Langsung ke konten utama

Populer

Tuhan Menyuruh Kita Lapar

MBG (Makanan Buka berGizi) (9)

Tuhan di Ujung Rindu (8)

Bupati Barru Lantik 153 Pejabat, Langkah Strategis Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik

Antara Takjil dan Takdir (7)

Memaknai Teks Proklamasi 17 Agustus 1945

Oleh : Sjahrir Tamsi, Tomakaka Jambu Arajang Binuang Mandar
Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat

Dokumen Teks Proklamasi yang dibacakan Atas Nama Bangsa Indonesia : Soekarno Hatta sebagai berikut : 

"Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja."

Memaknai Teks Proklamasi, 17 Agustus 1945 di atas, sebagai momentum yang bernuansa Politis. 

Sebuah dokumen sejarah yang sangat menohok mata dunia bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab maka penjajahan di atas dunia ini haruslah dihapuskan.

Kemerdekaan yang diraih Republik Indonesia ini adalah berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, dan didorong oleh keinginan yang luhur pastinya keinginan seluruh rakyat DINASTI RAJA Diraja se-Nusantara.

Bahwa Perjuangan para Pahlawan yang rela mengorbankan jiwa raganya, tiada lain sebagian besar adalah dari DINASTI, Paduka Yang Mulia, Raja, Sultan, Pangeran, Mara'dia, Karaeng, Arung, Datu dan Tomakaka se-Nusantara.

Perihal Pemindahan Kekuasaan dan lain-lain yang dimaksud adalah Kerajaan yang berdaulat ketika itu, bukan hanya kekuasaannya yang dipindahkan akan tetapi seluruh aset dan harta kekayaan Kerajaan termasuk jiwa raga Paduka Yang Mulia Raja Diraja yang berdaulat, bahkan keluarga, perangkat adat kerajaan dan warganya diminta untuk menyerahkan secara legowo, dan sukarela kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang setingkat-singkatnya. Namun faktanya sejak Republik Indonesia diproklamirkan atas nama bangsa Indonesia: Soekarno-Hatta, sekira 15 tahun kemudian barulah Kekuasaan Kerajaan yang berdaulat dan seluruh aset harta benda Kerajaan se-Nusantara dipindahkan dengan tulus dan ikhlas tanpa pamrih dalam bentuk dokumen Resmi Surat Keputusan kepada Pemerintah Republik Indonesia tercinta ini. Kecuali Daerah Istimewa Yokyakarta yang masih eksis dan berdaulat sampai sekarang dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.

Ironisnya, pada upacara perayaan dan peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus setiap tahun, Undangan kehormatan dari Pemerintah yang berkuasa di era teranyar ini, tak pernah sampai di pihak Kerajaan yang tak berdaulat lagi. 

Kalau toh ada yang menerima undangan untuk menghadiri upacara peringatan HUT Proklamasi, mereka hanya diberi tempat duduk/kursi yang tak layak dan pada posisi paling belakang atau di sudut-sudut yang tak terjangkau dari pandangan mata para pejabat yang berkuasa serta jauh dari sorotan kamera. Padahal Para Paduka Yang Mulia, Raja Diraja se-Nusantara adalah Kontributor Terbesar Berdaulatnya Republik Indonesia ini.

Sementara para mantan pejabat atau para Pejabat Pemerintah yang sedang berkuasa saat ini duduknya paling depan di kursi empuk VVIP. 

Para Paduka Yang Mulia, Raja dan Ratu serta Para Yang Mulia Perangkat/Dewan Adat yang tak Mulia lagi di mata pejabat yang berkuasa di era teranyar ini. Padahal masih banyak diantaranya yang merupakan anak dan cucu keturunan asli dari Raja Diraja sekitar wilayah kita domisili yang terabaikan.

Masih ingatkah bahwa, Paduka Yang Mulia Presiden 1 RI. Ir. Soekarno pernah mengatakan : "Jangan Lupakan Sejarah".

