuma sekedar memenuhi safari pencitraan demi meredam timbulnya konflik dengan organisasi politik atau ormas yang kemarin berseberangan? Ya, terserah anda! (W. Masykar)

Posting Komentar untuk "Program 100 Hari, Bupati Pak Yes Antara Gebrakan dan Safari Pencitraan"