Ironi Imsak (5)

Oleh: Kamaruddin Hasan

Setiap Ramadan, ada satu kata yang mendadak terasa sangat sakral: *Imsak*. Ia tercetak tebal di jadwal masjid, dibagikan berantai di grup keluarga, dan menjadi alarm paling menegangkan di ponsel. Begitu jam menunjukkan imsak, sendok berhenti di udara, gelas diturunkan perlahan, dan wajah berubah serius. Seakan-akan lewat satu menit saja, seluruh bangunan puasa runtuh.

Padahal, di situlah ironi bermula.
Secara fikih, awal puasa ditandai terbitnya fajar, bukan imsak. Imsak hanyalah penanda kehati-hatian ruang jeda agar kita bersiap. Tetapi dalam praktik sosial, ia sering diperlakukan seperti garis akhir. Banyak orang berhenti makan saat imsak dengan disiplin militer, namun tidak sedikit yang berbuka bahkan sebelum azan magrib selesai berkumandang.

Kita sangat takut melewati imsak, tetapi kadang tidak terlalu takut melewati batas etika.

Saya pernah menyaksikan adegan yang lucu sekaligus reflektif. Seorang sahabat memandangi jam menjelang imsak dengan konsentrasi penuh. Hitungannya presisi, seperti mengatur peluncuran satelit. Ketika alarm berbunyi, ia meletakkan sendok dengan dramatis, lalu berkata, “Aman.” Pagi harinya, di kantor, ia terlibat debat panas volume suaranya jauh melampaui standar kesabaran Ramadan. Aman dari imsak, tetapi tidak aman dari emosi.


Di situlah ironi itu menampakan wajahnya.
Imsak secara bahasa berarti menahan. Namun dalam keseharian, ia sering direduksi menjadi sekadar menahan makan dan minum. Seolah-olah puasa hanya urusan lambung, bukan laku. Kita teliti pada menit dan detik, tetapi kurang teliti pada sikap dan niat. Kita cermat pada jadwal, tetapi longgar pada akhlak.

Fakta sosial pun memperlihatkan paradoks lain. Ramadan justru sering menjadi bulan dengan konsumsi rumah tangga yang meningkat. Pasar lebih ramai, menu berbuka lebih beragam, dan meja makan lebih penuh dari biasanya. Siang hari kita berlatih menahan, sore hari kita bersiap “membalas dendam”. Imsak di pagi hari, euforia di petang hari.

Menikmati rezeki tentu bukan kesalahan. Namun ironi muncul ketika esensi menahan diri berubah menjadi sekadar menunda kenikmatan. Puasa direduksi menjadi manajemen jadwal makan.

Ironi imsak juga tampak dalam relasi kita dengan waktu. Kita hafal betul jam imsak hingga hitungan menit. Alarm disetel berlapis-lapis agar tidak terlambat berhenti makan. Tetapi tak jarang setelah itu kita kembali tidur, melewatkan salat Subuh. Imsak dijaga, sujud pertama justru tertunda.

Padahal jika direnungkan, imsak adalah metafora yang dalam. Ia adalah latihan berhenti sebelum batas yang sebenarnya tiba. Ia mengajarkan kehati-hatian, bukan ketakutan. Ia adalah fase persiapan sebelum memasuki ibadah penuh. Imsak bukan tujuan, melainkan pengingat.

Sayangnya, kita sering terjebak pada simbol, bukan substansi. Kita khawatir satu tegukan air membatalkan pahala, tetapi kurang khawatir satu kalimat kasar melukai orang lain. Kita panik pada nasi yang belum habis, tetapi santai pada amarah yang belum padam.

Puasa sejatinya menguji integritas. Bukan hanya apa yang masuk ke mulut, tetapi juga apa yang keluar darinya. Lapar hanyalah pintu masuk. Yang lebih sulit adalah menahan ego, menahan gengsi, menahan dorongan untuk selalu benar.

Mungkin yang perlu kita maknai ulang bukan sekadar jadwal imsak, tetapi “imsak moral” dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita mampu berhenti sejenak sebelum marah? Apakah kita sanggup menahan diri sebelum mengambil yang bukan hak kita? Apakah kita punya jeda sebelum keputusan keliru diambil?

Ramadan memberi kita ruang itu setiap hari. Ia menghadirkan imsak sebagai latihan kesadaran: bahwa hidup tidak selalu tentang menuruti dorongan pertama. Bahwa ada kebijaksanaan dalam jeda.

Ironi imsak akhirnya bukan soal menit dan detik, melainkan soal cara kita memahami agama. Apakah kita berhenti pada batas formal, atau melangkah menuju kedewasaan moral?

Sebab yang paling sulit ditahan bukanlah nasi di piring atau air di gelas. Yang paling sulit adalah ego di dalam dada. Dan mungkin, di situlah makna imsak yang sebenarnya menunggu untuk kita temukan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama