Dulu... pemerintah mengkampanyekan sekaligus mendorong pola hidup sehat dengan konsep 4 Sehat 5 Sempurna, menu makanan bergizi. Konsep ini kemudian diperbaharui dengan pedoman "Gizi Seimbang" atau PGS - Program Gizi Seimbang.
Empat Sehat Lima Sempurna adalah kombinasi menu makanan yang meliputi makanan pokok (karbohidrat), lauk-pauk (protein), sayuran (vitamin/mineral serat), buah-buahan (vitamin/mineral), dan disempurnakan dengan susu.
Prof. Poorwo Soedarmo, penggagas slogan "Empat Sehat Lima Sempurna" pada era 1950an menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan menu bergizi seimbang terus mendapat perhatian.
Pada tahun 1950 pemerintah telah membentuk Lembaga Makanan Rakyat (LMR) dibawah Kementerian Kesehatan yang tugasnya nyaris sama dengan Badan Gizi Nasional (BGN) yang dibentuk melalui Perpres Nomor 83 Tahun 2024.
Lembaga Makanan Rakyat kemudian menetapkan setiap 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional (HGN). Peringatan itu, untuk mengingatkan derajat kesehatan masyarakat sekaligus memperbaiki status gizi masyarakat Indonesia.
Saat itu, meskipun pemerintah tidak memberi makanan bergizi gratis, seperti program MBG ini, tapi kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan menu makanan dengan gizi seimbang cukup baik. Konsep tersebut mendapat respon baik di masyarakat, dan Prof. Poorwo Soedarmo akhirnya mendapat gelar Bapak Gizi Nasional dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) atas jasanya melahirkan slogan Empat Sehat Lima Sempurna, sekaligus orang pertama yang mendirikan Akademi Gizi Nasional.

Itu sebabnya, MBG dinilai kurang tepat karena pemberian makanan yang "bergizi" itu, justru seenaknya sendiri. Hampir setiap hari postingan menu dari SPPG yang dibagikan ke sekolah sekolah dinilai kurang layak - di Jakarta dan disejumlah daerah lainnya banyak sekolah yang menolak menerima karena dinilai menu tidak layak.
Pemberian makanan lewat program MBG melalui SPPG lantas mendapat - tidak hanya kritikan bahkan cacian. Program makan bergizi gratis lantas dianggap tidak mengedepankan nilai gizi nya, tapi gratisnya.
Kata "gratis" inilah yang kelihatan menjadikan program ini seakan berjalan seenaknya tanpa memperhatikan - apakah menu makanan yang dibagikan itu layak atau tidak.
Ini berbeda misalnya MBG di artikan Makan Bernilai Gizi yang menjadi perhatian adalah nilai gizi yang dikandung pada makanan yang dibagikan dan bukan Gratisnya.
Karena sesuatu kalau berbau gratis itu ada kecenderungan seenaknya. Padahal sesungguhnya program ini diambil dari uang rakyat, sebagian besar memangkas anggaran pendidikan yang sudah di plot 20 persen dari APBN.
Dari sini saja, program ini bukan saja terkesan dipaksakan tapi kata "Gratis" seakan mengirim sinyal bahwa makanan yang dibagikan tidak memiliki syarat syarat kesehatan. Wajar kalau kemudian banyak yang keracunan.(*)
