Bom bunuh diri menewaskan 24 orang di Pakistan // Iran memperingatkan kesiapan perang dan biaya ekonomi saat pembicaraan dengan AS tersendat // Kekeringan dan konflik mendorong 6,5 juta warga Somalia ke dalam kelaparan; anak-anak menghadapi risiko kekurangan gizi akut. // Rencana Amerika menaikkan tarif mobil Uni Eropa menjadi 25% karena Uni Eropa tidak mematuhi kesepakatan perdagangan tahun lalu yang bertarif 15%. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // DENGAN MENGIRIM DATA KONTAK, ANDA MENDUKUNG INFORMASI YANG BERKUALITAS

Persilatan Gajah Putih Antisipasi Merasuknya Teknologi Perusak Budaya Bangsa

Perkembangan teknologi semakin tak terbendung sampai merasuki kehidupan sehari-hari masyarakat yang akhirnya menjadi perhatian tokoh masyarakat, tokoh agama dan juga para budayawan karena berpotensi merusak pola hidup anak bangsa.

Seperti yang terjadi di berbagai kota, di seluruh Indonesia, kaum mudanya telah banyak terjangkit teknologi internet baik sekedar permainan (game) maupun informasi budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia. 


Hal ini juga menjadi perhatian Iskandar, sesepuh Paguron Gajah Putih di Kota Tasikmalaya, saat memghadiri acara Milangkala ke-2 Terah Karsid, Sabtu (19/07/2025) di Sambong Tengah, Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, yang mengusung tema "Ngajaga Warisan Budaya Ngarawat Paseduluran Hirup Rukun Langgeng Tur Ngaronjat".

Saat disinggung perkembangan jaman, Iskandar menyatakan, saat ini khususnya para generasi muda masih melihat sebelah mata terkait dengan kebudayaan, khususnya pencak silat.


"Ini menjadi tantangan berat bagi kami untuk melestarikan budaya khususnya kepada kaum muda melalui pencak silat," kata Iskandar, yang mengakui prihatin atas terjadinya perubahan pola pikir kaum muda. 

Dengan jaman sekarang, lanjut Ikandar, terkadang anak-anak kalah dengan sering melihat game dan lainnya. Hal ini tantangan berat bagi pihaknya yang akan terus selalu berusaha positif, apalagi melihat padepokan yang sudah banyak menginspirasi serta menciptakan ide-ide budaya.

Harapannya, acara Milangkala ke-2 Terah Karsid dapat lebih ditingkatkan agar menjadi motivasi dan pekerjaan rumah untuk menyadarkan pentingnya melestarikan budaya dari leluhur.

Seperti diketahui, Paguron Gajah Putih didirikan pada 1959  yang semula hanya beberapa pesilat kini sudah digandrungi kaum muda, kendati masih tetap dalam bimbingan para sesepuh Paguron.(Randi Yunantan)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama