Pilkada Lamongan, Siapa Common enemy?

 

Oleh : W. Masykar

Mengamati perkembangan menjelang pilkada serentak khususnya di Lamongan, banyaknya kandidat bupati dan wakil bupati yang bakal bertarung dalam pemilukada 27 November 2024, bukan saja menarik perhatian publik tapi lebih dari itu, menandaskan bahwa ada apa di balik euforia ini? 

Saya lebih memilih - menggambarkan suasana banyaknya kandidat balon bupati dan wakil bupati yang mendaftar di partai politik untuk berebut ticket agar bisa berkontestasi di arena Pilkada serentak ini dengan istilah euforia.

Euforia adalah istilah medis yang menggambarkan suasana disaat seseorang lagi mengalami perasaan nyaman dan lega.

Secara etimologi, euoforia kerap dikaitkan dengan kondisi kesehatan dan kebahagiaan. Euforia berasal dari kata euphoros, kata Yunani yang berarti "sehat". Entrinya dalam kamus awal abad ke-18 menjelaskannya sebagai "pengoperasian Pengobatan yang berjalan dengan baik; yaitu, ketika Orang Sakit merasa nyaman atau lega karenanya." 

Artinya, banyaknya kader yang mendaftar untuk bertarung di pilkada Lamongan yang dari beragam profesi dan latar belakang adalah sebuah gambaran bahwa pilkada Lamongan 2024 tidak ada satu pun kandidat yang dianggap memiliki dominasi apalagi mengklaim sebagia yang paling berpengaruh. Semua kandidat memiliki kesempatan yang sama dan seimbang. Lantas apakah posisi incumbent juga dinilai sama?. 

Pertanyaan ini yang kerap menggelitik banyak benak publik. Kalau incumbent dinilai masih memiliki dominasi dan dukungan kuat, pendatang baru biasanya akan berfikir seribu kali untuk datang menantang. Setidaknya, point rasionalnya ada disitu. Incumbent dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah entri point hadirnya banyak kandidat yang bakal ikut kontestasi. Meski pada akhirnya tidak semua kandidat yang mendaftar bakal mendapat rekom dari partai politik.

Meski demikian, secara psikologi dan sosiologi politik incumbent seakan menjadi "musuh bersama" (Common enemy) dalam perhelatan pilkada 2024 ini. Sebagai musuh bersama, setidaknya sejak salah satu pejabatnya berpamitan ke Bupati Yes (incumbent) akan ikut kontestasi pemilukada 2024.

Sejak itulah, suasana politik langsung terjadi anomali. Keretakan birokrasi meski belum signifikan tapi sudah terasa, dan bahkan dipastikan akan terbelah jika mantan pejabatnya dipastikan sudah mendapat rekom dari sejumlah parpol. 

Suasana seperti ini, incumbent harus cerdik dan jeli dalam membaca sekaligus menterjemahkan suasanan "batin politik" masyarakat Lamongan. Sebab, kalau kelompok incumbent masih terlalu mengedepankan emosi dan merasa berada di atas angin, bisa jadi hasilnya akan tidak sesuai yang diharapkan. (Bersambung)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama