![]() |
| Kapal-kapal kargo di Teluk, dekat Selat Hormuz di tengah konflik AS-Israel dengan Iran [File: Stringer/Reuters] |
Setelah pengumuman oleh Iran, melalui Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Selat Hormuz terbuka untuk kapal komersial, mengundang reaksi dunia.
Arsenio Dominguez, Sekretaris Jenderal Badan Pelayaran PBB mengatakan, saat ini pihaknya sedang memverifikasi atas pengumuman pembukaan kembali Selat Hormuz dalam kepatuhannya terhadap kebebasan navigasi untuk semua kapal dagang dan jalur pelayaran yang aman.
Sementara dari pihak perusahaan pelayaran, melalui Asosiasi Pemilik Kapal Norwegia mengatakan beberapa hal perlu diklarifikasi sebelum kapal dapat melintasi selat tersebut, termasuk keberadaan ranjau, kondisi Iran, dan implementasi praktis.
“Jika langkah menuju pembukaan, ini merupakan perkembangan yang disambut baik,” kata Knut Arild Hareide, CEO asosiasi tersebut, yang mewakili 130 perusahaan dengan sekitar 1.500 kapal.
Seorang juru bicara dari Perusahaan Pelayaran Hapag-Lloyd Jerman mengatakan, pihaknya saat ini mulai menilai situasi baru dan risiko yang terlibat. Untuk saat ini, pihaknya masih menahan diri untuk tidak melewati selat tersebut.
Dalam sebuah pernyataan, Maersk Denmark mengatakan, pihaknya telah mencatat pengumuman tersebut. Keselamatan awak kapal, kapal, dan kargo pelanggan tetap menjadi prioritas. Sejak pecahnya konflik, pihaknya telah mengikuti arahan dari mitra keamanan di wilayah tersebut, dan rekomendasi sejauh ini adalah untuk menghindari transit di Selat Hormuz.
“Setiap keputusan untuk transit di selat tersebut akan didasarkan pada penilaian risiko dan pemantauan ketat terhadap situasi keamanan, dengan perkembangan terbaru juga dimasukkan dalam penilaian yang sedang berlangsung.” ujar pihak Maersk Denmark.
Pasar
Sementara pasar dunia berpandangan, harga minyak anjlok setelah pengumuman Iran bahwa jalur pelayaran untuk kapal komersial akan tetap sepenuhnya terbuka selama gencatan senjata 10 hari di Lebanon.
“Berita ini berdampak langsung pada pasar. Ini perkembangan terbesar selama gencatan senjata, dan ini memberikan harapan bahwa perang akan segera berakhir, dan rantai pasokan akan kembali normal,” kata Kathleen Brooks, Direktur riset di XTB.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengunggah di X bahwa selat tersebut dinyatakan sepenuhnya terbuka dan akan tetap terbuka selama sisa periode gencatan senjata Israel-Lebanon selama 10 hari, yang mulai berlaku Kamis malam hingga Jumat pagi.
Beberapa laporan media pemerintah Iran kemudian tampak bertentangan dengan pengumuman Araghchi, dengan seorang pejabat militer senior mengatakan kepada media pemerintah bahwa hanya kapal non-militer yang akan diizinkan untuk melintas dengan izin dari Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Kantor berita Fars, yang dekat dengan IRGC, mencatat keheningan aneh dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, badan pembuat keputusan tertinggi de facto di negara itu, karena status pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, masih belum diketahui.
Reaksi dibukanya Selat Hormuz juga muncul dari beberapa negara, seperti Inggris Raya. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menjadi tuan rumah bersama KTT tentang potensi misi militer untuk mengamankan Selat Hormuz dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris pada hari Jumat, dengan sekitar 30 hingga 40 negara berpartisipasi secara langsung dan juga melalui konferensi video.
Di sela-sela acara, Starmer dengan hati-hati menyambut berita tentang pembukaan kembali selat tersebut tetapi mengatakan bahwa hal itu harus menjadi proposal yang langgeng dan dapat diterapkan.
Dia mengatakan Inggris dan Prancis akan memimpin misi multinasional yang benar-benar damai dan defensif untuk melindungi kebebasan navigasi segera setelah kondisi memungkinkan.
Begitu juga Prancis. Berbicara setelah pertemuan tersebut, Macron mengatakan, pihaknya semua menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, segera, dan tanpa syarat oleh semua pihak.
“Kita semua menentang pembatasan atau sistem perjanjian apa pun yang pada kenyataannya akan sama dengan upaya untuk memprivatisasi selat tersebut dan, tentu saja, sistem pungutan tol apa pun,” tambahnya.
Kantor Macron mengatakan peran anggota koalisi internasional yang bekerja untuk membuka kembali selat tersebut dapat mencakup intelijen, kemampuan pembersihan ranjau, pengawal militer dan prosedur komunikasi dengan negara-negara pesisir”.
Kanselir Friedrich Merz mengatakan Jerman dapat memberikan kontribusi kemampuan pembersihan ranjau dan intelijen untuk misi internasional, tetapi membutuhkan dukungan parlemen dan dasar hukum yang aman seperti resolusi Dewan Keamanan PBB.
Ia mengatakan ingin keterlibatan AS dalam misi internasional untuk mengamankan pelayaran melalui Selat Hormuz. “Kami percaya ini akan diinginkan,” katanya.
Atas pernyataan tersebut, Trump tampaknya menolak tawaran tersebut, dengan mengatakan di media sosial bahwa ia telah menerima panggilan dari NATO, tetapi menolak bantuannya dengan tegas.
Presiden Finlandia Alexander Stubb, yang berpartisipasi dalam KTT Paris, mengatakan pada X, “Kami menyambut pengumuman Iran tentang pembukaan Selat. Namun untuk solusi jangka panjang membutuhkan diplomasi.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, pada Jumat menyambut pembukaan Selat Hormuz oleh Iran dan mengatakan itu adalah “langkah ke arah yang benar”. (sumber: Aljazeera/**)
