Puasa dan Konspirasi Melawan Hasrat (4)

Oleh: Kamaruddin Hasan

Di zaman ketika diskon lebih ditunggu daripada diskursus, dan notifikasi lebih ditaati daripada nurani, puasa hadir seperti oposisi sunyi. Ia tidak berteriak, tidak menggalang massa, tidak membuat manifesto. Namun diam-diam, ia melakukan sesuatu yang jauh lebih radikal: menggugat hasrat.

Puasa adalah konspirasi elegan antara langit dan jiwa persekutuan rahasia untuk menggulingkan tirani “aku ingin”. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai takwa. Takwa bukan sekadar kesalehan ritual, melainkan kapasitas mengendalikan diri. Di situlah inti konspirasinya: puasa melatih manusia untuk tidak tunduk pada dorongan paling dasar sekalipun lapar dan dahaga.

Dalam perspektif psikologi modern, disiplin ini berkelindan dengan teori self-control. Eksperimen “marshmallow test” yang dipopulerkan oleh Walter Mischel menunjukkan bahwa anak-anak yang mampu menunda kenikmatan sesaat cenderung memiliki ketahanan hidup dan keberhasilan sosial lebih baik di masa depan. Puasa adalah latihan kolektif menunda kenikmatan bukan lima belas menit, tetapi sebulan penuh. Ia menjadikan pengendalian diri bukan sekadar eksperimen laboratorium, melainkan praksis peradaban.

Namun puasa bukan sekadar latihan individual. Ia adalah kritik sosial terhadap budaya konsumsi. Filsuf Prancis Jean Baudrillard menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat yang tidak lagi membeli karena kebutuhan, melainkan karena citra dan simbol. Hasrat diproduksi secara massal. Iklan menciptakan lapar baru, bahkan sebelum perut benar-benar kosong.

Puasa memutus rantai produksi hasrat itu. Ia mengajarkan jarak antara keinginan dan tindakan. Ia mendidik manusia untuk berkata: tidak semua yang bisa saya miliki harus saya miliki. Dalam jarak itulah martabat dibangun.

Menariknya, puasa juga menghadirkan demokrasi biologis. Di hadapan lapar, pejabat dan petani berdiri setara. Perut tidak mengenal jabatan. Rasa dahaga tidak tunduk pada gelar akademik. Lapar menjadi bahasa universal yang meruntuhkan sekat-sekat sosial. Empati tidak lagi lahir dari teori, tetapi dari pengalaman tubuh. Kita bukan sekadar tahu bahwa kemiskinan itu ada; kita merasakannya dalam denyut lambung sendiri.

Karena itu, puasa adalah pedagogi sosial. Ia mendidik bukan hanya akal, tetapi karakter. Ia membentuk solidaritas tanpa slogan, membangun kepekaan tanpa seminar. Transformasi sejati memang selalu dimulai dari pengalaman eksistensial—dari tubuh yang belajar menahan, dari jiwa yang belajar sabar.

Di tengah budaya instan, puasa mengajarkan proses. Di tengah budaya pamer, ia mengajarkan keheningan. Bahkan dalam hadis qudsi disebutkan bahwa puasa memiliki dimensi yang sangat personal: hanya Tuhan dan pelakunya yang mengetahui kualitasnya. Ia adalah ibadah yang tidak riuh, tetapi mendalam.

Relevansinya terasa kian mendesak dalam kehidupan publik. Banyak krisis sosial dan politik berakar pada ketidakmampuan menahan hasrat hasrat berkuasa tanpa batas, hasrat memperkaya diri tanpa cukup, hasrat tampil tanpa substansi. Jika disiplin puasa dipahami sebagai etika menahan diri, maka ia sesungguhnya menawarkan fondasi moral bagi kepemimpinan dan kewargaan.

Puasa adalah revolusi tanpa darah. Ia tidak menjatuhkan rezim politik, tetapi menggulingkan rezim nafsu. Ia tidak membakar gedung, tetapi membakar ego. Setiap kali azan magrib dinanti dengan sabar, sesungguhnya manusia sedang diuji: apakah ia dikendalikan oleh jam biologisnya, atau oleh nilai yang diyakininya?

Pada akhirnya, kebebasan sejati bukanlah kemampuan melakukan apa saja, melainkan kemampuan mengatakan “tidak” kepada diri sendiri. Di sanalah manusia menemukan kemuliaannya. Bukan karena ia mampu memenuhi semua hasratnya, tetapi karena ia mampu mengaturnya.

Maka puasa adalah konspirasi yang patut dirayakan. Konspirasi melawan kerakusan yang dilegalkan, melawan ego yang dimanjakan, melawan budaya “sekarang juga”. Sebuah persekutuan sunyi yang, jika berhasil, tidak hanya melahirkan individu bertakwa, tetapi juga masyarakat yang lebih waras.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama