Breaking News

Sebuah kapal IRGC di lepas pantai Bandar Abbas, Iran [File: Nazanin Tabatabaee/WANA via Reuters]
Profesor AS menggugat universitas atas penangkapan selama protes pro-Palestina
Barbara Slavin: Trump menutupi rasa malu dengan memperpanjang gencetan senjata

// Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // Setelah gempa melanda Jepang utara, peringatan tsunami dikeluarkan lalu kemudian dicabut, namun masyarakat di berbagai wilayah harus tetap waspada terhadap potensi gempa mega. // Harga minyak mentah Brent melonjak naik lebih dari 7 persen karena Washington dan Teheran memberikan keterangan yang bertentangan mengenai negosiasi gencatan senjata. // China sejauh ini telah berhasil melewati krisis minyak bersejarah. Namun, saat Xi bersiap bertemu Trump, biaya mulai meningkat. //

Prof. Dr. Zainuddin Maliki, Siap Hadir Di WMDC edisi Ke - 4 (1)


Oleh : W. Masykar

Dikalangan pendidikan dan pendidik di Jawa Timur, nama Prof. Zainuddin Maliki tampaknya sudah tidak asing lagi. Pria yang kerap mengutip pemikiran besar ilmuwan politik sekaligus ekonomi politik, Yoshihiro Francis Fukuyama, kolumnis Amerika Serikat dari sejumlah bukunya seperti, The End of History and the Last Man (1992), bahwa penyebaran demokrasi liberal dan kapitalisme pasar bebas Barat beserta gaya hidupnya ke seluruh dunia dapat menandakan titik akhir evolusi sosial-budaya umat manusia dan menjadi bentuk terakhir dari pemerintahan manusia.

Namun dalam karya berikutnya berjudul, Trust: Social Virtues and Creation of Prosperity (1995) menyesuaikan posisi awalnya dan mengakui bahwa kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari ekonomi.

Dalam buku itu, Sosiolog Francis Fukuyama mengenalkan soal konsep trust culture (budaya saling percaya) sebagai sebuah modal sosial yang bisa mengantarkan suatu bangsa menuju kejayaan.

Zainuddin Maliki dalam salah satu Bukunya yang berjudul, "Politikus Busuk", Anggota DPR RI dari Dapil Lamongan - Gresik ini, menulis, "Praktek-praktek  kekerasan yang antara lain melibatkan elite politik semakin mendorong penyebaran ketidak percayaan  masyarakat kepada elite politik. Masyarakat tidak lagi memiliki apa yang disebut Fukuyama (Yoshihiro Francis Fukuyama, red) dengan the Trusted Leader, tokoh yang bisa dipercaya karena integritas moral, visi dan kompetensinya dalam menyelesaikan tugas yang dibebankan kepundak mereka."
Soal modal sosial inilah, masih segar dalam ingatan saya, ketika sang Profesor yang pernah menjabat Penasehat dan Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur ini, memulai berangkat menapak langkah maju ke arah Senayan sebagai Calon Legislatif (Caleg) dari Partai Amanat Nasional (PAN),  Modal Sosial menjadi bagian terpenting dan strategis yang setidaknya ikut andil memberi kekuatan moral dan mental Prof. Zainuddin Maliki. (Bersambung)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama