Setelah berbulan-bulan terjadi perselisihan politik, Kerangka Kerja Koordinasi Irak pada hari Senin menunjuk Ali al-Zaidi, seorang pengusaha jutawan, sebagai kandidat kompromi dari blok Syiah yang berkuasa untuk menjadi Perdana Menteri Irak.
![]() |
| Iraqi Prime Minister-designate Ali al-Zaidi attends the meeting of the Coordination Framework political bloc in Baghdad, Iraq, Monday, April 27, 2026 [Iraqi Presidency Office via AP] |
“Setelah mempertimbangkan nama-nama kandidat, Ali al-Zaidi dipilih sebagai kandidat dari blok Kerangka Kerja Koordinasi, sebagai blok terbesar di Dewan Perwakilan Rakyat, untuk menduduki posisi perdana menteri dan membentuk pemerintahan berikutnya,” demikian bunyi pernyataan Kerangka Kerja Koordinasi setelah pertemuan di ibu kota Baghdad.
Tak lama setelah itu, Presiden Irak Nizar Amedi menunjuk al-Zaidi yang berusia 40 tahun sebagai calon perdana menteri dan menugaskannya untuk membentuk pemerintahan, mencegah krisis konstitusional.
Pengangkatan Al-Zaidi terjadi setelah berbulan-bulan pencarian intensif untuk kandidat kompromi yang dapat diterima oleh faksi-faksi lokal dan kekuatan asing.
Mantan Presiden Nouri al-Maliki, tokoh pro-Iran yang sangat kontroversial, terpaksa mundur dari pencalonan setelah mendapat penentangan dari Presiden AS Donald Trump. Perdana Menteri yang akan segera lengser, Mohammed Shia al-Sudani, yang berkuasa melalui Kerangka Kerja Koordinasi pada tahun 2022, gagal mendapatkan dukungan untuk masa jabatan kedua. Baik Iran maupun AS memiliki hubungan dekat dengan Baghdad. (sumber: Al Jazeera)