Referensi :
  1. Kanjeng GUSTI Mangku Alam II Adipati Arya : Ramah Tamah pada kegiatan SILATURAHMI DINASTI NUSANTARA SE-SULAWESI BARAT, Polewali, 2023;
  2. Andi Makmur Saida, anak Pahlawan Nasional "Pajonga Dg. Ngalle" : Sambutan pada Pertemuan dengan Anak Bungsu Bung Soekarno, Makassar, 2023;
  3. Andi Afrasing La Mattulada, Arajabg Binuang Mandar : Sambutan pada acara SILATURAHMI DINASTI NUSANTARA SE-SULAWESI, Polewali, 2023;
  4. H. Hasan Dalle, Dewan Adat Batetangnga, Arajang Binuang : Diskusi Lepas pada Workshop Sinergitas Pancasila, Budaya dan Agama di Boyang Kayyang, Buttu Ciping Tinambung, Polewali, 2023.
  5. Teks Pembukaan UUD 1945.

Editor : W. Masykar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Dasar antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak

Oleh : YM. Sjahrir Tamsi  Dalam dunia pendidikan, sertifikasi memiliki peran penting sebagai pengakuan resmi atas kompetensi seseorang dalam bidang tertentu. Namun, sering kali terdapat kebingungan untuk membedakan antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak.  Ketiga jenis sertifikasi ini memiliki fokus, tujuan, dan proses yang berbeda. Artikel ini membahas perbedaan mendasar di antara ketiganya berdasarkan peraturan perundang-undangan berlaku di Indonesia. 1. Sertifikasi Profesi Defenisi : Sertifikasi Profesi adalah pengakuan "Kompetensi Kerja" seseorang di bidang tertentu berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Sertifikasi ini dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Ketiga (LSP-P3) yang independen dan terlisensi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi Republik Indonesia (BNSP RI). Tujuan : Memberikan pengakuan kompetensi profesional di berbagai sektor pekerjaan atau profesi. Menjamin tenaga kerja yang ...

MS Bulganon H. Amir: YASKUM akan Dirikan Sekolah dan Pesantren Gratis

Ir Teuku Muhammad Syamsoe Bulganon Hasbullah Amir, pendiri YASKUM . Oleh: M. Aris Kuncoro JAKARTA (wartamerdeka.info) -  Ada khabar gembira dari Yayasan Kharisma Usada Mustika (YASKUM). Lembaga yang bergerak di bidang sosial ini kini tengah bersiap-siap hendak menyelenggarakan pesantren gratis dan sekolah umum gratis, bagi warga masyarakat tidak mampu. Untuk program sekolah umum gratis ini rencananya akan dibuka dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Andi Ina: Pastikan Golkar Rumah Bagi Kader

Makassar (wartamerdeka.info) - Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari yang juga Bendahara Partai Golkar Provinsi Sulawesi Selatan menghadiri acara buka puasa dan tarwih berjamaah bersama AMPG Sulsel di Four Point Sheraton, Selasa (18/3/2025).  Selain Andi Ina, hadir Walikota Makassar, Munafri Arifuddin, Bupati Selayar, Nasir Ali, Bupati Luwu, Patahuddin, Bupati Soppeng, Suardi Haseng, Wakil Bupati Jeneponto, Islam Iskandar, dan Wakil Bupati Wajo, Baso Rahmanuddin.  Hadir pula anggota DPRD dari Fraksi Golkar Barru diantaranya, Drs. H. Syamsuddin Muhiddin, M. Si yang juga Ketua DPRD. Rusdi Cara, Herman Jaya dan Hacing.  Andi Ina mengatakan, momentum ini bukan sekadar berbagi hidangan berbuka, tetapi juga ajang memperkuat soliditas dan komitmen dalam membangun Golkar yang semakin kuat.  Tentu, katanya, pihaknya sebagai kader selalu siap mendukung setiap inisiatif yang mempererat barisan, memastikan bahwa semangat kekeluargaan dan kepedulian sosial tetap menjadi fondasi utam...