Langsung ke konten utama

Populer

Tuhan Menyuruh Kita Lapar

MBG (Makanan Buka berGizi) (9)

Tuhan di Ujung Rindu (8)

Bupati Barru Lantik 153 Pejabat, Langkah Strategis Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik

Antara Takjil dan Takdir (7)

Mikrofon Mati di PBB, Prabowo Tetap Kirim Pesan Kuat untuk Palestina

Oleh : Ulul Albab
Ketua ICMI Jatim

Editor : W. Masykar

Insiden mikrofon mati saat Presiden Prabowo Subianto berpidato di Konferensi Tingkat Tinggi Solusi Dua Negara di Markas Besar PBB, Selasa (23/9), tidak mengurangi kekuatan pesan yang disampaikannya: Indonesia konsisten mendukung Palestina.

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan: “Indonesia stands firmly on the principle of peace through recognition of two states” (Indonesia berdiri teguh pada prinsip bahwa perdamaian hanya bisa tercapai melalui pengakuan dua negara). Kalimat ini, meski terpotong karena batas waktu, menjadi sorotan media internasional.

Suara yang Tidak Bisa Dimatikan
Insiden mikrofon mati dijelaskan Sekretariat PBB sebagai prosedur otomatis, karena setiap kepala negara hanya diberi waktu sekitar lima menit. Namun, bagi pengamat politik di Indonesia, insiden ini justru menimbulkan simbol baru.

“Mikrofon bisa mati, tetapi gagasan tidak pernah bisa dimatikan. Justru insiden itu mempertegas bahwa suara untuk Palestina tidak bisa disenyapkan,” kata Ulul Albab, akademisi administrasi publik sekaligus Ketua ICMI Jawa Timur.

Menurut Ulul Albab, publik melihat bahwa pidato Prabowo membawa dimensi baru diplomasi Indonesia. “Ada kesan bahwa Indonesia kini lebih proaktif. Tidak hanya bicara soal solidaritas, tapi juga siap menjadi bagian dari solusi nyata,” tambah Ulul Albab.

Respons Dunia
Pidato Prabowo berbarengan dengan pengumuman penting sejumlah negara Barat. Inggris, Kanada, dan Australia menyatakan pengakuan resmi terhadap negara Palestina. Perancis juga mengumumkan langkah serupa di forum PBB. Reuters dan Associated Press menilai ini sebagai “pergeseran historis” dalam sikap Barat.

Bagi Ulul Albab, langkah itu semakin menguatkan posisi Indonesia. “Ketika negara-negara Barat mulai bergeser, maka suara Indonesia akan semakin relevan. Pidato Prabowo kemarin menegaskan konsistensi Indonesia sejak era Presiden Soekarno hingga kini,” ujar Ulul Albab.

Kutipan Kunci yang Menggema
Selain menegaskan prinsip dua negara, Prabowo juga menyampaikan kesiapan Indonesia untuk mendukung misi perdamaian. “Indonesia is ready to contribute to peacekeeping efforts if required” (Indonesia siap berkontribusi dalam upaya penjaga perdamaian bila diperlukan).

Menurut Ulul Albab, kalimat ini penting karena menunjukkan kesiapan Indonesia bergerak lebih jauh. “Ini bukan sekadar retorika. Presiden Prabowo memberi sinyal bahwa Indonesia bisa turun langsung dalam menjaga perdamaian,” tegas Ulul Albab, ketua ICMI Jawa Timur.

Dampak di Dalam Negeri
Media internasional, termasuk Middle East Monitor, menyoroti gaya Prabowo yang dianggap lugas dan jujur. Sementara di Indonesia, wacana seputar insiden mikrofon mati justru menjadi bahan diskusi hangat.

“Publik kita penasaran. Apakah insiden itu kebetulan teknis atau ada pesan politis? Apa pun jawabannya, yang jelas pidato Presiden Prabowo sudah terekam dalam sejarah. Dan sebagai bangsa, kita patut bangga,” kata Ulul Albab, akademisi administrasi publik sekaligus Ketua ICMI Jawa Timur.

Analisis
Bagi Ulul Albab, pesan utama dari peristiwa ini adalah konsistensi. “Sejak dulu, Indonesia menolak penjajahan dalam bentuk apa pun. Dukungan kepada Palestina adalah amanat konstitusi. Prabowo hanya mengulang dengan bahasa yang lebih segar dan konteks yang lebih berani,” ujarnya.

Ulul Albab menilai, jika tren pengakuan Palestina oleh negara-negara Barat terus berlanjut, maka pidato Prabowo akan dilihat sebagai bagian dari momentum global itu. “Sejarah akan mencatat, meski mikrofon sempat dimatikan, suara Indonesia untuk Palestina tetap terdengar lantang,” pungkas Ulul Albab.

Penutup Reflektif
Bagi Indonesia, momen ini bukan sekadar diplomasi seremonial. Seperti ditegaskan Ulul Albab, akademisi administrasi publik dan Ketua ICMI Jawa Timur, pidato Prabowo menunjukkan arah baru: Indonesia ingin lebih didengar dalam percaturan global. “Jika suara moral bisa diubah menjadi langkah politik, maka Indonesia berpeluang tampil sebagai juru damai yang kredibel di panggung internasional. Itu jauh lebih penting daripada perdebatan soal mikrofon mati,” katanya.(*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Dasar antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak

Oleh : YM. Sjahrir Tamsi  Dalam dunia pendidikan, sertifikasi memiliki peran penting sebagai pengakuan resmi atas kompetensi seseorang dalam bidang tertentu. Namun, sering kali terdapat kebingungan untuk membedakan antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak.  Ketiga jenis sertifikasi ini memiliki fokus, tujuan, dan proses yang berbeda. Artikel ini membahas perbedaan mendasar di antara ketiganya berdasarkan peraturan perundang-undangan berlaku di Indonesia. 1. Sertifikasi Profesi Defenisi : Sertifikasi Profesi adalah pengakuan "Kompetensi Kerja" seseorang di bidang tertentu berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Sertifikasi ini dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Ketiga (LSP-P3) yang independen dan terlisensi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi Republik Indonesia (BNSP RI). Tujuan : Memberikan pengakuan kompetensi profesional di berbagai sektor pekerjaan atau profesi. Menjamin tenaga kerja yang ...

MS Bulganon H. Amir: YASKUM akan Dirikan Sekolah dan Pesantren Gratis

Ir Teuku Muhammad Syamsoe Bulganon Hasbullah Amir, pendiri YASKUM . Oleh: M. Aris Kuncoro JAKARTA (wartamerdeka.info) -  Ada khabar gembira dari Yayasan Kharisma Usada Mustika (YASKUM). Lembaga yang bergerak di bidang sosial ini kini tengah bersiap-siap hendak menyelenggarakan pesantren gratis dan sekolah umum gratis, bagi warga masyarakat tidak mampu. Untuk program sekolah umum gratis ini rencananya akan dibuka dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Andi Ina: Pastikan Golkar Rumah Bagi Kader

Makassar (wartamerdeka.info) - Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari yang juga Bendahara Partai Golkar Provinsi Sulawesi Selatan menghadiri acara buka puasa dan tarwih berjamaah bersama AMPG Sulsel di Four Point Sheraton, Selasa (18/3/2025).  Selain Andi Ina, hadir Walikota Makassar, Munafri Arifuddin, Bupati Selayar, Nasir Ali, Bupati Luwu, Patahuddin, Bupati Soppeng, Suardi Haseng, Wakil Bupati Jeneponto, Islam Iskandar, dan Wakil Bupati Wajo, Baso Rahmanuddin.  Hadir pula anggota DPRD dari Fraksi Golkar Barru diantaranya, Drs. H. Syamsuddin Muhiddin, M. Si yang juga Ketua DPRD. Rusdi Cara, Herman Jaya dan Hacing.  Andi Ina mengatakan, momentum ini bukan sekadar berbagi hidangan berbuka, tetapi juga ajang memperkuat soliditas dan komitmen dalam membangun Golkar yang semakin kuat.  Tentu, katanya, pihaknya sebagai kader selalu siap mendukung setiap inisiatif yang mempererat barisan, memastikan bahwa semangat kekeluargaan dan kepedulian sosial tetap menjadi fondasi utam...