Mendobrak Benteng Mafioso Cikeas


Ol
eh
: Saiful Huda Ems (SHE)

(Lawyer dan Pemerhati Politik)

Apa yang pernah saya tulis dan katakan di bulan-bulan lalu yang telah lewat seolah kian hari kian menunjukkan tanda-tanda kebenarannya, bahwa di masa kepemimpinan SBY telah banyak terjadi manipulasi hukum dan politik yang menampilkan aktor utama dan korban-korbannya. Itulah mengapa di masa kepemimpinan SBY nyaris tidak ada oposisi pemerintah, dan yang ada adalah pertentangan sesama elit politik belaka. Ini dikarenakan SBY mahir meredam amarah rakyat yang sifatnya jangka pendek namun berbahaya untuk jangka panjang, sedangkan di sisi lain SBY telah mempolarisasi kekuatan elit untuk menyamarkan beberapa mega skandal korupsinya. 


BBM di masa kepemimpinan SBY beberapa kali dibatalkan kenaikan harganya, BLT 300 ribuan gencar dilakukan, ini merupakan stategi untuk menina bobokan rakyat, hingga rakyat saat itu banyak yang menganggap SBY pro rakyat. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah SBY sangat penakut untuk mengambil resiko dengan kebijakan yang akan dianggap banyak orang awam tidak populer, maka SBY kerap menggunakan strategi kebijakan yang populis. Seolah-olah pro rakyat, padahal sesungguhnya itu adalah kebijakan "tutup mulut", sebagai konpensasi dari beberapa mega skandal korupsi. 


Dahulu pernah saya tulis dan katakan, bahwa KPK di masa kepemimpinan SBY tak lebih daripada sekumpulan operator politik kekuasaan yang digunakan untuk mengkriminalisasikan sebagian lawan-lawan politik pribadinya. Maka jika di masa kepemimpinan Soeharto musuh-musuh politiknya di PKI kan, di masa kepemimpinan SBY musuh-musuh politiknya banyak yang dikoruptorkan. Adalah Elisabeth Susanti, mantan penasehat spiritual Cikeas, telah menyatakan bahwa, Anas Urbaningrum hanyalah korban kriminalisasi Pepo SBY. Ia telah dihubungi oleh SBY untuk turut merekayasa dan memberikan pengakuan bohong, bahwa Anas Urbaningrum telah menerima suap kasus korupsi CPNS dan Hambalang. 


Sedangkan dari pihak KPK sendiri yang kala itu diwakili oleh Abraham Samad menyatakan pada Elisabeth Susanti, bahwa KPK tidak memiliki cukup bukti untuk menjerat Anas Urbaningrum dalam berbagai kasus korupsi tsb. Namun nampaknya, SBY saat itu sangat ngotot ingin memenjarakan Anas termasuk beberapa tokoh elit politik musuh politik pribadi SBY lainnya, baik yang berada di tingkat pusat maupun daerah. Lalu SBY menggunakan operator politik lainnya yang ada di KPK kala itu, yakni di antaranya Bambang Widjojanto (BW). Akhirnya yang terjadi melalui rekayasa tangan BW, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Angelina Sondagh dll. dipenjarakan, sedangkan Sang Mafioso Cikeas sendiri selamat bahkan malah tampil suci bak pahlawan. Padahal dari beberapa pengakuan para narapidana korupsi yang dokorbankan oleh Sang Mafioso Cikeas itu hampir semuanya kompak menyatakan Pepo dan Sang Pangeran Bertato merupakan aktor utama korupsi tsb. 


Dari beberapa pengakuan mantan-mantan orang terdekat SBY, dan yang pernah menduduki sebagai Sekjen DPP Partai Demokrat, serta ada juga yang pernah sebagai mantan Ketua DPR RI, memberikan kesaksian tertutup pada kami, bahwa dedengkot Mafioso Cikeas itu selain Raja Tega juga merupakan seorang manipulator ulung. Ia tak akan segan-segan mengorbankan anak buahnya sendiri demi untuk menutupi aksi kejahatannya, meskipun kami sudah sangat berkeringat untuk memajukan partai yang kini diklaim sebagai miliknya atau yang didirikannya. Ia dahulu kami anggap sebagai manusia setengah dewa karena kehebatan strategi politiknya, namun ketika seiring waktu berjalan kami melihat dari dekat, ternyata dia seorang pecundang dan manipulator yang super hebat pula. Pantas saja, kenapa banyak orang yang pernah menjadi korban tipuannya, menjadi trauma hingga akhir hayatnya. Dia memang manipulator yang sangat sadis, beranikah KPK sekarang menangkapnya? !...(SHE).


Posting Komentar untuk "Mendobrak Benteng Mafioso Cikeas"