Oleh : Kamaruddin Hasan
Ramadan itu seperti perjalanan jauh. Di awal bulan kita berangkat dengan penuh semangat, seperti orang yang baru saja membeli sepatu lari baru. Tarawih terasa ringan, sahur terasa romantis, dan alarm jam tiga pagi terdengar seperti panggilan spiritual dari langit.
Masjid mendadak penuh. Mushaf yang setahun tidur di rak buku tiba-tiba dibangunkan dengan penuh hormat. Bahkan orang yang biasanya sulit bangun subuh, selama Ramadan bisa bangun lebih cepat daripada ayam tetangga.
Begitulah Ramadan. Ia selalu berhasil membuat manusia merasa menjadi versi terbaik dari dirinya.
Namun setiap perjalanan selalu punya ujung jalan. Dan Ramadan pun perlahan sampai di sana.
Di ujung jalan ini biasanya suasana menjadi sedikit aneh. Ada rasa haru karena Ramadan akan pergi, tapi juga ada kegelisahan kecil yang jarang diakui: apakah kita akan tetap seperti ini setelah Ramadan?
Begitulah Ramadan. Ia selalu berhasil membuat manusia merasa menjadi versi terbaik dari dirinya.
Namun setiap perjalanan selalu punya ujung jalan. Dan Ramadan pun perlahan sampai di sana.
Di ujung jalan ini biasanya suasana menjadi sedikit aneh. Ada rasa haru karena Ramadan akan pergi, tapi juga ada kegelisahan kecil yang jarang diakui: apakah kita akan tetap seperti ini setelah Ramadan?
Sebab pengalaman menunjukkan satu hal yang cukup jujur: manusia sangat saleh selama Ramadan, tapi sering amnesia spiritual setelahnya.
Selama sebulan kita menahan lapar, menahan amarah, menahan keinginan. Tapi begitu Ramadan pamit, sebagian dari kita seperti orang yang baru saja keluar dari karantina kesalehan.
Puasa selesai, kesabaran ikut libur.
Tarawih selesai, masjid kembali sepi.
Tadarus selesai, mushaf kembali jadi dekorasi rak.
Ramadan akhirnya hanya menjadi seperti program upgrade sementara. Setelah sebulan, sistem lama kembali diaktifkan.
Di sinilah sebenarnya Ramadan menghadirkan satu konsep penting yang sering kita dengar tapi jarang kita pahami dengan serius: taubat nasuha.
Taubat nasuha bukan sekadar mengatakan “astaghfirullah” dengan wajah sedikit menyesal. Itu bagian kecil saja.
Di sinilah sebenarnya Ramadan menghadirkan satu konsep penting yang sering kita dengar tapi jarang kita pahami dengan serius: taubat nasuha.
Taubat nasuha bukan sekadar mengatakan “astaghfirullah” dengan wajah sedikit menyesal. Itu bagian kecil saja.
Taubat nasuha adalah keputusan radikal untuk tidak kembali ke kebiasaan lama.
Dalam bahasa sederhana: bukan hanya berhenti sebentar dari dosa, tapi benar-benar memutus hubungan dengannya.
Masalahnya, kebiasaan lama itu seperti mantan yang terlalu sering mengirim pesan. Kita sudah bilang ingin berubah, tapi dia tetap muncul dengan berbagai alasan.
Masalahnya, kebiasaan lama itu seperti mantan yang terlalu sering mengirim pesan. Kita sudah bilang ingin berubah, tapi dia tetap muncul dengan berbagai alasan.
Kadang muncul lewat amarah yang lama kita pelihara.
Kadang muncul lewat kebiasaan bergosip yang terasa “nikmat”.
Kadang muncul lewat ego yang sulit sekali diturunkan.
Kebiasaan lama ini pintar sekali. Ia tidak datang dengan wajah menyeramkan. Ia datang dengan alasan yang terdengar masuk akal.
“Sekali saja tidak apa-apa.”
“Ini kan cuma bercanda.”
“Semua orang juga begitu.”
Akhirnya pelan-pelan kita kembali ke jalur lama. Padahal Ramadan baru saja melatih kita keluar dari jalur itu.
Sebenarnya, jika direnungkan dengan jujur, Ramadan adalah kursus intensif mengendalikan diri.
Bayangkan, selama tiga puluh hari kita berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa: menahan lapar padahal makanan ada, menahan haus padahal air tersedia.
Kalau kita mampu menahan makan dan minum dua kebutuhan paling dasar manusia seharusnya kita juga mampu menahan kebiasaan buruk yang jauh lebih kecil.
Namun di situlah misteri manusia. Kadang kita kuat menahan nasi, tapi lemah menahan emosi. Kita kuat menahan kopi, tapi lemah menahan komentar pedas di media sosial.
Sebenarnya, jika direnungkan dengan jujur, Ramadan adalah kursus intensif mengendalikan diri.
Bayangkan, selama tiga puluh hari kita berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa: menahan lapar padahal makanan ada, menahan haus padahal air tersedia.
Kalau kita mampu menahan makan dan minum dua kebutuhan paling dasar manusia seharusnya kita juga mampu menahan kebiasaan buruk yang jauh lebih kecil.
Namun di situlah misteri manusia. Kadang kita kuat menahan nasi, tapi lemah menahan emosi. Kita kuat menahan kopi, tapi lemah menahan komentar pedas di media sosial.
Padahal inti puasa bukan sekadar menahan perut, tapi melatih karakter.
Ramadan mengajarkan satu pelajaran penting: manusia sebenarnya mampu mengendalikan dirinya. Hanya saja selama ini kita terlalu sering memberi izin pada kebiasaan lama untuk terus tinggal di dalam diri kita.
Di ujung jalan Ramadan ini, kita seperti berdiri di sebuah persimpangan.
Di satu arah ada jalan lama. Jalan yang sudah sangat kita kenal: rutinitas lama, emosi lama, kesalahan lama.
Di arah lain ada jalan baru. Jalan yang lebih sunyi, tapi juga lebih jujur. Jalan orang yang benar-benar ingin berubah.
Taubat nasuha adalah keberanian memilih jalan kedua.
Ia bukan keputusan yang dramatis. Tidak selalu disertai tangisan panjang atau pidato spiritual yang megah.
Kadang taubat nasuha justru sangat sederhana.
Ia bukan keputusan yang dramatis. Tidak selalu disertai tangisan panjang atau pidato spiritual yang megah.
Kadang taubat nasuha justru sangat sederhana.
Memutuskan untuk berhenti menyakiti orang lain.
Memutuskan untuk lebih jujur pada diri sendiri.
Memutuskan untuk tidak kembali pada kebiasaan yang kita tahu merusak hati.
Perubahan besar sering dimulai dari keputusan kecil yang diulang setiap hari.
Ramadan sebenarnya sudah memberi kita modal yang cukup: latihan sabar, latihan disiplin, latihan mengendalikan diri.
Sekarang pertanyaannya tinggal satu:
Ramadan sebenarnya sudah memberi kita modal yang cukup: latihan sabar, latihan disiplin, latihan mengendalikan diri.
Sekarang pertanyaannya tinggal satu:
apakah semua latihan itu akan kita bawa pulang, atau kita tinggalkan di ujung jalan Ramadan?
Karena jika Ramadan benar-benar berhasil, ia tidak hanya membuat kita saleh selama sebulan.
Ia membuat kita sedikit berbeda setelahnya.
Ia membuat kita sedikit berbeda setelahnya.
Sedikit lebih sabar.
Sedikit lebih lembut.
Sedikit lebih jujur pada diri sendiri.
Dan mungkin itulah makna paling indah dari Ramadan di ujung jalan: bukan sekadar bulan yang selesai, tetapi manusia yang mulai berubah arah.
Tags
Opini Religi
