Tanggal 20 Februari 2026, bukan sekadar penanda genap satu tahun kepemimpinan Andi Ina Kartika Sari dan Abustan Andi Bintang sebagai Bupati dan Wakil Bupati Barru. Tanggal ini juga bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Barru ke-66, momentum refleksi sekaligus titik tolak untuk meneguhkan arah perjalanan ke depan.
Setahun lalu, kepemimpinan ini dimulai dalam situasi yang tidak ringan. Defisit anggaran sekitar Rp40 miliar membayangi langkah awal. Angka yang bagi banyak daerah mungkin cukup untuk memilih berhati-hati, bahkan menahan gerak, namun Barru memilih bergerak.
Melalui kebijakan efisiensi yang selaras dengan arah pemerintah pusat, dilakukan penataan besar-besaran. Pemotongan dana pusat sebesar Rp133 miliar serta efisiensi dana daerah lebih dari Rp30 miliar memaksa belanja daerah dirapikan, prioritas dipertajam, dan disiplin fiskal ditegakkan. Keputusan-keputusan penting diambil bukan demi popularitas, melainkan demi keberlanjutan. Setiap rupiah diuji manfaatnya, setiap program ditimbang dampaknya.
Perlahan, hasilnya mulai terlihat.
Sektor pertanian dan perkebunan tumbuh. Lahan-lahan produktif kembali digerakkan, distribusi pupuk diperkuat, dan pasar rakyat kembali bergairah. Produksi padi (Gabah Kering Giling) meningkat 21,81 persen dibanding tahun 2024. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan dari 8,31 persen pada 2024 menjadi 8 persen di 2025. Pengangguran turun dari 6,42 persen menjadi 5,07 persen. Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Barru naik menjadi 75,41 dengan status tinggi.
Capaian ini lahir dari kerja terukur di tengah tekanan fiskal yang tidak sederhana.
Di saat yang sama, komunikasi dengan pemerintah pusat terus diperkuat. Sinergi dan lobi dilakukan secara intensif dan terarah. Upaya tersebut membuahkan hasil signifikan: lebih dari Rp400 miliar dana pusat berhasil dihadirkan ke Barru untuk mendukung pembangunan infrastruktur dasar, perbaikan jalan, penguatan sektor pertanian dan perkebunan melalui bantuan bibit dan alat pertanian, serta peningkatan layanan publik.
Kepercayaan itu tidak datang begitu saja, melainkan melalui kesiapan dan keseriusan daerah dalam menata diri.
Di antara berbagai capaian tersebut, salah satu langkah paling monumental adalah hadirnya Sekolah Rakyat, program unggulan Presiden RI Prabowo Subianto yang tidak semua kabupaten mendapatkannya.
Untuk menjadi bagian dari program strategis nasional ini dibutuhkan kesiapan, komitmen, serta kemampuan membangun sinergi kuat dengan pemerintah pusat. Dan Barru menjadi salah satu daerah yang dipercaya.
Di tengah kondisi fiskal yang menantang, keberhasilan menghadirkan Sekolah Rakyat menjadi simbol kepercayaan sekaligus keberpihakan. Kepercayaan dari pemerintah pusat kepada daerah, dan keberpihakan pemerintah daerah kepada warganya, khususnya anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Sekolah Rakyat bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah jembatan harapan. Di ruang-ruang belajar itulah masa depan Barru sedang dipersiapkan. Anak-anak yang mungkin lahir dari keterbatasan ekonomi, tetapi tidak boleh dibatasi dalam cita-cita.
Di level desa dan kelurahan, pembentukan Koperasi Merah Putih turut digerakkan sebagai penguatan ekonomi kerakyatan, memastikan denyut pertumbuhan tidak hanya terasa di pusat, tetapi hingga ke akar rumput.
Satu tahun kepemimpinan A. Ina–Abustan menunjukkan bahwa krisis tidak selalu berujung pada kemunduran. Dengan tata kelola yang disiplin, koordinasi yang kuat, serta keberanian mengambil keputusan, keterbatasan justru menjadi momentum untuk melompat lebih jauh.
Di Hari Jadi Kabupaten Barru ke-66 ini dan setahun kepemimpinan Andi Ina - Abustan, pesan itu terasa semakin kuat.
Barru tidak sekadar bertahan. Tapi Barru sedang bergerak menata masa depan. (syamsu marlin)
