Langsung ke konten utama

Populer

Tuhan Menyuruh Kita Lapar

MBG (Makanan Buka berGizi) (9)

Tuhan di Ujung Rindu (8)

Bupati Barru Lantik 153 Pejabat, Langkah Strategis Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik

Antara Takjil dan Takdir (7)

Ratu Tak Bermahkota, Bertelapak Kaki Surga

(Catatan Lepas di Hari Ibu) 
Hari Ibu selalu datang dengan gegap gempita ucapan, rangkaian bunga, dan kata-kata manis di linimasa. 
Sebagai orang yang sehari-hari bergelut di ruang komunikasi publik, saya paham betul bahwa momentum memang penting. Ia mengingatkan, mengetuk kesadaran, dan mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas.

Namun lepas Hari Ibu, justru di situlah ujian empati dimulai. Ibu tidak hidup dari seremonial. Ia hadir dalam sunyi saat dapur masih beraroma subuh, saat lelah tak sempat dikeluhkan, saat doa dilafalkan pelan agar anaknya tak merasa terbebani. 

Cinta ibu tak pernah dirilis dalam konferensi pers, tak pula menunggu sorotan kamera. Ia bekerja dalam diam, tapi dampaknya menghidupi banyak hal.

Sebagai penulis, saya belajar bahwa kata-kata paling kuat sering lahir dari kejujuran. Dan sebagai praktisi humas, saya percaya komunikasi terbaik bukan sekadar terdengar, tapi terasa. 

Di situlah ibu mengajarkan kita bahwa perhatian kecil, sapaan tulus, dan kehadiran yang konsisten jauh lebih bermakna daripada kalimat indah yang sesekali diucapkan.

Lepas Hari Ibu, mari jujur pada diri sendiri. Sudahkah kita benar-benar mendengar ibu bukan sekadar mendengar suaranya, tapi memahami kegelisahannya?. Sudahkah kita menjadi anak yang menenangkan, bukan justru menambah beban pikirannya?. 

Dalam keyakinan kita, ridha Tuhan berkelindan dengan ridha ibu. Maka setiap langkah hidup seharusnya berpijak pada adab kepada orang tua. Jika ibu masih ada, jangan menunda perhatian. Jika ibu telah berpulang, jangan pernah menunda doa. Sebab cinta ibu tak lekang oleh waktu. Ia hanya berubah bentuk menjadi kenangan yang menguatkan dan doa yang menyelamatkan.

Lepas Hari Ibu, semoga kita tak hanya pandai berkata, tapi juga setia berbuat.

Karena pada akhirnya, kemanusiaan kita paling jujur tercermin dari cara kita memperlakukan ibu.

Dan secara pribadi, izinkan saya menutup catatan ini dengan suara yang paling pelan namun paling dalam.

Selamat Hari Ibu untuk ibuku tercinta, yang telah lebih dulu berpulang.

Tak ada lagi tangan yang bisa kugenggam, tak ada lagi suara yang menyebut namaku dengan nada paling tenang. Namun kehadiranmu tak pernah benar-benar pergi. Engkau hidup dalam caraku berpikir, dalam caraku menahan marah, dalam caraku memilih kata agar tak melukai orang lain.

Hari Ibu kini tidak lagi tentang perayaan, melainkan tentang rindu yang kutitipkan dalam doa. Tentang nama yang kusebut diam-diam di setiap sujud. Tentang keyakinan bahwa kasih seorang ibu tidak terputus oleh jarak antara bumi dan langit.

Ibu, terima kasih telah menjadi rumah pertama dan pelajaran paling panjang dalam hidupku. Semoga Allah melapangkan kuburmu, menerima seluruh baktimu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Selamat Hari Ibu, Ibu adalah Ratu yang tidak berhahkota namun bertelapak kaki surga. Doaku selalu menyusulmu.

Syam M. Djafar. 

Mangganjeng, 22 Desember 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Dasar antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak

Oleh : YM. Sjahrir Tamsi  Dalam dunia pendidikan, sertifikasi memiliki peran penting sebagai pengakuan resmi atas kompetensi seseorang dalam bidang tertentu. Namun, sering kali terdapat kebingungan untuk membedakan antara Sertifikasi Profesi, Sertifikasi Pendidik, dan Sertifikasi Guru Penggerak.  Ketiga jenis sertifikasi ini memiliki fokus, tujuan, dan proses yang berbeda. Artikel ini membahas perbedaan mendasar di antara ketiganya berdasarkan peraturan perundang-undangan berlaku di Indonesia. 1. Sertifikasi Profesi Defenisi : Sertifikasi Profesi adalah pengakuan "Kompetensi Kerja" seseorang di bidang tertentu berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Sertifikasi ini dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Ketiga (LSP-P3) yang independen dan terlisensi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi Republik Indonesia (BNSP RI). Tujuan : Memberikan pengakuan kompetensi profesional di berbagai sektor pekerjaan atau profesi. Menjamin tenaga kerja yang ...

MS Bulganon H. Amir: YASKUM akan Dirikan Sekolah dan Pesantren Gratis

Ir Teuku Muhammad Syamsoe Bulganon Hasbullah Amir, pendiri YASKUM . Oleh: M. Aris Kuncoro JAKARTA (wartamerdeka.info) -  Ada khabar gembira dari Yayasan Kharisma Usada Mustika (YASKUM). Lembaga yang bergerak di bidang sosial ini kini tengah bersiap-siap hendak menyelenggarakan pesantren gratis dan sekolah umum gratis, bagi warga masyarakat tidak mampu. Untuk program sekolah umum gratis ini rencananya akan dibuka dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Andi Ina: Pastikan Golkar Rumah Bagi Kader

Makassar (wartamerdeka.info) - Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari yang juga Bendahara Partai Golkar Provinsi Sulawesi Selatan menghadiri acara buka puasa dan tarwih berjamaah bersama AMPG Sulsel di Four Point Sheraton, Selasa (18/3/2025).  Selain Andi Ina, hadir Walikota Makassar, Munafri Arifuddin, Bupati Selayar, Nasir Ali, Bupati Luwu, Patahuddin, Bupati Soppeng, Suardi Haseng, Wakil Bupati Jeneponto, Islam Iskandar, dan Wakil Bupati Wajo, Baso Rahmanuddin.  Hadir pula anggota DPRD dari Fraksi Golkar Barru diantaranya, Drs. H. Syamsuddin Muhiddin, M. Si yang juga Ketua DPRD. Rusdi Cara, Herman Jaya dan Hacing.  Andi Ina mengatakan, momentum ini bukan sekadar berbagi hidangan berbuka, tetapi juga ajang memperkuat soliditas dan komitmen dalam membangun Golkar yang semakin kuat.  Tentu, katanya, pihaknya sebagai kader selalu siap mendukung setiap inisiatif yang mempererat barisan, memastikan bahwa semangat kekeluargaan dan kepedulian sosial tetap menjadi fondasi utam...