Krisis kelaparan di Somalia memburuk karena kekeringan menyebabkan lebih dari 500.000 orang mengungsi. // UEA telah mengumumkan akan meninggalkan OPEC pada hari Jumat, mengakhiri hampir 60 tahun keanggotaannya dalam kartel penghasil minyak. // Kebakaran hutan di Prefektur Iwate, Jepang, meluas ke arah pusat kota. // Setelah gempa melanda Jepang utara, peringatan tsunami dikeluarkan lalu kemudian dicabut, namun masyarakat di berbagai wilayah harus tetap waspada terhadap potensi gempa mega. // Harga minyak mentah Brent melonjak naik lebih dari 7 persen karena Washington dan Teheran memberikan keterangan yang bertentangan mengenai negosiasi gencatan senjata. //

Breaking News

Berita Foto

Cinque Terre

Hawa Moalim, 33 tahun, duduk bersama anak-anaknya di kamp pengungsi Wayamo di Baidoa, negara bagian Somalia Barat Daya, setelah melarikan diri dari wilayah Bakool ketika kekeringan menghancurkan mata pencahariannya. Ia memulai perjalanan dengan enam anak dan beberapa kambing yang selamat, tetapi hewan-hewan itu mati di sepanjang jalan, sehingga keluarga tersebut tidak memiliki apa pun ketika mereka tiba dua minggu lalu. [Abdulkadir Mohamed/NRC]

Solar Nelayan Langka! - Muchlisin Amar, "Anggota Dewan jangan diam, pura-pura tidak dengar!

Lamongan, wartamerdeka.info, - Kelangkaan (BBM) jenis solar dalam beberapa bulan terakhir ini, tidak hanya berdampak pada pendapatan nelayan, sekaligus memicu tekanan sosial yang besa. Selain akan mengakibatkan aktivitas melaut terhambat, sementara sebagian besar masyarakat di wilayah pesisir Lamongan menggantungkan hidup dari sektor perikanan. Mencermati kelangkaan solar yang sudah berlangsung cukup lama ini, yang jelas berdampak langsung terhadap perekonomian nelayan, terutama nelayan harian yang menggunakan armada dibawah 5 groston ( 5 GT).

Bisa terjadi sehari melaut dua hari libur. Atau  kalaupun dapat solar harganya pasti melangit, bukan harga subsidi tapi lebih mahal. Bahkan tidak jarang untuk bisa mendapatkan solar harus menempuh 20km hingga 30 km.
Muchlisin Amar, Penasehat KAHMI Lamongan mengungkapkan bahwa kelangkaan BBM jenis solar untuk nelayan adalah kenyataan yang harus di hadapi nelayan kecil di wilayaj pantura kota Soto ini.
"Kondisi seperti ini pastinya akan menyebabkan penurunan drajat kesejahteraan masyarakat nelayan pesisir pantura Lamongan," Ungkap Muchlisin Amar menyikapi kondisi darurat kelangkaan solar nelayan saat "Ngobrol Bareng" Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Lamongan dengan Ikatan Keluarga Alumni Tarbiyatut Tholabah (IKA TABAH) Kranji Paciran Lamongan, Senin (27/10/2025).
Muchlisin bahkan mendorong para anggota dewan, baik DPRD, DPR Provinsi maupun DPR RI agar meningkatkan kepekaannya dalam melihat permasalahan masyarakat, khususnya para nelayan.

"Kami sangat berharap dan memohon agar DPRD, DPR propinsi, DPR RI menggunakan Matahatinya, pikiran cerdas sehatnya, lebih care, perduli, simpati dan hadir di setiap problem masyarakat yang di wakilinya", Tandas Muchlisin Amar.Menurut dia, DPR/DPRD harusnya  mengundang pihak terkait, Dinas Perikanan, Pertamina, BPH  migas dan stakeholder lainnya agar problem kelangkaan solar untuk nelayan bisa diurai dan bisa dicarikan jalan keluarnya.

"Intinya DPRD/DPR harus lebih peduli, harus berpihak pada wong cilik, jangan diam dan pura pura tidak mendengar dan tidak mengerti," Tambah Cak Sin, panggilan Muchlisin Amar.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Ketua Umum IKA TABAH Anas Thoha berjanji  akan menyampaikan dan berkonsultasi ke Kementerian ESDM dan Komisi Xll DPR RI, terkait kelangkaan BBM ini. Karena ini merupakan jantung penggerak ekonomi masyarakat, harus segera di tangani, agar perekonomian masyarakat tidak mengalami penurunan yang berakibat menurunnya drajat kesejahteraan nelayan.

"Permasalahan ini harus segera dicarikan solusi agar secepatnya bisa terselesaikan karena persoalan ini merupakan pilar penting pembangunan ekonomi bangsa kedepan", jelas Anas Thoha.(wm)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama